HKTI Minta Petani Cerdas Hadapi Fenomena La Nina

757 0

Fenomena cuaca La Nina tiga tahun beruntun atau triple-dip akan berakhir awal 2023. Fenomena La Nina ini telah ada di Indonesia sejak 2020, lalu berlanjut di 2021 hingga 2022. Ini akan memicu intensitas hujan yang melemah. Curah hujan pada 2023 berpotensi relatif lebih rendah dibanding 2022. Potensi bencana hidrometeorologi kering mulai terjadi Juni-Juli-Agustus-September sebagai antisipasi hal tersebut petani harus sudah mulai merubah tanaman yang ditanam, penyesuaian pola tanan mutlak diperlukan agar petani tidak mengalami kerugian.

Rekayasa teknologi pertanian dengan memanfaatkan jamur mekoriza juga mutlak dilakukan pada musim kemarau persediaan air tanah semakin sedikit akibat penguapan. Akibatnya kita perlu melakukan pengairan ekstra pada tanaman budidaya kita. Jamur Mikoriza dengan hifanya yang luas akan membantu akar tanaman untuk menyerap air secara optimal dengan cakupan wilayah yang luas. Tanaman yang terinfeksi mikoriza terbukti mampu bertahan dengan baik di kekeringan (musim kemarau atau lahan kering).

Ancaman lain juga mulai muncul dan menyerang di beberapa kecamatan berupa organisme pengganggu tanaman (OPT) seperti tikus dan wereng coklat, antisipasi perlu terus dilakukan dengan sentuhan teknologi yang tepat dan ramah lingkungan, faktor lainnya adalah kekompakan petani untuk melakukan gerakan pengendalian di masih masih wilayahnya.
Sudah saatnya petani lebih berdaya dan lebih aktif menerapkan teknologi yang tepat guna dan tidak terkesan ikut ikutan yang nantinya dimanfaatkan pihak pihak yang memanfaatkan ketidak tahuan petani, analisa usaha tani harus menjadi faktor utama dalam hal ini, sehingga petani terhindar dari kerugian ucap Iskhak Subagio SE selaku Ketua DPC HKTI Lumajang.
Hal lain akibat adanya serangan OPT ini juga memicu kekurangan alokasi Pupuk Subsidi, hal ini dikarenakan petani yang gagal panen akan melakukan proses tanam lagi, sehingga tidak sesuai dengan perencanaan tanamnya yang setahun hanya 3 kali tanam. Sampai dengan akhir mei 2023 sisa alokasi pupuk untuk jenis urea tinggal 16.488 Ton dan untuk jenis NPK tinggal 11.072 Ton, bicara pertanian bukan hanya menjadi tugas dari dinas Ketahanan pangan dan Pertanian saja, akan tetapi semua OPD terkait juga harus bergerak, imbuhnya 
 (ER)

Related Post