HomeJawa TimurBanyuwangiPolitik Antara Teori Dan Praktik

Politik Antara Teori Dan Praktik

BANYUWANGI – Pendapat umum yang salah dalam umpatan seperti politik itu kotor politik itu kejam politik itu menghalalkan segala cara.

Secara teoritis politik itu kegiatan yang sangat mulia. Bahkan dalam kehidupan sosial, politik itu hal yang mesti terjadi, Sunatullah. Makanya filosofi zaman dulu menyebut manusia itu sebagai ‘”Zoon Politicon”. Mahluk bersiasah, Makhluk berstrategi.

Karena ada potensi akal dalam diri manusia itu. Politik itu sunatullah hal yang tidak mungkin dihindari oleh manusia dalam bersosial. Secara sederhana tindakan politik itu adalah seni untuk Mempengaruhi, Mengajak, Mengarahkan orang lain untuk mencapai hal tertentu.

Advertisement

Dalam pandangan agama, politik itu menjadi keniscayaan karena Keteraturan, Keserasian, Kesamaan dan Kenyamanan menjadi kebutuhan setiap orang, menjadi kehidupan sosial seperti itu perlu lembaga yang bertanggung jawab, secara otomatis terbentuknya lembaga sosial kemasyarakatan itu dalam bentuk sederhana sampai bentuk yang rumit modern yang disebut negara.

Bagaimana lembaga itu dibentuk, diurus sejak itu kegiatan politik berlangsung. Jadi politik itu mulia karena bertugas mengurus lembaga sosial kemasyarakatan untuk menjamin keteraturan, keserasian, keamanan, kedamaian, dst.

Di negara kita, garis politik yang tercantum dalam UUD tahun 1945 adalah menciptakan masyarakat adil dan makmur. Cita-cita tertinggi untuk apa negara ini dibentuk.
Beda dengan politisi. Politisi itu orang yang menjalankan cita-cita politik.

Orang yang berambisi untuk meraih posisi yang bisa menjalankan cita-cita politik itu. Tentunya politisi itu pribadi yang baik. Cita-citanya sangat luhur. Yaitu ingin menjadi orang yang bisa mewujudkan terciptanya masyarakat yang teratur, damai, adil dan makmur.

“Terus mengapa ada ungkapan negatif yang priori bahwa politik itu kotor, jahat, tega, menghalalkan segala cara”….?
Sejarah telah membuktikan bahwa praktik untuk meraih cita-cita luhur itu mereka politisi harus berebut. Dari semangat berebut itulah segala cara seolah dihalalkan. Mengapa harus berebut….?

Banyak alasan kecuali karena dorongan Ediologi juga karena faktor ekonomi. Jelasnya jalan lewat karier politik itu akan cepat meraih sukses, cepat moncer dari sisi status sosial maupun apalagi ekonomi. Itulah satu di antara latar belakang mengapa politisi untuk meraih harapannya sering dengan cara apapun, pokok menang, berkuasa. Bahkan urusan moral menjadi tidak penting! Dan itu bukanlah cara saya. That is not my way. Bagi saya politik tetap suatu yang baik, mulia dan luhur. Yang busuk itu politisinya, juga bukan partainya.

Mbah Guru Rifai; pensiunan guru, politisi Partai Gerindra.
Editor : dhw_robhin

RELATED ARTICLES

Most Popular