LUMAJANG – Suatu hari melihat karapan kambing di lapangan Desa Bago Pasirian Lumajang, saat itu terlihat mendadak riuh. Bukan karena konser atau pasar malam, tapi karena ratusan kambing dari Lumajang dan Probolinggo yang siap beradu cepat di lintasan sepanjang 150 meter.
Bendera di tangan wasit baru saja turun, seketika dua kambing dilepas bersama jokinya. Derap kaki kecil beradu dengan teriakan penonton. Anak-anak naik ke pundak bapaknya, emak-emak tak mau kalah bersorak, semua mata tertuju pada garis finis. Inilah karapan kambing, hiburan rakyat yang tak lekang dimakan zaman.
Tradisi ini digelar oleh Paguyuban Peternak Kambing Lumajang. Bukan sekadar lomba, karapan kambing jadi ajang temu kangen para penggemar. “Di kandang kita saingan harga, di sini kita saudara,” seloroh Pak Misdi, peternak asal Ranuyoso yang kambingnya baru saja menang di babak penyisihan.
Berbeda dengan karapan sapi yang garang, karapan kambing justru mengundang gelak tawa. Kambing-kambing peserta tampil necis: ada yang bulunya disisir rapi, tanduknya dipoles, bahkan kukunya dicat. Sekali aba-aba bendera dikibarkan, mereka melesat. Ada yang lurus ke finis, ada juga yang tiba-tiba belok karena kaget sorakan warga. “Itu seninya. Kambing kan punya karakter. Nggak bisa dipaksa,” kata Dullah, salah satu joki senior dari Probolinggo sambil mengelus jagoannya.
Antusiasme warga pecah sejak pagi. Lapangan Bago disesaki pedagang jajanan, anak-anak berebut balon, dan bapak-bapak serius berdiskusi soal bibit kambing unggul. Bagi warga Pasirian, karapan kambing adalah Lebaran kedua. “Setahun sekali kita kumpul di sini. Hiburan murah, tapi silaturahminya mahal,” ujar Siti, warga Bago yang datang bersama tiga anaknya.
Bagi Paguyuban, karapan ini punya misi lebih besar: melestarikan budaya sekaligus mendongkrak ekonomi peternak. Kambing yang juara harganya bisa naik dua kali lipat. Selain piala penghargaan, panitia menyiapkan uang tunai jutaan rupiah bagi para pemenang. “Biar peternak semangat merawat kambingnya. Kalau kambing sehat, harga bagus, sejahtera juga peternaknya,” jelas Ketua Paguyuban Peternak Kambing Lumajang.
Menjelang sore, satu per satu juara diumumkan. Peluh dan debu lintasan dibayar tuntas dengan piala dan amplop tebal. Namun bagi sebagian besar peserta, menang-kalah urusan nomor dua. Pulang membawa cerita, pamer kambing jagoan, dan eratnya jabat tangan antarpeternak, itu yang utama.
Di Pasirian, kambing tak hanya ternak. Ia jadi pengikat warga, pemantik tawa, dan penanda bahwa tradisi masih punya tempat di tengah gempuran zaman. (bam/feature)

