
Ketua Dekranasda Dukung Talenta Muda, Pelajar SMKN 3 Kota Probolinggo Raih 3 Juara Sekaligus di Sapta Rona Pesona
MALANG,
Kreativitas generasi muda Kota Probolinggo kembali menorehkan prestasi membanggakan. Dalam ajang Sapta Rona Pesona, festival ekonomi kreatif yang digelar Bank Indonesia Perwakilan Malang, Kamis (30/7), para pelajar SMKN 3 berhasil mengukir prestasi pada kompetisi Wastranova Urban. Sebuah ajang yang mengangkat kekayaan wastra Nusantara melalui sentuhan desain busana modern.
Ketua Dekranasda Kota Probolinggo, dr. Evariani Aminuddin, hadir memberikan dukungan dan motivasi kepada para peserta dari Kota Probolinggo. Kehadirannya menjadi penyemangat bagi para pelajar yang telah melalui proses panjang, mulai dari tahap kurasi desain hingga mewujudkan karya menjadi busana yang siap ditampilkan di atas panggung.
Festival Sapta Rona Pesona berlangsung selama empat hari, mulai 30 Juli hingga 2 Agustus 2026, mengusung tema “Satu Pesona Tujuh Daerah, Menguatkan UMKM, Pariwisata melalui Digitalisasi, Keuangan Inklusif dan Syariah.” Kegiatan ini menjadi kolaborasi tujuh daerah, yakni Kota Malang, Kabupaten Malang, Kota Batu, Kabupaten Pasuruan, Kota Pasuruan, Kabupaten Probolinggo, dan Kota Probolinggo dalam satu ruang promosi potensi unggulan daerah.
Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Malang, Indra Kuspriyadi, menyampaikan bahwa tujuh daerah yang tergabung dalam Sapta Rona Pesona menunjukkan kinerja ekonomi yang menggembirakan. Pertumbuhan ekonomi di wilayah tersebut tercatat berada di atas rata-rata Provinsi Jawa Timur maupun nasional. Selain itu, perkembangan transaksi digital juga mengalami peningkatan signifikan sebagai dampak semakin luasnya pemanfaatan sistem pembayaran digital dan penguatan ekosistem ekonomi berbasis digital.
Melalui pameran UMKM, ekonomi kreatif, wastra, kriya, kuliner, kopi, hingga berbagai aktivasi digital, Sapta Rona Pesona bertujuan memperkuat ekosistem UMKM. Juga memperluas akses pasar, mendorong penggunaan pembayaran digital melalui QRIS, meningkatkan literasi keuangan inklusif dan syariah, sekaligus memperkuat daya saing produk lokal menuju pertumbuhan ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan.
Kota Probolinggo turut menampilkan produk unggulan daerah melalui Rizza Bordir, pengrajin bordir eksklusif untuk produk dekorasi rumah dan fesyen. Serta Day Art Batik, produsen batik tulis kontemporer yang juga menyediakan pelatihan membatik beserta alat dan bahan membatik.
Prestasi Kota Probolinggo dalam kompetisi Wastranova Urban pun menjadi salah satu kebanggaan tersendiri. Pada kategori Modest, Nadiya Januanita berhasil meraih Juara I, sementara Putri Amelia meraih Juara III. Keduanya merupakan siswi SMKN 3. Sedangkan pada kategori Urban, Imra Atis Saidaah, juga dari SMKN 3, berhasil meraih Juara IV.
dr. Evariani Aminuddin, menyampaikan apresiasi atas dedikasi para pelajar yang mampu membuktikan bahwa kreativitas dan budaya dapat berjalan beriringan menjadi karya yang memiliki nilai ekonomi.
“Prestasi ini menjadi bukti bahwa anak-anak muda Kota Probolinggo memiliki potensi luar biasa di bidang desain dan fashion. Mereka tidak hanya mampu menghadirkan karya yang indah secara estetika, tetapi juga memiliki nilai pakai dan nilai jual yang tinggi. Inilah semangat yang terus kami dorong, yakni melahirkan generasi kreatif yang mampu mengangkat kekayaan budaya lokal menjadi produk yang kompetitif,” ujar Dokter Eva-sapaannya.
Menurutnya, keberhasilan tersebut merupakan hasil sinergi antara sekolah, guru pembimbing, dunia usaha, dan pemerintah dalam membangun ekosistem ekonomi kreatif yang berkelanjutan.
“Dekranasda akan terus mendukung tumbuhnya industri kreatif berbasis wastra dan kriya. Kami ingin prestasi ini menjadi inspirasi bagi lebih banyak pelajar untuk berani berinovasi, mencintai budaya sendiri, sekaligus siap bersaing di tingkat yang lebih tinggi. Kreativitas anak-anak inilah yang kelak akan menjadi kekuatan ekonomi kreatif Kota Probolinggo,” tambahnya.
Sementara itu, guru pembimbing SMKN 3 Kota Probolinggo, Yoni Nilasari, menjelaskan bahwa seluruh peserta menjalani proses yang cukup panjang sebelum tampil di kompetisi.
“Persiapan dimulai dari tahap kurasi desain selama sekitar tujuh hari. Setelah desain dinyatakan lolos, para siswa membutuhkan waktu lebih dari satu bulan untuk mewujudkannya menjadi busana. Penilaian tidak hanya melihat keunikan desain, tetapi juga daya pakai, potensi nilai jual, hingga kualitas teknik jahit yang rapi dan profesional,” jelasnya.
Ia berharap keberhasilan para siswa dapat menjadi motivasi bagi teman-teman lainnya untuk terus berkarya. “Semoga prestasi ini menginspirasi lebih banyak siswa untuk mengembangkan kreativitas di bidang fesyen. Kami berharap kegiatan seperti ini terus berlanjut karena menjadi wadah yang sangat baik bagi siswa SMK untuk menunjukkan kompetensi mereka. Sesuai semangat SMK Hebat, SMK Bisa, kami ingin melahirkan desainer-desainer muda yang siap bersaing di industri kreatif,” imbuh Yoni.










