Barito Utara.Gempurnews-Dinas Kesehatan Kabupaten Barito Utara menggelar pertemuan pengelolaan program kerjasama antara Puskesmas dengan Rumah Sakit dalam pelayanan darah untuk menurunkan Angka Kematian lbu (AKI).Gelar pertemuan yang telah berlangsung di aula Dinkes Barito Utara, Sabtu 6 juli 2019.
Program kerjasama antara Puskesmas dan Rumah Sakit dalam pelayanan darah untuk menurunkan angka kematian ibu (AKI),ini diikuti 52 peserta dari 17 puskesmas yang terdiri dari kepala
puskesmas.Pengelola layanan darah dan bidang koordinator serta peserta dari RSUD Muara Teweh.
AKI di Indonesia masih tinggi walapun persalinan oleh tenaga kesehatan sudah mencapai lebih dari 80 persen. Berdasarkan Survei Demokrasi dan Kesehatan (SDKI) tahun 2012, AKI sebesar 359 per 100.000 kelahiran hidup dengan Survei Penduduk Antar Sensus (SUPAS) tahun 2015 menunjukan AKI lebih rendah dibandingkan SDKI tahun 2012 yaitu 305 per 100.000 kelahiran hidup,” kata Plt.Kadis Kesehatan Barito Utara H Siswandoyo saat membuka kegiatan tersebut.
Menurutnya, penyebab utama kematian ibu di Indonesia ini adalah yaitu pendarahan, hipertensi dalam kehamilan (HDK) gangguan sistem peredaran darah (jantung, stroke dan lain-lain) dan infeksi. “Penyebab kematian ibu terbanyak adalah akibat pendarahan sebesar 27 persen (Data rutin Direktorat Kesga tahun 2016).
“Dan salah satu upaya untuk penurunan angka kematian bagi ibu melahirkan adalah melalui pemenuhan kebutuhan darah bagi ibu melahirkan dengan komplikasi pendarahan. Hal ini membutuhkan pelayanan darah yang aman dan berkualitas serta perlu didukung dengan ketersediaan daerah sesuai kebutuhan.
Lebih lanjut dikatakannya, dengan adanya program kerjasama antara puskesmas, UTD dan Rumah Sakit dalam pelayanan darah untuk menurunkan AKI, diharapkan jumlah kantong darah dan jenis golongan darah langka dapat dipenuhi.
Pemenuhan kekuranga tersebut dapat dilakukan dengan menerapkan prinsip portabilitas,bahwa dalam pelaksanaan program kerjasama tidak mengenal batas wilayah dalam pemenuhan kebutuhan darah.Program ini pun dapat bermanfaat ganda karena darah yang telah tersedia namun tidak dipakai oleh ibu melahirkan, dapat dipakai pasien lain yang membutuhkan,”kata Siswandoyo.
Untuk mewujudkan program tersebut, perlu disusun suatu mekanisme yang baik untuk mensinkronkan supply dan demand dari darah.Mekanisme itu berupa jalinan kerjasama antara puskesmas, UPT dengan rumah sakit untuk memastikan adanya pendonor darah yang cukup untuk memenuhi kebutuhan darah. Program ini dapat di integrasikan kedalam program lain yang memiliki tujuan untuk menurunkan AKI,seperti program perencanaan persalinan dan pencegahan komplikasi (P4K) yang sudah berjalanan di puskesmas.
Penguatan P4K dilakukan melalui kerjasama antara puskesmas, UTD dan rumah sakit dalam pelayanan darah untuk menurunkan AKI dibawah regulasi pemerintah berupa Permenkes RI nomor 92 tahun 2015,” pungkasnya … (SS).

