BANDUNGĀ – Pesona “surga” tersingkap di balik pembangunan pembangkit listrik tenaga air (PLTA) Rajamandala di Cisameng, Rajamandala Kulon, Cipatat, Kabupaten Bandung Barat (KBB). Namanya Sanghyang Kenit.
Dibendungnya aliran Sungai Citarum Purba ke PLTA Rajamandala dibendung, air yang melewati Sanghyang Kenit mendangkal. Arus sungai yang deras mulai menjinak, menyisakan air sungai yang mengalir tenang di antara bebatuan purba.
Rasa gerah setelah melewati jalanan di area pertambangan Cipatat, tempat hilir mudik truk bermuatan batu berukuran besar, luruh seketika melihat alam yang asri dan air yang jernih.
Anak-anak tampak girang menyepak air di sungai berwarna toska bening itu. Di badan mereka terpasang pelampung, ada juga yang berenang dengan orang tuanya sambil mengapung di atas ban karet yang disewakan pengelola.
Di sebelah timur, tampak beberapa anak remaja asyik berfoto dengan pemandangan bebatuan yang kolosal. Sementara, pengunjung lainnya santai berbaring di atas hammock dengan semilir angin yang merayap diantara ngarai yang membentuk atap alami.
Pesona Sanghyang Kenit tak hanya di wisata airnya semata, tapi juga ada goa yang bisa dijelajahi oleh wisatawan. Goa ini semula merupakan tempat aliran sungai bawah tanah dengan reruntuhan batuan kapur.
Konon, nama Sanghyang Kenit berasal dari kata “kenit” yang berarti arus yang memutar. Versi lain menyebut, berasal dari nama domba kenit yang memiliki corak sabuk melingkar di badannya. Hewan itu dijadikan sesembahan oleh leluhur adat dan disembelih di area wisata sekarang.
Saat ini pengelolaan Sanghyang Kenit berada di tangan Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Kampung Cisameng, Rajamandala Kulon. Kehadiran PLTA Rajamandala juga memberikan energi baru untuk memutar roda ekonomi warga setempat.
Kehadiran PLTA Rajamandala yang baru beroperasi pada Mei 2019 itu menyerap tenaga kerja dari warga setempat. Di samping itu fasilitas jalan untuk menunjang wisata daerah pun dikembangkan.
PLTA ini merupakan program Renewable Energy PLN sesuai dengan Rencana Usaha Penyedia Tenaga Listrik (RUPTL) PT PLN (Persero) 2019 – 2028.
“Air yang tadinya kotor di kota Bandung, masuk ke Saguling dan di Saguling kita manfaatkan menjadi listrik yang hemat lingkungan,” ujar Komisaris Utama PT PLN, Ilya Novanti di sela kunjungannya ke PLTA Saguling di sela kunjungannya 24 Juli 2019 lalu.
PLTA Rajamandala mulai beroperasi sejak 12 Mei 2019 dengan kapasitas 47 MW. Proyek yang dimulai pada tahun 2012 ini memasok ke sistem kelistrikan Jawa – Bali melalui transmisi 150 kV Cianjur – Cigereleng.
“Untuk membangun pembangkit ini, kita mengalami tiga kali kegagalan, tapi putra putri Indonesia ini tidak menyerah dan melakukan investigasi kenapa proyek ini tidak berjalan sebagaimana mestinya, akhirnya bisa ditemukan solusinya,” kata Ilya.
Ilya pun mengatakan, selain harga Kwh yang lebih murah dan ramah lingkungan, PLTA Rajamandala juga berpotensi dijadikan objek wisata, yakni Sanghyangkenit.
“Bila lingkungannya bagus, perekonomiannya juga bagus. Mungkin di tempat lain mungkin ini bisa dijadikan percontohan tenaga listrik yang ramah lingkungan,” tutur Ilya.
Plt Dirut PT Indonesia Power M Ahsin Sidqi mengatakan, proyek ini merupakan kerja sama patungan dengan Kansai Electric Power Corp Japan (KEPCO), yakni PT Rajamandala Electric Power. Pembiayaan Pembangunan tersebut menggunakan loan dari Bank JBIC dan Mizuho. Serta dari Equity PT Indonesia Power dan KEPCO Japan. PT PLN Persero juga menggandeng perusahaan lain sebagai penjamin dari proyek ini Multilateral Investment Guarantee Agency (MIGA).
“Air yang masuk ke PLTA ini lebih jernih, karena sudah tersaring. Tailing Saguling ini memang tersohor di dunia, dan kami persembahkan listrik terbarukan untuk masyarakat di Jawa-Bali,” ujarnya. (yud)

