HomeJawa BaratMengilas Pesona Putri Tetua Adat Baduy

Mengilas Pesona Putri Tetua Adat Baduy

 

Gempurnews.com — Enam tahun yang lalu, saya bertemu dengan seorang gadis suku Baduy yang memikat batin saya. Dia bernama Mai. Wajahnya cantik rupawan. Umurnya baru 13 tahun. Rambutnya tergerai panjang. Matanya bersinar.Pakaiannya santun dengan kemeja putih panjang dan lilitan kain hitam dibawah lutut ( baju adat perempuan Baduy-red).

Saat itu dia tengah berjalan dengan membawa Bakul hasil panen ladangnya. Saya berdecak kagum melihatnya. Hati kecil saya berkata, “ Kok bisa di pedalaman terpencil ini, ada gadis jelita tanpa polesan make up, natural dan terlihat begitu cantiknya ya,” gemuruh hati saya.

Dari raut mukanya ia menunjukkan gadis yang cerdas dan tidak pemalu. Sorot matanya tajam berwibawa. Saat ditanya, “Siapa namanya?” Jawabnya selalu lembut dengan senyum merekah dibibirnya. “Mai..,” tuturnya.

Advertisement

Waktu terus berjalan. Usai sholat Ashar, saya sowan ke salah satu Tetua Adat, Ayah Mursyid. Sowan kepada Ayah Mursyid memang menjadi kebiasaan para pengunjung Suku Baduy Dalam, untuk mengetahui sejarah atau seluk beluk suku Baduy. Ayah Mursyid memang sosok yang dituakan oleh Masyarakat Baduy. Wajahnya terlihat tampan beraura. Perawakannya mirip keturunan orang timur tengah. Sosoknya kharismatik, berwibawa, bicaranya sistematis dan menunjukan intelektualitas yang tinggi, dibandingkan masyarakat Baduy lain pada umumnya, wajar jika sosok Ayah Mursyid begitu dihormati dan disegani oleh masyarakat Suku Baduy.

Satu hal pemandangan yang tidak terlewatkan dan mengagetkan saya adalah karena saya menjumpai Mai di serambi rumah Ayah Mursyid. Saya terpana. “Jadi, ternyata Mai adalah anaknya Ayah Mursyid,” batin saya. Ayah Mursyid tampan. Anaknya cantik. Ah, buah Jatuh memang tidak jauh dari pohonnya. Meskipun saya tidak sempat melihat Ibu Mursyid, tetapi memandang Ayah Mursyid dan Mai, saya sudah bisa menggambarkan betapa kecantikan Ibu Mursyid.

Usai sowan dengan Ayah Mursyid, saya pura pura menggoda Mai yang masih duduk duduk di serambi teras rumah. Mai hanya tersenyum malu-malu dan membuat saya seperti meleleh akan pesonanya. Oh Tuhan. (*)

RELATED ARTICLES

Most Popular