Atraksi Lompat Batu, Lengkapi Keindahan Destinasi Wisata Nias

879 0

 

NIAS – Di pulau Nias, Sumatera Utara, terdapat desa wisata Bawomataluo yang dalam bahasa Nias berarti bukit matahari, sesuai dengan letaknya yang dibangun di atas bukit dengan ketinggian 324 meter di atas permukaan laut semenjak berabad-abad lalu.

Di pulau ini, ada omo hada (rumah adat), tari baluse (tari perang), dan hombo batu (lompat batu) yang pernah menghiasi mata uang rupiah. Ucapan salam sehari-hari warga setempat adalah “Yaahowu”, biasanya tertulis besar di tengah gambar pejabat daerah.

Desa Bawomataluo ditinggali oleh setidaknya seribu kepala keluarga. Masyarakat di dalamnya sangat memegang teguh nilai adat istiadat dari leluhur. Beragam pusaka budaya yang dulu dimiliki oleh para leluhur masyarakat Nias masih disimpan dan dirawat dengan saksama.

Beberapa di antaranya adalah omo hada alias rumah adat tradisional terbuat dari kayu namun tanpa paku, terdapat situs megalitikum, pelestarian tari-tarian, hingga atraksi lompat batu alias hombo batu. Tidak heran, atraksi-atraksi tersebut menjadi magnet tersendiri bagi desa di atas bukit ini.

Budaya Bawomataluo secara turun-temurun dari generasi ke generasi, terus dilestarikan warga setempat. Rumah-rumah adat di dalamnya juga diturunkan ke anak cucu.

Area desa Bawomataluo merupakan tempat wisata yang dikenal dengan keindahan matahari terbit itu, saat yang tepat untuk mengambil gambar.

“Waktu terbaik untuk foto di desa ini, ya pada saat matahari terbit. Nanti kalau ada kesempatan lain, datangnya pukul 05.00 pak,” kata pemandu wisata, Frans, saat ditemui media ini.

Selain terkenal dengan atraksi lompat batu, desa ini juga terkenal dengan arsitektural, serta patung-patung kuno.

Lebih lebih ketika ada upacara adat berlangsung, sehingga bisa menyaksikan secara langsung, termasuk saat ada salah satu warga yang sedang berduka.

“Di sini juga memiliki tradisi potong babi jika tengah berkabung. Jika ada orang yang meninggal di sini, babinya ikut dipotong juga dan dibagikan ke seluruh warga desa,” kata Frans menjelaskan.

Terkait atraksi lompat batu, Frans menceritakan asal mula para pemuda di kampungnya yang berpakaian khas prajurit kerajaan, dengan warna khas Nias, yaitu merah, kuning, dan hitam melompati batu setinggi dua meter dan tebal 40 cm.

“Lompat batu bermula dari syarat pemuda desa sudah bisa ikut berperang atau belum. Dahulu perang antar-wilayah sering terjadi. Setiap wilayah biasanya dipagari dengan bambu setinggi dua meter atau lebih. Untuk bisa ikut berperang dan diterima sebagai prajurit raja, seorang pemuda harus bisa melompati bambu yang memagari wilayah lawan,” papar Frans

“Selain itu,” imbuhnya, “Pemuda yang mampu melompati batu ini dianggap telah dewasa dan matang secara fisik,” pyngkasnya. (**)

Related Post