
Gempurnews.com–Banyuwangi. Ditemui di lokasi rehab gedung sekolah SMPN 3 Muncar, Sabtu (3/10/2020). Sunyoto MS selaku ketua komite, merasa sangat kecewa dengan pengerjaan rehab kontraktual gedung sekolah yang dianggapnya asal-asalan dan tanpa prosedur yang semestinya.
“Yang jelas kami dari pihak sekolah merasa kecewa, tidak jelas CV mana yang mengerjakannya, tidak ada papan nama yang terpampang. Bahkan sampai saat ini belum ada pemberitahuan resmi dari CV terhadap sekolah maupun kepala sekolah. Hanya sebatas lisan tanpa ada pemberitahuan tertulis atau mungkin menunjukkan Surat Perintah Kerjanya (SPK).” Terang Sunyoto MS.
Selain itu Sunyoto MS yang akrab dipanggil mbah nyoto mengecam proses pengerjaan yang terkesan asal-asalan atau tidak seauai tahapan-tahapan yang semestinya.
“Kemarin sempat saya tegur, bahkan sempat saya hentikan, mengingat proses kerjanya yang asal-asalan. Pembongkaran masih dapat sekian persen, tiba-tiba material baru mau dipasang atau disulam. Seharusnya dibongkar dahulu secara total, baru material lama yang masih layak dan tidak layak dipilah dengan cermat dibawah. Tidak asal-asalan dipilah sebelah mata diatas. Ini proyek atap bangunan sekolah yang letaknya diatas kepala bukan proyek jalan yang letaknya dibawah kaki, saya bisa memaklumi bila itu proyek jalan. Resiko kerusakan tidak sebesar proyek atap bangunan sekolah. bila saja proyek atap sekolah ini dikerjakan asal-asalan, resikonya berapa nyawa anak yang akan dikorbankan.” Tegasnya.
Menurutnya, proyek yang dulunya diajukan pihak sekolah bersama komite ini memang tidak sesuai dengan harapan sekolah. Mulanya, pihak sekolah mengajukan rehab dalam bentuk swakelola. Dengan tujuan untuk mendapatkan hasil yang lebih baik. Namun realisasinya, proyek turun secara kontraktual dengan nilai diatas pengajuan pihak sekolah.
“Memang dulunya pihak sekolah yang membuat pengajuan, pengajuannya pun dalam bentuk swakelola. Karena kami percaya, pengerjaan dalam bentuk swakelola jauh lebih baik dari pada kontraktual. Bahkan dalam RAB yang kami buat, nilai anggarannya hanya sebesar 154 Juta, itupun rehab atap total dengan menggunakan kontruksi baja ringan bukan tambal sulam. Namun saat ini yang turun nilainya justru lebih besar, berkisar 157 Juta. Dengan anggaran sebesar itu seharusnya pengerjaannya akan jauh lebih baik dan kwalitas bahannya juga jauh lebih baik. Namun faktanya yang kami dapati semua serba asal-asalan.” Paparnya.
Dihadapan awak media mbah nyoto juga menunjukkan banyaknya material kayu yang afkir atau tidak layak pakai. Bahkan jenisnya yang berbeda-beda, menurutnya justru membuat kekuatan tumpunya tidak selaras, terlebih terdapat banyak retakan pada kayu dan beberapa bagian kayu yang lapuk atau dalam bahasa jawanya menyabun.
Menanggapi hal itupun pihak sekolah juga telah mencoba memberikan laporan kepada pihak konsultan maupun Dinas Pendidikan kabupaten Banyuwangi. Namun sampai saat ini belum ada tanggapan maupun tindak tegas dari pihak konsultan, maupun dinas pendidikan guna memastikan kebenaran dilapangan.
“Kami pihak sekolah sudah mencoba berkomunikasi pada konsultan terkait, bahkan kami sudah mencoba menghubungi pihak Dinas Pendidikan Banyuwangi. dari pihak dinas sendiri melalui pak anas tanggapannya hanya sebatas teguran terhadap CV, tanpa ada tindakan langsung atau turun langsung, guna memantau jalannya proses pengerjaan. Sedang dari pihak konsultan sendiri kami tidak mendapatkan tanggapan yang semestinya. Bahkan pihak konsultan terkesan menutup-nutupi keburukan pihak kontraktor. Sampai sempat saya tanya, anda bekerja untuk negara atau untuk kontraktor.?” Tembahnya.
Sampai berita ini ditulis belum ada perwakilan pihak CV yang dapat dihubungi. Bahkan belum adanya konfirmasi lebih lanjut dari dinas pendidikan kabupaten Banyuwangi. (*/Siget)

