Oleh: Agus Harimurti
Diujung sebuah desa yang masih kaya akan lahan pertanian, tumbuh subur tanaman padi yang mulai menguning, merupakan harapan penghuninya.
Disana hidup seorang yang sudah renta, akan tetapi memiliki potensi diri tentang filosofi hidup.
Lelaki berbadan kurus usia lanjut itu sehari – hari tak pernah lepas pakaian kebesaraanya, memakai baju sejenis Beskap kuno khas jawa lengkap dengan udeng blebet atau sering disebut sebagai sorban jawa.
Setiap pagi selepas sholat subuh, Beliau selalu duduk santai diteras depan rumahnya dengan Uboh Rampe Wedhang Gigit ( kopi pait dan gula jawa iris ) dan Ubi rebus, lengkap dengan seperangkat tembakau kesayangannya.
Dan yang menjadi Ciri khasnya adalah kebiasaanya merokok dengan menggunakan pipa cangklong yang konon warisan dari kakeknya yang sudah meninggal jaman pendudukan Jepang.
Karena Kebiasaan itu, orang – orang sekitar menjuluki Mbah Samiaji Sukarto dengan julukan Mbah Cangklong, karena tak pernah lepas dari Pipa Cangklongnya.
Sore itu Mbah Cangklong tengah menikmati suasana senja yang sejuk, setelah sepanjang panjang siang bumi asih diguyur hujan lumayan lebat.
Dari sudut jalan nampak Joko sawi, berjalan mendekat ke arah Mbah Cangklong, setelah dipersilahkan duduk, Jokopun mulai membuka Obrolan dengan Mbahe.
“ Mbah, apa masih sehat aja “ begitu kata pembuka joko.
Setelah menghisap dalam – dalam cangklongnya Mbah cangklong menjawab
” Yo, ko. Alhamadulillah masih seger waras, kok njanur gunung( tumben ) kamu mampir sore – sore begini, dari mana barusan “.
“ Amin kalau Mbah selalu Sehat. Nggih Mbah kebetulan tadi saya dari rumah kang Sawit dan kebetulan melihat Mbah duduk – duduk disini, jadi ya sekalian mampir gitu mbah”. Jawab Joko.
Kembali Mbah Cangklong menghisap dalam cangklongnya. Lalu sambil mengambil sepotong Ubi didepannya, Mbah menawari joko pula.
“ ayo, ko sambil makan ubi rebus dan kopi gigit ini biar ngobrolnya lebih gayeng” Mbah Cangklong sambil mendekatkan makanan kesukaannya ke hadapan Joko.
“ Mbah, apa boleh saya bertanya sedikit” tanya joko disela – sela menikmati wedhang gigit dan Ubi rebus.
Sayangnya Joko bukan perokok seperti halnya Mbah Cangklong.
“ mau tanya apa kamu,ko?” tanya Mbah Cangklong kemudian.
“ ya mbah, saya pingin tahu tentang perjalanan hidup.”
Seketika Mbah Cangklong tertawa terkekeh – kekeh mendengar pertanyaan anak muda tersebut.
“ he…he..ko…ko..pertanyaanmu itu kok ya terlalu dalam, apa kamu mau jadi budayawan,he..?”.
Walau sedikit agak malu, jokopun mengomentari ucapan Mbah Cangklong.
Mbah Cangklong memang banyak pengalaman dan paham pakem – pakem jawa kuno dan banyak warga sekitar berkunjung untuk mendengarkan cerita Mbah Cangklong, disamping itu Mbah Cangklong selain dikenal pendiam, juga dikenal sebagai orang tuanya yang arif, murah hati dan kata dan ucapannya banyak mengandung petuah – petuah, juga penampilannya yang agak Kuno dan Tutur kata yang lembut dan berwibawa, tergambar tentang kedalaman pemikiran Mbah Cangklong.
Setelah menghela nafas panjang, kembali Mbah Cangklong Berkata,
“ gini loh, ko, hal itu bisa dibilang sederhana tetapi juga Rumit, karena itu berkenaan dengan pandangan Hidup, masing – masing orang itu kan beda – beda pendapat dan pemahamannya.
Perjalanan hidup itu membawa banyak pemahaman yang sangat dalam, karena itu sedikit banyak mencoba menggali Karya ILLAHI yang Maha Karya ini, aku sendiri yo tidak terlalu banyak memahami, begitulah gambaran Mbah Cangklong yang Arif dan bijak.
Walau banyak paham tentang filosofi jawa Kuno namun tetap rendah hati sekalipun dihadapan orang yang lebih muda.
Joko Sawi mendengar itu dengan Takzim dan berhara – harap Mbah Cangklong berkenan memberi pencerahan kepadanya.
” Ya, Mbah, saya mengerti. Saya benar – benar ingin pencerahan ini karena saya tahu Mbah bisa memberi yang terbaik, dan harapan saya bisa menjadi panutan sekaligus koreksi bagi saya pribadi.” Ujar Joko Sawi
Kemudian, setelah beberapa kali menghisap Cangklongnya, Mbah Cangklong menyeruput wedhang gigit yang tersisa, lalu mulai Mbah Cangklong bertutur dengan lembut dan sedikit hati – hati dalam bertutur.
Perjalanan tak lain adalah pergeseran atau perpindahan sesuatu hal ke arah atau tempat lain, hidup dimaknai sebagai proses perputaran ekosistim Karya Illahi yang mutlak dan sangat Rahasia.
Jadi bisa dikatakan mengetahui perjalanan hidup, tak ubahnya mencoba menyelami dan mencari rahasia Hyang Maha Kuasa, sebagaimana yang sudah dipaparkan para Kaum tua , Alim , dan Ulama bahwa hidup , mati dan jodoh itu adalah takdir Illahi yang artinya hanya Allah yang Maha Kuasa yang Punya Ketentuan Mutlak.
Dimana tak satupun Insan didunia yang mampu mengubahnya.
kalau boleh di sederhanakan, perjalanan hidup itu seperti perjalanan matahari, dari awal terbit sampai pada tenggelamnya di ufuk barat, awal kelahiran anak manusia di ibaratkan awal terbitnya matahari di padi hari, siapapun akan menyambut dengan kegembiraan hangatnya sinar mentari pagi yang sinarnya penuh kehangatan dan keceriaan dan sekaligus mampu menggugah semua orang untuk memulai berkarya atau memulai aktivitas sehari – hari.
Dan ketika Matahari sudah pada puncaknya di siang hari, panas mulai menyengat bahkan menggigit, dalam wejangan Kuno, pada saat panas matahari membakar bumi, semua yang ada dimuka bumi inipun akan terdampak baik fisik maupun psikologis, ada juga yang berpendapat bahwa pada siang hari diumpamakan sebagai masa uji alam fikir atau saat – saat menentukan pilihan yang akan menentukan perjalanan berikutnya.
Disini di Ibaratkan perjalanan anak manusia sudah sampai pada masa akil balik, dimana Ia harus sudah bisa memilih dan memilah akan apa- apa yang harus dilakukan dan mempertimbangkan sebab akibat tentang perbuatan dan perilaku yang telah dipilih.
Kita mengumpamakan saat itu adalah masa kita sampai pada suatu persimpangan atau perempatan jalan, digambarkan ketika Kita sampai pada Perempatan jalan, maka Kita harus betul – betul bijak dan pandai memilih sebelum melangkah, Urai Mbah Cangklong panjang lebar.
Setelah kembali menyalakan cangklong untuk kedua kalinya, lalu menghisap dalam – dalam sekaligus menghembuskan kepulan asap layaknya Lokomotif, kembali Mbah Cangklong melanjutkan Ceritanya.
Sebagaimana perjalanan Matahari dari terbitnya sampai dengan saat tenggelam di ufuk barat, artinya perjalanan hidup kita Ibarat perjalanan matahari, proses dari lahir sampai dengan kembali kepangkuan Illahi, Kalau masa balita sampai dengan usia akil baliq di ibaratkan perjalanan matahari dari terbit sampai dengan saat puncaknya pada tengah hari, maka usia remaja tak ubahnya situasi disiang hari yang panas penuh dengan banyak kendala – kendala yang harus diperhitungkan langkah – langkah dalam bertindak.
Kita mengibaratkan masa itu adalah masa dimana kita sampai pada suatu perempatan jalan, kita datang dari arah timur ( matahari terbit ) dan tujuan akhirnya adalah Ufuk barat ( matahari terbenam ).
Hal itu gambaran perjalan dari lahir sampai dengan usia senja atau tutup usia, dan kini tiba pada persimpangan yang akan menjadi aral atau masa ujian yang berat, karena harus pandai dan cermat memilih dan memilah apa yang harus dilakukan agar sampai pada tujuan dengan baik dan benar.
Kembali Mbah Cangklong Menghisap cangklongnya, sambil sesekali menghela nafas, sementara itu joko Sawi tetap menyimak dengan tekun dengan sedikit mencoba mencerna apa yang telah dipaparkan Mbah Cangklong.
Pria pua pensiunan masinis kereta api itu memang dikenal arif dan lembut tutur katanya, yang membuat orang lain teduh mendengarnya.
Mbah Cangklong juga salah satu penggemar wayang purwo atau wayang kulit yang memang sarat filosofi.
Kembali Mbah Cangklong bertutur menjelasakan lebih lanjut, Nah, disini hendaklah kita harus hati – hati melangkah, walaupun sudah jelas arah yang akan kita tuju, adalah hal yang terpenting untuk mempertimbangkan segala kemungkinan yang akan terjadi.
Paling tidak kita harus paham membaca rambu – rambu yang ada, dan harus paham akan kemampuan kita sendiri untuk menyeberangi perempatan itu.
Jika akan melangkah ke arah barat, hendaknya memeperhatikan arah lainnya, sari arah selatan atau utara bukan tidak mungkin akan ada sesuatu hal yang menjadi penghalang dan mungkin juga merupakan hal yang bisa merugikan diri kita.
Mbah Cangklong mengibaratkan, tujuan kita melangkah dari timur kebarat, adalah perumpamaan lahir dari kebaikan dan kebenaran harus kembali kepada kebaikan akhir, yang artinya kembali ke titik akhir dengan sedikit tergores, robek, kumal atau lusuh, itu adalah hal yang wajar setelah melewati beberapa rintangan diperjalanan.( Medio Bulan Suci)

