Pandangan, Harapan dan Semangat Salah Seorang Pendiri Cobra Kota Cimahi

793 0

CIMAHI – Meski usianya tak lagi bisa dikatakan muda, namun Agus Cobra tak pernah patah semangat untuk selalu berkarya dan berbuat kebaikan.

Cobra atau kepanjangan dari Comando Baros Ranger merupakan komunitas anak jalanan yang termajinalkan.

Agus, yang membidani lahirnya komunitas tersebut pada 1 Januari 2001 lalu menceritakan, Cobra merupakan kumpulan anak-anak jalanan yang termarjinalkan.

“Namun kami berusaha untuk melakukan perubahan agar tidak dipandang sebelah mata. Kami yakin bisa berubah ke arah yang lebih baik dalam satu wadah yang dinamai Cobra,” terang Agus pada Kamis (20/10/2021).

Lebih detail, Agus juga menerangkan Comando Baros Ranger (COBRA) didirikan, dengan semboyan “Berani, Tangguh, Benar”.

Artinya, jelas Agus, ketiga aspek tersebut harus ada dalam diri setiap anggita Cibra atau yang disebut Ranger.

“Dalam kehidupan, kita harus berani, tangguh dan benar. Jika tidak benar maka hasilnya akan tidak bagus,” ujarnya.

Demikian juga apabika hanya mengandalkan keberanian dan benar, masih kata Agus, jika tidak tangguh maka akan kalah dalam persaingan.

“Meski kita Benar dan tangguh, namun tidak dibarengi keberanian, maka kita tidak akan pernah melakukan hal terbaik baik bagi diri kita,” paparnya.

Dalam perkembangannya Commando Baros Ranger juga aktif berpartisipasi dalam kegiatan sosial masyarakat bersama organisasi masyarakat lainnya.

Awal pendirian komunitas Cobra didorong oleh banyaknya lembaga atau perusahaan yang menganggap bahwa anak-anak Baros dapat menyelesaikan pekerjaan dalam hal penyelesaian pengamanan.

“Berangkat dari situlah, kami yang waktu itu ada sekitar 10 orang berhasil menyatukan Visi dan Misi untuk membentuk satu wadah yang berpayung hukum.

Kemudian, terang Agus, dia dan kawan-kawan mulai merumuskan pendirian Cobra.

“Saya bersama Untung Ardiyoga, Edi Junaedi, Ustad Didin Karyadi Ghalib, Nanang, Repot Mulyadi, Sudarsono dan beberapa orang yang tercatat dalam pendirian awal komunitas Cobra,” jelasnya.

Untuk Pembina, kata Agus, pihaknya melamar Mayor. C.Km. Khusin dari Dam III Siliwangi.

“Untuk legalitas, kami menggunakan Payung Hukum Yayasan Bhakti Siliwangi yang waktu itu diketuai Oleh Kolonel Subarkah.

Cobra mengadakan pertemuan hampir setiap minggu untuk membahas agar Cimahi menjadi wilayah Otonom.

“Kami berjuang waktu itu agar Cimahi menjadi Kota yang diharapkan bisa mengangkat keaejahteraan warganya,” ujarnya.

Kendati usaha komunitas itu terlupakan, namun dia dan kawan-kawan bangga karena eksistensinya tercatat dalam sejarah di kesbangpol.

Mengakhiri percakapannya, Agus berharap kita harus memiliki terobosan-terobosan.

“Artinya kita jangan sampai ketinggalan kereta dan harus tetap berada di tengah antara Pemerintah dan Masyarakat agar kita bisa menyuarakan aspirasi dari masyarakat,” harap Agus.

Ditambahkannya pula, selain menyuarakan aapirasi masyarakat, kita juga bisa membantu pemerintah dalam program pembangunan.

“Terakhir saya menyampaikan kepada Pemerintah, coba tolong perhatikan kami yang sudah berjuang demi berdirinya Kota Cimahi. Maaf! bukan dari sisi materi namun saat ulang tahun Cimahi seyogyanya kami yang pernah berjuang demi berdirinya Kota Cimahi, juga diundang. Jangan pernah lupakan sejarah,” pungkas Agus Cobra. (A.E.S)

Related Post