Kota Cimahi, Kamis (10/08/2023)
Kawargian Abah Alam dan Masyarakat Kota Cimahi menggelar acara peringatan Hari Masyarakat Adat Internasional di Brigif 15 Kujang II, Gedung Olahraga (GOR) Siliwangi, Gunung Bohong, Kota Cimahi. Kegiatan tersebut dihadiri oleh PJ Wali Kota Cimahi, Dikdik Suratno Nugrahawan, S.Si., M.M. pada Rabu (09/08/2023) kemarin.
Tampak hadir juga sesepuh Jawa Barat, Abah Alam, mantan Wali Kota Cimahi, Ngatiyana,Ketua Dewan Kebudayaan Kota Cimahi (DKKC), Siti Yanti Abintini, S.H., M.M.; Maestro Aksara Buhun, Yudistira Purana Sakyakirti alias Mang Ujang Laip,penulis buku Seri Gastronomi Tradisional Sunda Dr. Riadi Darwis, M.Pd., Ketua Paguyuban Sundawani DPD Kota Cimahi, Kang Ferry Rustandi Wijaya, dan Ketua Aliansi Jurnalis Media Indepenpend Indonesia (AJMII), Achmad Syafei, serta para tamu undangan lainnya.
Prosesi acara dimulai sejak pukul 09.00 WIB dengan dipandu oleh Komarudin atau akrab disapa Dinfiqram sebagai pembaca acara. Prosesi acara diawali dengan peragaan seni olahraga pencak silat dan tari tradisional kolosal dari Yayasan Paguron Pencak Silat Gadjah Putih Mega Paksi Pusaka. Kemudian berlanjut dengan prosesi rajah dan doa lintas agama.
Berikutnya adalah aksi memanah target yang dilakukan oleh para pemanah tradisional dari Komunitas Ulin Jamparing Si Jimat sebagai simbol dimulainya acara pembukaan peringatan Hari Masyarakat Adat Internasional 2023 di Kota Cimahi. Lalu disusul dengan berkumandangnya lagu kebangsaan Indonesia Raya yang dinyanyikan oleh seluruh hadirin.
Selanjutnya pembacaan teks Pancasila dan penyerahan piagam Wangsit Siliwangi kepada Abah Alam, PJ Wali Kota Cimahi, dan perwakilan dari Dinas Budaya dan Pariwisata.
Menurut Abah Alam, acara peringatan Hari Masyarakat Adat Internasional merupakan bentuk tasyakur bi nikmah atas kekayaan budaya yang diwariskan oleh leluhur bangsa Indonesia yang harus kita pupuk kembali kepada generasi-generasi selanjutnya.
Dalam kata sambutan Abah Alam yang diwakilkan kepada Rd. Ari M. Subagja menyatakan bahwa kita sebagai agen perubahan untuk penentuan nasib sendiri, “Dengan ini kami mengajak, yuk kita jaga, kita lestarikan adat dan budaya yang telah mempersatukan kita untuk saling toleransi ber-bhineka tunggal ika dalam membangun kesejahteraan Indonesia.” Ungkapnya.
PJ Wali Kota Cimahi Ajak Warga Bangun Kota Cimahi Lewat Visi CERDAS
PJ Wali Kota Cimahi, Dikdik Suratno Nugrahawan, S.Si., M.M. yang hadir dalam sesi acara pembukaan sangat mendukung kegiatan peringatan Hari Masyarakat Adat Internasional 2023 di Kota Cimahi tersebut.
“Berkenaan dengan Peringatan Hari Masyarakat Adat Internasional, tentu harus ada makna bagi kita semua sebagai bangsa Indonesia. Bagaimana Indonesia dengan keberagamannya harus bisa menyatukan semua potensi yang ada sehingga Indonesia bisa menjadi lebih baik,” ujar Didkdik dalam sambutannya.
Menurut Dikdik, kekayaan alam Indonesia itu sangat melimpah. Indonesia juga memiliki akar budaya yang berbeda-beda. Itu semua seharusnya bisa menjadi potensi bagi kita sebagai bangsa Indonesia.
“Nah, inilah yang harus kita sadari sebagai bangsa Indonesia bahwa kita ini sebetulnya bangsa yang kaya dan bukan tidak mungkin suatu saat Indonesia akan menjadi bangsa yang besar. Indonesia sudah menetapkan, ke depan Indonesia harus bisa menjadi Indonesia Emas, yaitu tepatnya ketika Indonesia merayakan satu abad kemerdekaannya yang jatuh pada tahun 2045,” ungkap Dikdik Nugraha.
PJ Wali Kota Cimahi tersebut mengajak masyarakat Indonesia untuk fokus berkontribusi dalam mewujudkan Indonesia Emas, tidak terkecuali masyarakat Kota Cimahi. Menurut Dikdik, Kota Cimahi pun memiliki keberagaman dan mengajak masyarakat tetap kompak dan tidak membuatnya bercerai berai.
“Perbedaan adalah suatu hal yang wajar dan kodarullah. Yang mana perbedaan ini harus dianggap sebagai sebuah potensi yang bisa saling melengkapi di antara kita semua. Dalam hal ini Cimahi sudah menyampaikan sebuah motto sebagai penyemangat bagi kita semua melalui ‘Cimahi Ngahiji’ yang artinya mari kita bersatu guna membangun Cimahi untuk menjadi yang terbaik,” ungkap Dikdik.
Dikdik lantas menjelaskan tentang makna dari “Ngahiji” yang merupakan singkatan dari “Ngawangun Cimahi sangkan jadi nu kahiji”.
“Kita harus bisa menunjukkan bahwa Cimahi sekalipun kota yang hanya 40,25 kilo meter persegi, tapi yang terlihat adalah kebaikan dan kebaikan,” tambah Dikdik.
Pada kesempatan tersebut Dikdik juga menyinggung tentang visi Kota Cimahi yaitu “CIMAHI CERDAS” yang merupakan singkatan dari “Creative, Egaliterian, Religious, Developable, Accreative, dan Sustainable”.
Creative yang berarti dapat berkreasi dalam bentuk aslinya serta produktif; Egalitarian yang berarti memandang kesamaan derajat manusia atau menjadi sifat dari demokratis yang saat ini sedang berkembang di negara kita;
Religious adalah sifat kota yang agamis mengamalkan Sila Ketuhanan Yang Maha Esa secara konsekuen; dan Developable diartikan sebagai kota yang berkemampuan kompetitif untuk dibangun;
Accretive diartikan sebagai kota memiliki nilai tambah untuk terus maju dan berkembang; serta Sustainable adalah tercapainya kota yang dapat mencukupi kebutuhan warganya secara berkelanjutan menjangkau lintas generasi.
“Mari kita berkontribusi, bagaimana CERDAS ini harus bisa menjadi bagian dari pri kehidupan masyarakat Cimahi karena pada dasarnya visi Cimahi adalah komitmennya orang Cimahi,” ujar Dikdik dengan penuh antusias.
Dikdik mengajak semua komponen masyarakat untuk bersama-sama membangun Kota Cimahi dengan tidak melihat perbedaan latar belakang suku, ras dan agama.
“Ketika kita merasa Cimahi adalah Kota Kita, mari kita satukan semua potensi yang ada untuk membangun Cimahi yang lebih baik. Nah, ini yang harus kita ambil makna dari peringatan Hari Masyarakat Adat Internasional,” tegas Dikdik.
Budaya Harus Dilestarikan kepada Generasi Muda Bangsa
Sementara Dwi Ratna Nurhajarini, M. Hum., dari perwakilan Kementerian Pendidikan Riset dan Teknologi, Kepala Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah IX mengatakan bahwa pihaknya bersyukur dan mengucapkan terima kasih atas kepedulian dari Kawargian Abah Alam dan semua pihak yang turut mendukung terselenggaranya kegiatan akbar peringatan Hari Masyarakat Adat Internasional 2023 tersebut.
Dwi Ratna berharap momen ini dapat dijadikan untuk meningkatkan dan menggali kembali seni dan budaya leluhur sebagai citra dari bangsa Indonesia.
“Ini menjadi konsentrasi kami. Kalau tradisi itu tidak dilestarikan, tidak ditularkan dan generasi mudanya tidak aktif maka menjadi hambatan atau masalah dalam pewarisan tradisi ini. Jadi, ada pewaris dan ada yang diwariskan dan ada yang mewarisi, tetapi ini adalah untuk terus dikembangkan oleh generasi muda itu tadi,” ungkap Dwi Ratna.
Tema yang diusung terkait acara peringatan Hari Masyarakat Adat Internasional di Kota Cimahi ini yaitu “Seni budaya dan Pameran UMKM”. Selain melibatkan banyak pelaku budaya yang menampilkan berbagai atraksi seni dan budaya, juga adanya bazar produk makanan dari pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) yang mulai menggeliat sejak berakhirnya pandemi covid-19.
“Mohon melalui Dinas Kebudayaan setempat, objek pemajuan kebudayaan yang ada di Cimahi, masyarakat adat yang ada di Cimahi berikut maestronya dan cagar budaya yang ada di Kota Cimahi teridentifikasi, kami menunggu untuk usulan penetapan nasional, kira-kira Cimahi setuju atau tidak karya budayanya jadi warisan budaya tak benda nasional?” ujar Kepala Balai Pelestarian Budaya Wilayah IX Daerah tersebut kepada para hadirin.
Menurut Dwi Ratna, pihaknya melalui Kementerian Pendidikan Riset dan Teknologi siap mendukung pemajuan kebudayaan yang ada di Kota Cimahi.
“Kami siap mendukung, menggandeng dan mengawal program-program yang berkaitan dengan budaya yang ada di nusantara ini. Sebagai warisan, apa yang diwariskan dan kita yang diwarisi akan kebudayaan harus kita lestarikan,” ujar Dwi Ratna yang ditutup dengan sebuah pantun.
Acara dilanjutkan dengan parade adat budaya nusantara yang dilaksanakan oleh warga masyarakat Kota Cimahi dan sebelum adzan Zuhur berkumandang para tamu undangan dan hadirin keliling mengunjungi stand potensi masyarakat berupa bazar produk UMKM warga Cimahi.
Achmad $
