LUMAJANG – Harga plastik di Lumajang, Jawa Timur, mengalami kenaikan drastis, bahkan mencapai dua kali lipat sejak sebelum Ramadhan. Kenaikan ini dipicu oleh situasi geopolitik global, khususnya konflik di Timur Tengah yang mengganggu rantai pasok bahan baku plastik.
Pedagang kaki lima di Lumajang merasa kesulitan menghadapi kenaikan harga plastik ini. Harga bahan baku plastik dilaporkan naik 30-40% bahkan hingga 100% lebih untuk jenis plastik tertentu. Akibatnya, keuntungan bersih pedagang kaki lima tergerus drastis, bahkan ada yang mengaku hanya mendapatkan untung tipis sekitar Rp500 per unit dagangan.
“Jika harga jual produk dinaikkan, pembeli protes atau daya beli menurun, namun jika tidak dinaikkan, pedagang merugi,” kata salah satu pedagang kaki lima di Lumajang.
Kenaikan harga plastik ini tidak hanya dirasakan oleh pedagang kaki lima, tetapi juga oleh berbagai jenis usaha, termasuk pedagang es kelapa, nasi goreng, hingga penjual cilok keliling. Harga plastik kresek, misalnya, naik dua kali lipat pada beberapa jenis. Salah satu contohnya, kantong plastik per pak naik dari Rp5.000 menjadi Rp7.000 per pak.
Hal ini berdampak pelaku usaha, khususnya di sektor kuliner, kerepotan karena kemasan seperti cup plastik (cup kopi) mengalami kenaikan signifikan, salah satunya mencapai 30 persen dari harga sebelumnya.
“Kami pelaku usaha di sektor kuliner terpaksa menambah biaya kemasan sebesar Rp2.000 untuk pembelian take away (bawa pulang),” kata, Imran, salah satu pelaku usaha cafe di Lumajang kepada media ini, Jum’at (10/04/2026)
Menurutnya, Kenaikan harga dipicu oleh terganggunya pasokan bahan baku plastik (nafta) akibat konflik geopolitik global. “Situasi ini membuat pedagang harus memutar otak agar tetap bisa berjualan di tengah tingginya biaya kemasan plastik,” tambahnya.
Demikian pula dampak kenaikan harga plastik turut dirasakan pelaku usaha minuman, khususnya penjual es yang bergantung pada bahan kemasan plastik. Kenaikan biaya produksi memaksa sebagian pedagang menyesuaikan harga jual agar usaha tetap berjalan.
Muhammad Sukriman, pedagang es, menuturkan kenaikan harga bahan baku terjadi cukup signifikan dan berlangsung hampir setiap hari. “Kenaikannya cukup tinggi dan terus berubah. Bahkan yang naik bukan cuma plastik, bahan lain seperti buah juga ikut naik,” katanya.
Sementara pengelola kafe yang lain, Putrinda, mengaku harus menyesuaikan strategi agar tetap bisa menutup biaya produksi. Ia mengaku terpaksa membebankan tambahan biaya kepada pelanggan, yang ingin membungkus makanan atau minuman untuk dibawa pulang.
“Kalau dine -in (makan di tempat) kami menggunakan gelas, tetapi kalau take away kami beri tambahan beban biaya untuk kemasan plastik. Ini menyesuaikan adanya kenaikan harga cup,” kata Putrinda.
Pemerintah telah mengambil langkah-langkah untuk mengatasi kenaikan harga plastik ini, termasuk mencari alternatif pemasok dari negara lain dan meningkatkan produksi dalam negeri. Namun, pedagang kaki lima masih berharap agar harga plastik dapat kembali normal sehingga mereka dapat menjalankan usahanya dengan lebih baik. (Bambang)






