Gempurnews – Indonesia – Banyuwangi. Berkaitan dengan pernyataan Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Banyuwangi yang memprediksi, cuaca hujan masih akan terus mengguyur wilayah Banyuwangi hingga bulan Juli. Membuat Warga 14 Desa 4 Kecamatan cemas akan banjir susulan. Terlebih prediksi BMKG dalam dua hari kedepan kawasan Banyuwangi diperkirakan terjadi hujan lebat.

Bahkan beberapa kesimpulan yang telah di dapat, bencana banjir susulan, di sungai Badeng yang melintas, 14 desa di 4 kecamatan, Songgon, Singojuruh, Rogojampi dan Blimbingsari, Banyuwangi kemungkinan besar akan terjadi lagi. Bahkan material longsoran di hulu sungai diprediksi berlimpah, dan diprediksi dua tahun tidak akan habis.
Areal longsor di hulu sungai Badeng tersebut cukup luas. Longsor yang terjadi di kaki Gunung Raung tepatnya di kawasan Gunung Watu Gampit ini mencapai ketinggian 390 meter dengan panjang area kikisan sekitar 3,8 Kilometer dan lebar 40-50 meter. bahkan pada pusat longsor yang membentuk lingkaran memiliki diameter 375 meter. Reruntuhan material dari tebing mencapai kurang lebih antara 1-2 juta meter kubik, yang berupa tanah, pasir, lumpur, dan pepohonan tumbang akibat pergeseran tanah.
Area yang terletak sekitar 30 kilometer dari lokasi bencana di desa alasmalang ini. sebelumnya sudah pernah di lakukan penyisiran. namun lokasi yang masih belum pernah terjamah membuat tim tanggap bencana BPBD, Kepolisian dan TNI, kesulitan mencapai lokasi bahkan sebelum bulan puasa tim PVMBG Bandung sempat ikut terjun kelokasi. keterangan ini kami dapat dari kepala BPBD Banyuwangi Fajar Suasana pada mei 2018 lalu.
Dikutip pula dari media Times Indonesia Kepala Desa Sumberarum, Ali Nur Fathoni menyatakan. Pihaknya sudah ada koordinasi dan menginformasikan antar lembaga dibawah sampai ke atas, tim tanggap bencana daerah, terkait perkembangan terkini, baik cuaca hujan maupun kondisi yang mengarah terjadinya banjir susulan.
Bahkan pernytaannya juga memperkuat pernyataan Fajar selaku kepaka BMKG Banyuwangi pada tim gempurnewz Mei 2018 lalu. Ali Nur Fatoni juga menjelaskan kebenaran kunjungan tim siaga bencana yang telah tiga kali mencoba melakukan pendakian menuju lokasi. Dalam pendakian pertama, Kades Sumberarum bersama Koramil dan Kepolisian cek lokasi pada bulan Februari. Seterusnya bersama BPBD, Kepolisian dan TNI, dan berikutnya baru sebelum puasa datang kelokasi pendakian bersama tim PVMBG Bandung.
“Hasilnya, dipastikan bahwa bencana ini bukan dari ulah manusia, dan murni bencana alam,” kata Fathoni.
Dari rapat yang digelar di kantor Pemkab Banyuwangi, ada beberapa rekomendasi dari Ketua Tim PVMBG bersertifikat Perekayasa Madya, Imam Santosa. Rekomendasi itu diantaran, masyarakat kawasan terdampak banjir, di dusun dan desa sekitar lintasan sungai Badeng, harus terus mendapat sosialisai antisipasi maupun cara penanganan dini. mengabarkan perkembangan update kemungkinan terjadi banjir dari desa di hulu sampai hilir, memasang CCTV diarea rawan banjir, dan terpenting adalah pembangunan Sabo Dam atau tanggul penahan luapan banjir, dibangun dikawasan dataran tinggi dekat dengan hulu.
“Kalau Sabo Dam, sudah tentu akan memakan biaya sangat tinggi. Seperti pembangunan Sabo Dam di kawasan Gunung Merapi,” ungkap Fathoni.
Seperti diberitakan, Perekayasa Madya Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), Imam Santosa dalam sosialisasi laporan hasil kajian pemeriksaan gerakan tanah/longsor di Banyuwangi, Selasa (22/5/2018).
Imam menyampaikan longsor yang berkali-kali terjadi di lereng Raung tersebut disebabkan oleh curah hujan tinggi dan terus menerus. “Sudah kami cek langsung ke atas, ternyata hutannya masih sangat lebat. Jadi bukan karena hutan gundul seperti yang kami duga. Kesimpulannya, ini murni faktor alam yaitu curah hujan yang tinggi sehingga mengakibatkan pergeseran tanah,” terang Imam
Sedang dalam catatan BMKG, kawasan Banyuwangi dibagi menjadi tujuh zona musim. Masing-masing zona tersebut mempunyai kondisi cuaca yang berbeda. Sebagian sudah masuk musim hujan, sebagian lagi sudah musim kemarau.
“Dari 25 kecamatan di Banyuwangi itu cuacanya berbeda-beda, jadi tidak bisa disamaratakan. Itulah makanya selama dua jam sekali pasti kami update perkembangannya,” ungkap Supriyono.
Supriyono menjelaskan, wilayah yang sering terjadi hujan adalah kawasan dataran tinggi, terutama disekitar pegunungan.
Di Banyuwangi sendiri kawasan mempunyai dataran tinggi ada di Kecamatan Kalipuro, Licin, Glagah, Songgon, Sempu, Kalibaru dan Glenmore.
“Songgon dan Glenmore pada dekade tiga bulan Juli masih dalam kategori musim hujan. Nah, untuk musibah banjir yang terjadi pada Jumat lalu itu memang karena intensitas hujan tinggi di kawasan Hulu Gunung Raung. Sedangkan di kawasan hilir intensitasnya sangat kecil,” tambah Supriyono.
Untuk itu Supriyono mengimbau, bagi masyarakat yang berada di sepanjang bantaran sungai yang dilintasi banjir bandang beberapa hari lalu, agar waspada.
Karena hujan yang deras bisa saja menggerus tanah di bantaran sungai dan mengakibatkan longsor. “Hati-hati karena potensi hujan lebat masih ada,” tegasnya.(*/Sagate)






