LUMAJANG – Daging babi di pasar Lumajang sangat langka ditemukan. Kalaupun ada, harga jualnya mahal. Hal itu terjadi karena lahan peternakan babi semakin terdesak oleh permukiman penduduk. Apalagi, sebagian besar penduduk Lumajang adalah muslim yang mengharamkan daging babi.
Menurut salah satu peternak babi yang keberatan namanya disebutkan, kedepannya harga daging babi bakal semakin mahal karena tidak sembarang peternakan babi bisa mendirikan kandang.
“Padahal, kebutuhan daging babi untuk warga non muslim di Lumajang juga semakin meningkat,” ujarnya kepada Media Gempur.
Menurutnya, pangsa pasar daging babi di Indonesia adalah wilayah Jakarta, kemudian Bandung dan Bali. “Di Bali, konsumsi babi lebih dikhususkan untuk turis asing,” kata dia.
Dirinya mengaku pernah menekuni usaha produksi genjik (anak babi) sejak delapan tahun silam. “Setiap bulannya, saya hanya bisa memenuhi permintaan genjik sebanyak 50 ekor saja. Padahal permintaan dari peternakan penggemukan babi mencapai 100 ekor per bulan untuk satu peternak saja. Makanya saya tidak main di usaha penggemukan karena untuk genjiknya saja kurang,” imbuhnya.
Budidaya babi adalah masalah kandangnya, yakni harus sesuai tiga syarat utama, yaitu jauh dari permukiman penduduk, pasokan air melimpah, dan, lingkungan sekitar harus mendukung.
Terkait Kandang babi milik Lukas Hartono yang ada di Desa Dawuhan Kecamatan Sukodono, Kabupaten Lumajang, memang sedang disoal oleh sebagian warga. Mereka berharap agar Pemkab Lumajang memperhatikan analisa dampak lingkungan, termasuk saluran septik tank serta keberadaan saluran pembuangannya.
Saat di konfirmasi, Lukas Hartono mengaku sudah tak nyaman berternak babi. Pasalnya, banyak direcoki orang yang tak suka. Disamping itu jualnya juga susah sekarang. “Tidak seperti dulu,” kata Lukas. (duk/bam)



