Tuhan, Hentikan Profesiku Sebagai Pelacur

0
131

 

Gempurnews.com-
Aku menjadi pelacur saat usiaku 19 tahun. Seusia itu aku sudah tidur dengan banyak laki-laki dari berbagai kalangan. Kehidupan seperti ini terus kujalani sampai kini usiaku genap 32 tahun.

Aku terjerat dalam kubangan dosa akibat perbuatan orang tua kandungku yang tidak senonohnya. Ayahku telah meniduriku lebih dari 50 kali.

Pernah terbersit dalam hati kecilku betapa kotornya hidupku ini. Kusadari pula sesungguhnya aku telah mencari jati diri di tempat yang salah. Namun karena putus asa dan tuntutan kehidupan yang keras, aku tetap menjalani kehidupanku seperti ini.

Namun, hari ini, mataku tiba tiba terbelalak saat membaca berita di media online yang mengabarkan tentang kebejatan moral seorang ayah kandung. Rasanya, aku seperti kembali melihat diriku dimasa lalu yang kelam.

Aku dibesarkan dari sebuah keluarga broken home. Ayah dan ibuku bercerai, lalu masing-masing menikah lagi, dan aku tinggal dirumah nenek bersama adikku yang masih kecil. Sedang ayah tinggal dengan istri barunya.

Suatu hari, saat rumah lagi sepi. Nenek sedang di ladang. Adik bermain diluar. Ayahku datang dan menyuruhku meminum obat biar badanku sehat, kata ayah. Aku menurut saja karena waktu itu aku merasa ayah seakan kembali memanjakanku.

Mataku tiba tiba terasa berat dan tubuhku seperti melayang entah kemana, aku merasa terbang diatas awan dengan menaiki pelepah daun pisang.

Namun entah mengapa kemudian aku terbangun dari mimpi itu. Aku tak tahu. Tapi kemudian aku kaget setengah mati ketika ayahku membungkam mulutku dan mengikat kakiku. Waktu itu aku tak mampu memahami maunya ayah. Berikutnya aku tak tahu apa yang sedang menimpa diriku. Aku cuma merasa ada rasa sakit yang membenami selangkanganku.

Kejadian itu terus berulang ulang disaat saya dirumah nenek sendirian. Tidak hanya malam, siang pun aku disuruh melayani nafsu bejat ayah tanpa berani menolaknya.

Waktu berlalu. Lulus SMA aku tersadar betapa hancurnya sudah hidupku. Hari hari yang kulewati kuhabiskan berdiam diri didalam kamar. Rasanya mukaku begitu hitam (gosong) dalam memendam aib ini sejak di bangku SMP.

Namun mungkin karena Tuhan berkehendak memberikanku jodoh, maka aku mengenal seorang pemuda sedesa untuk selanjutnya kami pacaran.

Dan suatu hari karena kecerobohanku, aku dinyatakan positif hamil. Namun pria yang menghamiliku tidak mau bertanggung jawab.

Akhirnya aku dinikahkan oleh pamanku dengan tetangga dekat rumahku karena ia sangat mencintaiku.

Tapi rumah tangga kami berantakan. Suamiku bukanlah tipe orang yang bertanggung jawab. Bahkan ia tetap menjadi pengangguran sampai-sampai aku menjadi pelacur demi memenuhi kebutuhan keluarga Akhirnya aku memutuskan untuk bercerai dengannya.

Hari ini, Senin (30/07/2019) mataku tiba tiba terbelalak membaca berita disalah satu media online yang mengabarkan tentang kebejatan moral seorang ayah yang tega menyetubuhi anak kandungnya sendiri hingga lebih dari 50 kali. Edaaaan !!!!

Ditengah kekalutan jiwaku, sejenak aku berhayal menjadi seorang muslimah yang taat. Dengan tubuh dihijabi jubah dan jilbab. Dan hampir semua waktu kulalui dengan bertaubat. Sholat, baca Qur’an dan berdzikir.

Jika seandainya mampu memilih, aku memilih hidup yang sufistik demi ghirah kezuhudanku dengan mengecap asinnya garam atau hanya mengkonsumsi roti tawar ala kadarnya. Berilah aku waktu menghayalkan cita citaku untuk menjadi muslimah sejati, menjalankan syari’at secara kaffah.

Sesungguhnya aku menyesal hidup seperti ini. Tak pernah terbayangkan badai besar akan menerjang hidupku.

Kini kucoba menembus pandang sejauh yang aku jangkau. Kugunakan waktuku untuk menggugat keadaan kosong yang menjerembabkan hidupku dalam dunia sehitam ini. Diriku telah berlumur dosa, mungkinkah kembali fitra? Bolehkan aku melampiaskan frustasiku dengan mengatakan, “Tuhan, Hentikan Profesiku Sebagai Pelacur”.

Bahan tulsan diambil dari imajinasi penulis