Gempurnews.com—Banyuwangi. Mengulas kembali sejarah terciptanya seni tari Gandrung yang kini menjadi icon Banyuwangi. beberapa perkumpulan pemuda yang bergabung dalam Organisasi Pemuda Kebunrejo (OPEK) tampilkan Seni Gandrung Marsan pada pagelaran pawai budaya dalam rangka memperingati HUT RI ke.74 yang diselenggarakan pemerintah kecamatan Genteng pada Kamis (29/8/2019).

Seni Gandrung Marsan sendiri merupakan cikal-bakal terciptanya seni tari Gandrung di kabupaten Banyuwangi. selain mengukir sejarah awal terciptanya seni yang kini menjadi icon Kab.Banyuwangi, Gandrung Marsan rupa-rupanya juga memiliki catatan sejarah dalam perjuangan masyarakat Banyuwangi dalam perjuangan kemerdekaan republik Indonesia utamanya di bumi Blambangan, atau yang kini menjadi pusat pemerintahan Kab.Banyuwangi.
Mengenal seni tari Gandrung Marsan ini sama halnya mengulas kembali sejarah lama 246 tahun silam, tepatnya pada tahun 1772 M. Pada kala itu berketepatan dengan proses membuka hutan (Babat Alas) Tirtogondo yang saat ini menjadi Pusatnya Kabupaten Banyuwangi. berawal dari terpecah belahnya masyarakat Banyuwangi setelah terjadinya Perang Bayu pada 11 Oktober 1772 dan hasil propaganda yang dilakukan Belanda atau VOC membuat beberapa pria tergugah untuk kembali menyatukan masyarakat Banyuwangi yang pada saat itu terpisah-pisah ditengah hutan belantara, dengan menciptakan kesenian Gandrung
Melalui kesenian Gandrung inilah, Akhirnya rakyat blambangan merasa tergugah semangat juangnya, merasa senasib dan seperjuangan sehingga Rakyat blambangan yang awalnya kocar-kacir ditengah hutan bisa berkumpul lagi untuk berjuang bersama-sama.
Lagu-lagu klasik Gandrung Banyuwangi yang saat ini masih lestari pada saat itu berisi Syair-syair tentang perjuangan rakyat blambangan dan berisi tentang kekejaman VOC serta betapa Tragisnya kehidupan rakyat pada saat itu sehingga dengan dilantunkannya gending-gending tersebut akan menambah semangat berjuang rakyat blambangan yang masih tersisa.
Dalam kemasannya, pemuda-pemuda OPEK memang tidak mengacu pada kesempurnaan tari maupun kostum, mengingat seni tari Gandrung marsan adalah tari tempo dulu. hal ini ditegaskan oleh Umar Faruq selaku penggagas tema.
“Memang segalanya dibuat menyimpang dari Seni Gandrung pada umumnya, dari bentuk kostum maupun tariannya, karena kalau kita mengacu pada kesempurnaan seperti tari-tari Gandrung yang biasanya kita lihat saat ini, jelas beda, yang ditampilkan saat ini kan Gandrung masa kini dan yang kami tampilkan Gandrung Marsan merupakan Gandrung tempo dulu, dimana kostumnya alakadarnya dan tariannya masih kaku sebagaimana penari-penari dulu kan tidak langsung instan selincah saat ini.” terang umar menjelaskan.
Selain itu sebagai partai penghibur pemuda-pemuda OPEK juga memberikan kesan lucu atau kocak sebagai bahan tawa guna menarik perhatian penonton.
“Tariannya memang dibuat kaku, namanya partai penghibur, selain mengacu pada tema kita juga memiliki peran menghibur. jadi memang dibuat selucu mungkin,” Tambah Efendi yang lebih akrab dipanggil Mbah ebong selaku Ketua Panitia Barisan pemuda OPEK.
Namun begitu, meski tarian Gandrung Marsan kemasan pemuda OPEK bersifat menghibur, namun juga tidak serta merta meninggalkan keasliannya. hal ini diakui langsung oleh ketua pemuda OPEK dalam sela-sela acara.
“Mengingat tari Gandrung sendiri sebagai Icon kabupaten Banyuwangi maka tidak serta-merta kami sebagai partai penghibur menjadikannya sebagai bahan lelucon. saya sendiri yang menghimbau pada teman-teman pemuda khusus nya panitia dan penanggung jawab seni ini untuk menampilkan sesuai aslinya bagaimana Gandrung Marsan tempo dulu, bahkan kami juga memiliki seorang pelatih yang sudah cukup profesional di bidangnya.” Achmad Sodik menambahkan.
Sampai berakhirnya perjalanan pawai budaya, Tidak sedikit dari mereka justru memancarkan aura kebahagiaan. kepuasan atas hasil kerja keras bersama pada akhirnya dapat diterima penonton bahkan tamu kehormatan. Terlebih penampilan mereka kali ini tak hanya memukau, namun dapat mengundang canda tawa yang cukup menghibur. (*/Siget)



