LUMAJANG — Kondisi penyebaran pandemi wabah virus corona (Covid-19) mendorong gaya hidup dengan pola makanan sehat dan segar semakin diminati.
Hal itu belakangan jadi pemicu tren berkebun sayur bagi warga Desa Jarit Kecamatan Candipuro Kabupaten Lumajang Jawa Timur.
Mereka memanfaatkan sumber mata air kembang untuk membudidayakan sayur selada air atau yang juga dikenal dengan teladak.
Tanaman ini hidup dipermukaan air, bisa tumbuh subur pada air yang memiliki kualitas baik.
Beberapa orang menyebutkan kesuburan tanaman teladak menjadi salah satu tolak ukur tingkat kejernihan air.
Sumber Mata Air Kembang dikenal masyarakat Desa Jarit memiliki air yang jernih, bahkan dijadikan sebagai sumber air minum oleh masyarakat sekitar.
Kepala Desa Jarit Novita Supristiwanti mengatakan, teladak Sumber Kembang memiliki cita rasa yang berbeda, lebih hijau dan gurih.
“Rasanya enak sini, kata orang-orang seperti itu. Dibandingkan dengan teladak dari atas, disini lebih gurih dan lebih hijau,” kata dia di lokasi budidaya tanaman teladak, Sabtu (25/7/2020).
Novita berencana membangun BUMDes berupa warung makan yang memiliki menu andalan Sego Sambel Teladak.
Menurutnya warung tersebut dapat meningkatkan nilai ekonomi teladak dan memberi kesejahteraan untuk masyarakat sekitar.
Beberapa petani menjual langsung di pasar dengan harga Rp 1000 per ikatnya, tapi ada juga yang menjualnya kepada tengkulak langganan.
Saat ini teladak sumber kembang mengalami penuruan hasil panen, hal itu disebabkan karena cuaca yang tidak menentu. Namun soal rasa, sayur teladak sumber kembang tidak berubah. (red)


