LUMAJANG – Di tengah gempuran arus perubahan zaman yang beralih keperabotan berbahan plastik, namun kerajinan anyaman bambu masih terus bertahan.
Seperti halnya Jumaati (67) warga Desa Jarit Kecamatan Candipuro Lumajang, ia mengaku masih kebanjiran orderan, sehingga ia memilih tetap bertahan memproduksi anyaman bambu untuk kebutuhan perabotan rumah tangga.
Diakuinya, peralatan rumah tangga yang terbuat dari anyaman bambu memang terlihat sederhana, namun bukan tidak mungkin kerajinan dari bambu tersebut sama sekali tak dibutuhkan.
Bahkan dengan bertahan menjadi pengrajin bambu, dia mengatakan bahwa disamping mendapatkan tambahan penghasilan, namun agar daerahnya tetap dikenal sebagai desa pengerajin anyaman bambu.
“Dulu anyaman bambu dipesan untuk melengkapi kebutuhan perabotan dapur, tapi sekarang konsumen memilih; anyaman bambu untuk dijadikan souvenir,” ujar Jumaati Minggu (9/8/2020).
Pengerajin satu ini mulai menekuni kerajinan anyaman bambu terbilang cukup lama, sejak tahun 1970 ia belajar menganyam bambu dari orang tuanya.
“Sejak dulu masyarakat Dusun Krajan, Desa Jarit memang sudah dikenal dengan produksi anyaman bambu, mas,” tutur Jumaati pada media.
“Membuat Tenong, Tumbu, Kaloh, Tempeh, Wakul, dan Capil (Topi Tani) sudah menjadi kegiatan mereka sehari hari. Malah saat ini anak cucu saya pun sudah mulai menekuni pembuatan kerajinan bambu,” imbuhnya.
Dalam memenuhui permintaan pasar, Jumaati bekerja bersama 30 pengerajin anyaman bambu dengan sistem bagi hasil, tidak menggunakan sistem gaji, artinya jika ada salah satu pengerajin mendapatkan orderan, maka para pengerajin yang lain membantu.
Jumaati mengatakan bahwa penerapan sistem seperti itu sudah lama diterapkan sudah sejak jaman dulu. Hal itu bertujuan menghilangkan kesenjangan sosial.
Dikatakan bahwa para pengerajin mampu menyelesaikan 2 buah anyaman bambu dalam seharinya. Namun itu juga tergantung pada tingkat kesulitan dan ukuran anyaman, jelasnya.
Sementara untuk bahan baku, Jumaati bersama para pengerajin lainnya mengaku tidak kesulitan, karena bambu Apus atau Bambu Tali, sangat mudah didapatkan. Bahkan sudah ada pedagang bambu yang memasoki kebutuhan bahan baku hingga saat ini.
Dengan harga mulai dari Rp. 10.000,- para konsumen bisa membawa pulang anyaman bambu. Meskipun tak mendapatkan keuntungan banyak, para pengerajin tetap memproduksi kerajinan anyaman bambu. (tim)






