Siapkan Pembelajaran Tatap Muka, Komite SMPN 3 Muncar keluhkan Proyek Kontraktual Yang Dianggap Menghambat

1251 0

BANYUWANGI– Menanggapi kesiapan lembaga pendidikan, sistem pembelajaran tatap muka akan diberlakukan kembali dengan tetap mematuhi protokol kesehatan.

Sunyoto MS selaku ketua komite SMPN 3 muncar, memaparkan kesiapan lembaganya, hal itu disampaikannya pada Selasa (3/11/2020).

Dipaparkan, beberapa hal berkaitan dengan kesiapan, bahkan hambatan SMPN 3 Muncar apabila sistem pembelajaran tatap muka akan diberlakukan kembali.

Lembaganya sudah jauh-jauh hari menyiapkan dan melaksanakan protokol kesehatan yang berlaku, seperti menyiapkan tempat cuci tangan yang jumlahnya saja melebihi jumlah ruang yang dimiliki, juga sudah menyiapkan fasilitas tempat duduk yang sesuai protokol kesehatan, yaitu menjaga jarak antar siswa nantinya.

“Hal ini kami berlakukan tidak hanya didalam ruang kelas saja, namun juga disekitar halaman sekolah, bahkan sudah jauh-jauh hari kami rutin melakukan penyemprotan disinfektan diseluruh lokasi sekolah, ini rutin seminggu sekali, artinya semua ini kami lakukan, karena kami benar-benar memperhatikan protokol kesehatan yang berlaku.” Urainya..

Dalam kesempatan itu pula Sunyoto juga mengeluhkan proyek kontraktual yang nantinya akan menghambat bilamana sistem pembelajaran tatap muka diberlakukan kembali.

Disampaikan lebih jauh, jika pembelajaran tatap muka diberlakukan kembali, komite merasa ada yang menghambat, hal itu diarenakan jumlah ruang kelas yang siap untuk digunakan berkurang, akibat proyek rehab kontraktual yang diterima lembaganya, seperti yang telah diberitakan media gempurnew.com pada Minggu (4/10/2020) lalu.

“Jadi kelanjutan proyek ini tidak akan selesai 100% jadi.” Tegasnya.

Menurutnya proyek yang dikerjakan secara kontraktual itu disepakati secara sepihak, dan dalam kesepakatan itu pihak kontraktor mengurangi pekerjaan dengan alasan anggaran yang tidak memenuhi, disebabkan membengkaknya anggaran.

“Sebelumnya kan pihak sekolah bersama komite memprotes pemakaian kayu yang tidak layak, menanggapi hal itu memang pihak kontraktor sudah mengganti beberapa kayu yang tidak layak itu, namun dengan alasan itu pula pihak kontraktor mengaku adanya pembengkakan anggaran yang berujung pengurangan pekerjaan plafon satu kelas. Dan itu sudah disetujui oleh Dinas Pendidikan Kabupaten Banyuwangi melalui pak Anas. Tentu ini akan menjadi beban bagi kami”. Terangnya.

Dengan mengurangi pekerjaan itu, sunyoto selaku ketua komite merasa sangat keberatan, pasalnya sisa pekerjaan itu akan menjadi beban sekolah untuk menyelesaikannya, sedang bilamana sekolah mengabaikan, maka pengurangan jumlah ruang belajar akan sangat mempengaruhi kegiatan belajar mengajar, terutama dengan adanya sistem pembelajaran yang sesuai dengan protokol kesehatan.

Selain itu sunyoto juga merasa heran dengan jumlah anggaran yang lebih besar dari RAB yang diajukan sekolah, proyek kontraktual masih menyisakan PR bagi pihak sekolah.

Saya itu cukup heran, mengapa proyek dengan anggaran 167 Juta dengan sistem pengerjaan tambal sulam bisa tidak cukup, padahal, anggaran RAB yang pihak sekolah ajukan sebelumnya, hanya berkisar 151 Juta dan itupun rehab total atau diganti keseluruhan. Dan yang cukup mengejutkan pula keterangan dari pak rudi dihadapan kepala sekolah disaksikan pak rizky dan pak bowo anggota LSM pada saat itu, bahwasanya CV yang sampai saat ini belum mencantumkan papan namanya itu telah mendapatkan kurang lebih 20 Proyek, ungkapnya

Padahal aturannya satu CV hanya diperbolehkan mengerjakan proyek maksimal 5 proyek. Ini yang menjadi tanda tanya, dan perlu disorot oleh media.” Sunyoto menambahkan. (Sigit)

Related Post