Ketika Masyarakat Galaukan Pendidikan di Lumajang, Ini Jawaban Agus Salim

0
33

LUMAJANG – Kenapa sekolah di Lumajang 2 hari masuk melaksanakan program sinau bareng, tapi kemudian dihentikan. Sesungguhnya bagaimana sich maunya?

Atas kegalauan masyarakat, akhirnya Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Lumajang, Drs Agus Salim memberikan tanggapan. Berikut jawabannya : Lumajang sungguh luar biasa. Di masa pandemi ini Lumajang telah menyuguhkan solusi, telah menyuguhkan alternatif pembelajaran.

“Sejak bulan maret lalu, Dinas Pendidikan Lumajang telah melakukan mekanisme pendidikan diantaranya pembelajaran daring,” kata Agus kepada F-JINLU diruang kerjanya, Kamis (26/11/2020).

Namun demikian, kata Agus, bukan tifak mungkin pendidikan selama pagebluk corona, juga membuat para siswa, orangtua, dan guru mengaku pusing dan jungkir balik mengikuti proses pembelajaran semacam ini.

Termasuk soal sekolah daring yang memunculkan persoalan sinyal internet, soal tak punya ponsel, soal susah membeli pulsa dan kuota. Kemudian hal ini mengakibatkan Dinas Pendidikan Kabupaten Lumajang harus mengambil langkah.

“Untuk mengambil langkah, terlebih dulu kami melakukan pengamatan secara seksama untuk mengetahui perubahan sosial, khusunya dalam dunia pendidikan yang diakibatkan adanya pandemi covid 19,” ungkapnya.

Lalu bagaimana cara mengatasi problematik pembelajaran secara daring di Kabupaten Lumajang dengan berbagai persoalan yang menyertainya?.

Maka, untuk mempermudah siswa dalam mendapatkan akses pembelajaran selain menggunakan metode daring/online selama pandemi Covid-19, Dispendik Lumajang kemudian menginisiasi program inovasi “Guru Sambang” bagi satuan pendidikan pada jenjang TK, SD dan SMP, kata dia.

Dijelaskan pula bahwa hal ini merupakan salah satu penanganan alternatif dalam mempermudah akses pembelajaran bagi siswa, dengan tetap melakukan metode tatap muka secara berkelompok.

Pola inovasi guru sambang, yaitu gurunya datang mengajar di Tempat Kegiatan Belajar (TKB) yang sudah ditentukan. Setiap TKB maksimal dibatasi sejumlah lima siswa. Dalam satu hari terdiri dari beberapa waktu.

Selanjutnya, sebagai upaya dari kelanjutan mekanisme pembelajaran guru sambang, Dinas Pendidikan Lumajang melaksanakan program sinau bareng di sekolah, dengan SOP yang sudah ditentukan oleh Pemkab Lumajang.

Selama proses pelaksanaan sinau bareng, siswa yang masuk kelas dibatasi sekitar 25% dari 100% jumlah siswa. Pelaksanaan kegiatan diwajibkan menjalankan protokol kesehatan termasuk menjaga sirkulasi udara tetap baik.

“Ketika 2 hari berjalan, lalu program sinau bareng itu kembali saya tutup. Kenapa? Sebab, baik program guru sambang maupun program sinau bareng itu sifatnya kondisional atau fleksibel. Kondisional artinya ikuti kondisi. Ketika kondisi sekolah dirasa tidak nyaman, maka diperbolehkan kembali ke pembelajaran daring,” ungkapnya.

Sejak tanggal 26 November lalu Lumajang trandnya meningkat, bahkan sampai pada tataran zona merah, sehingga program sinau bareng dihentikan untuk sementara.

Dalam kesempatan itu, Kadiknas Lumajang juga menyampaikan bahwa program sinau bareng ini tetap akan dilaksanakan sebelum bulan Januari tahun depan. Terkait zonasi, Agus mengatakan berbasis desa atau kecamatan. Kalau wilayah yang zonasinya kategori merah, tentu program sinau bareng tidak diperkenankan. (bam)