UDOROSO
Oleh: AB. Udayana

0
49

Gemahripah loh jinawi, jer basuki mowo bea, perwujudan masyarakat yang adil makmur murah sandang dan murah pangan.

Para punggawa pamonge kawula dan Nalendra jejer hayu hamemayu hayuning jagad.

Kalimat – kalimat luhur para pendahulu itu mengiang kembali di telinga mbah wiro Cangklong malam itu.

Diantara derasnya hujan disertai gemuruh guntur dan kilat menyambar, didada mbah Wiropun seolah ikut bergemuruh.

Dalam benaknya mencoba mengadaptasi ungkapan – ungkapan luhur tadi dan mencoba diterjemahkan diera sekarang ini.

Sambil menikmati kepulan pipa cangklongnya, lalu anganannya menerawang jauh ke alam, fikirannya terfokus pada tentang konteks alam raya ini.

“Duh Gusti, betapa besar Kuasa dan kasihMU,” gumam mbah wiro disela renungnya.

Dirinya merasa jika ungkapan sepuh itu seolah jauh terserap dijaman sekarang.

Kalo disimak kehidupan sekarang ini masyarakat nusantara utamanya wong cilik, pontang – panting mengikuti roda kehidupan, sawah ladang mulai menyempit terdesak oleh serakahnya jaman.

Dulunya para kawula alit, tidak sulit mencari sesuap nasi, karena mereka rajin dalam mengolah lahannya meskipun terbatas, minimal mereka bisa mencukupi kehidupannya.

Apa ini akan bisa segera Loh jinawi?

Sebuah ungkapan pendek dari Mbah Wiro, yang penuh makna dan butuh jawaban yang tidak gampang.

Sementara para pemimpin saling berebut pengaruh dan kuasa untuk melanggengkan dinastinya.

Nilai – nilai luhur untuk mewujudkan Gemahripah Lohjinawi, masyarakat yang adil makmur tata tentram raharja kini sulit diwujudkan, bahkan perlahan luruh dari jiwa bangsa ini.

Sampai disitu kembali mbah wiro teringat wejang Dang Sabdo Palon, yang mengatakan ikhwal kehadirannya kelak ditandai prahara seleksi alam, banjir bandang angin ribut dan Lindu sedino ping pitu, sekarang ini tanda – tanda itu sepertinya nyata terjadi.

Kembali asap tebal mengepul dari hisapan mbah wiro yang semakin dalam.

Tatanan Dharma dan moral semakin merosot, pemimpin telah kehilangan wibawa juga ksatria Dharma mulai kehilangan jati diri.

Ya Allah Gusti benarkah kini saatnya seleksi alam seperti yang disebut sebagai masa Dang Sabdo Palon nagih Janji?.

Kembali mbah wiro Cangklong menghisap dalam – dalam pipa kesayangannya dan kembali menyelami renungannya, entah sampai kapan, hanya dirinya yang tahu kapan akan mengakhiri celoteh batinnya malam itu.