PETANI DAN JATI DIRI BANGSA

0
451

Sebagai nega agraris peran petani sangatlah absolud dalam menjalankan sector ini, petani merupakan penyangga tatanan negara indonesia yang terkenal dengan gemah ripah loh jinawi dan bahkan ada pepatah bahwa tongkat batu dan kayu jadi tanaman karena tanah kita adalah tanah surga

Dikondisi seperti diatas Negara kita abai dalam hal mengembangkan sector ini secara optimal, hal ini dimulai era tahun 70 an saat petani dikenalkan dengan pupuk kimia dan pestisida kimia saat itu disinilah mulai terjadi pergeseran pola pertanian yang tradisional yang berbasis kearifan local dan budaya menjadi pertanian modern yang berbasis kapitalis, mulai saat itulah petani menjadi objek dari kaum kapitalis dengan pupuk kimia dan pestisida kimianya, sehingga petani sudah harus mengeluarkan uang demi membeli bahan bahan kimia diatas, hal ini merubah tradisi petani secara frontal dimana dulunya mereka menggunakan kotoran hewan dan tumbuh tumbuhan sebagai pupuk dan pestisida dan tidak berbayar.

Pupuk kimia berdampak lamsung pada kesuburan tanah karena mengandung residu yaitu kandungan yang tidak dapat diurai oleh mikro organism yang ada di tanah yang terjadi saat ini kandungan organisme di tanah rata2 kurang dari 2%  yang secara idealnya harus 5%  yang intinya tanah kita semakin kurus dan tidak sehat, belum lagi pengaruh pestisida yang masiv, pestisida kimia memiliki sifat membunuh dan racun sehingga akan memutus mata rantai makanan sehingga keseimbangan ekosistem kita tidak terjaga, efek lain hama atau penyakit yang hanya terkena sedikit oleh pestisida kimia dan tidak terbunuh  akan kebal terhadap dosis yang ada, serhingga kecenderungannya pemakaian dosis dan takarannya akan meningkat di periode berikutnya, dan ini akar masalah kenapa produk pertanian kita tidak bias eksport, karena mengandung residu kima,

Belum lagi pencemaran air dari limbah indutri dan limbah rumah tanggal, kita bias melihat di saluran irigasi dan sawah limbah limbah diatas bebas berkeliaran sepertinya sudah lazim bahwa sungai dan sawah adalah tempat pembuangan sampah, sementara regulasi yang ada lalai mengatur hal tersebut, ini bias terlihat bahwa sector property tidak memeiliki saluran pembuangan air yang menyaring sampah tersebut sebelum dialirkan ke saluran irigasi akibatnya petani lagi yang terkena dampak usaha taninya.

Regenerasi pertanian dan mekanisasi pertanian tidak sebanding dengan kebutuhan yang ada dilapangan, rata rata buruh tani kita berumur 40-60 tahun kaum muda milenial tidak tertarik dengan sector ini karena menganggap sector ini hanya sector yang tidak punya masa depan

Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) Lumajang akan berupaya keras mengembalikan polo pertanian berbasis kerifan local dan budaya dengan mengenalkan teknologi yang benar dan tepat sehingga petani tidak bergantung pada produk pabrikan besar, hal ini ditujukan untuk penghematan biaya pokok produksi petani, kami akan bergerak memberikan pemahaman bagaimana bertani yang baik dan benar yang tidak merusak ekosistem yang ada.

Ditulis :

ISKHAK SUBAGIO, SE

Ketua HKTI Lumajang