LUMAJANG – Gonjang-ganjing masalah pupuk bersubsidi selalu terulang setiap tahun di semua Kabupaten di Jawa Timur, hal ini menjadi perhatian serius dari Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI).
Khususnya di Lumajang, Iskhak Subagio, SE, selaku ketua HKTI Lumajang dia menyampaikan sudah saatnya petani dikawal menggunakan pupuk organik sebagai solusi, karena suka tidak suka pada suatu saat subsidi pupuk akan dihapus.
Sebagai salah satu solusi pupuk organik memiliki berbagai keunggulan, disamping keunggulan utama yaitu mengembalikan kesuburan tanah, tidak meninggalkan residu, tanaman sehat tanpa racun kimia dan juga mempercepat proses panen baik itu padi ataupun buah buahan.
HKTI akan mengawal pemakaian pupuk organik ini sampai kepetani, hal ini mutlak dilakukkan agar didapat parameter yang valid tentang lahan pertanian organik yang arahnya akan didapat data sesuai digitasi lahan yang pas.
Karena ini menjawab tantangan ekspor produk pertanian yang mensyaratkan sertifikat organik.
Dalam kaitan komitmen pemerintah kabupaten Lumajang, dalam hal dukungan terhadap pupuk organik, lewat dinas pertanian bulan Nopember kemarin telah dilaksanakan demoplot pemakaian pupuk organik lokal bertajuk SARI LUHUR di tiga Kecamatan seluas 4,5 ha, yaitu di Kecamatan Tempeh, Yosowilangun dan Rowokangkung,
Kegiatan ini merupakan lanjutan dari program demoplot seluas 10 ha yangg tersebar di Kecamatan Candipuro, Pasirian, Kedungjajang, Tekung, Sumbersuko, dan Sukodono.
Juga program bantuan pupuk organik kepada kelompok tani organik di desa Penanggal Kecamatan Candipuro seluas 5 ha.
Dia menambahkan, bahwa pupuk organik sari luhur mampu menaikkan produktifitas panennya, tinggal petani yang menentukan tetap mengandalkan pupuk kimia atau pupuk organik sebagai solusi.
Hal senada juga disampaikan iskhak subagio yang juga anggota dewan pakar HKTI Jawa Timur, pada saat mendampingi H. Abdul Zalam selaku ketua pemuda tani HKTI Jawa timur , saat pelantikan pemuda tani HKTI Jember di desa Ampel Kecamatan Wuluhan, menandaskan bahwa sudah saatnya pemuda tani HKTI menjadi katalisator aplikasi pupuk organik dilapangan, petani harus didampingi dan harus dikawal agar hasilnya lebih maksimal dan agar ilmu pertanian terserap maksimal.
Ketika disinggung tentang maraknya pupuk kimia yang ada di lapangan, Iskhak berharap semua dinas wajib mengawasi peredaran pupuk agar petani mendapatkan kualitas pupuk sesuai standar yang ditetapkan, disampaikan juga pupuk organik juga banyak merk dilapangan iskhak berkomentar bahwa petani lah yang memilih dan menguji pupuk organik tersebut, akan tetapi dia berpesan pada seluruh produsen pupuk kimia maupun pupuk organik agar tidak sekali kali membohongi petani karena begitu sekali saja dibohongi maka petani tidak akan memakai produk tersebut selamanya, ia menambahkan bahwa inovasi produk pupuk organik sangat pesat dari segi harga juga kompetitif dari kisaran Rp. 800.000,- sampai 6.500.000,- per hektar, petani bisa berhitung dengan analisa usaha taninya, pemerintah pusat juga mensubsidi pupuk organik cair (POC) bertajuk phonska oca, tinggal petani bebas memilih mana yang terbaik bagi dirinya.
“Sudah saatnya pemerintah daerah mengalokasikan dana pembelian pupuk organik dari APBD untuk membantu petani untuk mengatasi kekurangan pupuk subsidi, tegas Iskhak Subagio. (Red)






