CimahiJum’at(04/08/2023)
Kampung adat Cirendeu adalah satu – satunya kampung adat yang ada di kota Cimahi.Selain mendayagunakan singkong yang di olah menjadi rasi ( Beras singkong), warga kampung adat Cirendeu juga memegang teguh adat dan kebudayaan Sunda.
Berbagai perayaan di gelar sepanjang tahun dan menjadi kalender event yang di nanti oleh masyarakat, tidak hanya dari Cimahi tapi juga dari luar Kota Cimahi,
Salahsatu perayaan tahunan yang menjadi icon kampung adat Cirendeu adalah perayaan tutup taun , ngemban taun saka sunda.
Acara ini di maksudkan sebagai ungkapan rasa syukur atas limpahan anugerah dari sang pencipta serta memanjatkan doa untuk kehidupan yang lebih baik di tahun mendatang.
Tahun ini acara tutup taun dan ngemban taun saka sunda dilaksanakan dari tanggal 3,4 dan 5 Agustus 2023.

Menurut Kang Jajat Selaku Humas Kampung Adat Cireundeu,serta merupakan salahsatu warga asli Cireundeu,perayaan kali ini di laksanakan lebih semarak karena di ikuti dengan penampilan berbagai sanggar seni tidak hanya dari kota cimahi tapi juga dari daerah luar, juga merupakan acara tahun ke 2 setelah bencana covid 19 terlewati.
Saat berkunjung ke kampung adat Cirendeu, selama perayaan tampak baliho besar berisi informasi rangkaian acara dan tampak bertandan tandan pisang berikut dengan batang pohonnya yang di tancapkan berjajar dari gerbang masuk sampai area bale sarasehan tempat di laksanakan acara.
Pohon pisang ini selain sebagai hiasan juga pisang nya bisa di konsumsi oleh pengunjung yang menghadiri acara.
Acara kali ini kang Jali bertindak sebagai ketua pelaksana,Tepat jam 19 30 wib, acara di mulai.
Dengan di awali rajah bubuka yang di lanjutkan dengan paparan dari Bah Widdy sang Pinisepuh kampung adat Cirendeu acara pun di mulai.
Dalam Keterangan nya bah Widdy mengungkapkan,
“Acara ini merupakan pancen gawe babarengan keur ngamumule budaya dina raraga silih asah , asih, asuh mugia salamina aya dina ridho Gusti.” Terang Abah Widi.
Setelah itu acara di lanjut kan dengan penampilan Damar Sewu.
Semua lampu di padamkan, lalu dalam keadaan gelap gulita, para penari melakukan gerak tari yang di lanjut kan dengan menyalakan obor.
Damar sewu kali ini terasa berbeda, apabila sebelumnya gerakan sakral di damar sewu lebih bergerak secara alami, tapi kali ini gerakan di damar sewu lebih bergerak harmonis dan dinamis dengan gerak tari yang lebih indah tanpa menghilangkan pola tradisional dan di lanjut dengan tari pangbagea sebagai ungkapan rasa syukur. Semua ini berkat Kang Ganda dari Ratasya Traditional Dance ( RTD) yang bertindak sebagai penata gerak.
Setelah ritual damar sewu, acara di lanjutkan dengan penampilan tari kreasi tradisional dari sanggar Mutiara pimpinan teh Osin Syntia.
Sanggar Mutiara merupakan salahsatu sanggar tari jaipong terkemuka yang berlokasi di Cipageran Cimahi.
Setelah penampilan dari sanggar Mutiara di lanjutkan dengan penampilan tari Bali dari para pegiat seni dan pengurus pura Wira Loka Natha, dengan di awali pertunjukan gamelan atau tabuh tabuh gamelan bali, lalu di lanjut dengan pertunjukan tari Pendet, tari topeng keras, tari rejang Wedari dan tari topeng tua.
Acara di tutup dengan penampilan Seni Ormatan tarawangsa.
” Kampung adat Cirendeu, mempunyai banyak kekhasan budaya dari mulai damar sewu dan angklung buncis, semoga Kedepannya kekhasan seni budaya di kampung adat Cirendeu ini bisa lebih sering di pentaskan di berbagai helaran seni budaya yang ada di kota Cimahi ” ungkap kang Ganda RTD kepada Awak Media.
Soni S.






