Inovasi “Bucin” di Lumajang: Dr. dr. Imannurdin A.,M.Kes, Kembangkan BuCin sebagai Solusi Mengolah Limbah Rumah Tangga, Pakan Ternak dan Pupuk Organik

25 0

LUMAJANG , Gempur News.

– Siapa sangka hewan annelida yang sering dianggap menjijikkan justru menyimpan potensi ekonomi yang luar biasa. Di Kabupaten Lumajang, Dr. dr. Imannurdin Abdillah., M.Kes., menginisiasi dan mengembangkan Inovasi Siscamling- Terbaik LIA 2025, yang populer dengan sebutan “Bucin” atau Budidaya Cacing.

Program ini tidak hanya sekedar usaha budidaya, melainkan bagian dari upaya pemanfaatan limbah organik menjadi produk bernilai tinggi, yaitu cacing sebagai sumber protein pakan ternak dan kascing (kotoran cacing) sebagai pupuk organik berkualitas.

Mengapa “Bucin”?

Istilah “Bucin” yang dipopulerkan oleh Dr. dr. Imanurdin ini menjadi nama yang mudah diingat dan menarik minat masyarakat. Dalam pelatihan dan pendampingan hampir 1000 orang, yang rutin ia lakukan, “Bucin” diartikan sebagai gerakan memanfaatkan lahan sempit, bahkan di pekarangan rumah, untuk membudidayakan cacing jenis Lumbricus rubellus atau cacing merah.

“Kami mengajak masyarakat untuk tidak memandang sebelah mata terhadap cacing. Dengan ‘Bucin’ atau Budidaya Cacing, kita bisa mengubah sampah dapur dan limbah organik menjadi bernilai ekonomi. Ini adalah ekonomi kreatif yang sangat ramah lingkungan,” ujar Dr. dr. Imanurdin saat ditemui di lokasi budidaya, Kamis (23/4/2026).

Manfaat Ganda

Menurut praktisi kesehatan dan penggiat pertanian organik ini, budidaya cacing memberikan manfaat ganda yang sangat strategis bagi masyarakat Lumajang, terutama para petani dan peternak:

1. Sumber Pakan Alternatif: Daging cacing mengandung protein tinggi hampir 70%, terbaik untuk pakan ikan, ayam, bebek, hingga burung kicau. Hal ini dapat menekan biaya pembelian pakan pabrikan yang harganya terus melambung.

2. Pupuk Organik Premium: Hasil sampingan berupa kascing atau tanah cacing dikenal sebagai pupuk organik terbaik yang mampu menyuburkan tanah, meningkatkan kesuburan tanaman, dan bebas dari bahan kimia berbahaya.

Teknik Budidaya Sederhana

Dr.dr. Imanurdin menjelaskan bahwa teknik “Bucin” ini dirancang sangat sederhana agar bisa dijalankan oleh siapa saja, mulai dari kalangan pelajar hingga ibu rumah tangga. Media tanam yang digunakan biasanya berupa campuran kotoran ternak yang sudah difermentasi, serbuk gergaji, dan limbah sayuran atau sisa makanan organik.

Perawatan pun tergolong mudah, asalkan kelembapan terjaga dan terhindar dari sinar matahari langsung. Dalam waktu beberapa bulan, populasi cacing bisa berkembang biak dengan pesat dan siap panen.

Dukungan untuk Ketahanan Pangan

Inovasi “Bucin” ini mendapat apresiasi luas termasuk PKK Kabupaten Lumajang karena sejalan dengan program ketahanan pangan daerah. Dengan ketersediaan pupuk organik dan pakan ternak yang murah dan melimpah, diharapkan produktivitas pertanian dan peternakan di Lumajang dapat meningkat signifikan.

Ke depannya, Dr.dr. Imanurdin berencana memperluas jaringan mitra “Bucin” hingga ke tingkat desa melalui Program Siscamling PKK, serta memfasilitasi bibit indukan, media cacing, asam amino kascing sekitar 35 rb/ paket, pembelian cacing basah 1 ton/ hari, pembelian sayur sehat hasil budidaya (terong hijau, kacang panjang, timun, cabai merah/ hijau besar kecil total 8 ton/ hari bahkan pendampingan pembuatan starter kit untuk budidaya( Jo)

Related Post