
Cimahi Siapkan Kampung Sosial Berbasis Ketahanan Pangan, Strategi Baru Tekan Kemiskinan Lewat Pemberdayaan dan Wisata
Cimahi,Jumat(24/07/2026)
Pemerintah Kota Cimahi mulai mengubah paradigma penanggulangan kemiskinan dari sekadar pemberian bantuan sosial menuju pemberdayaan masyarakat yang berkelanjutan. Melalui Dinas Sosial, Pemkot Cimahi menginisiasi Program Kampung Sosial Berbasis Ketahanan Pangan dengan Orientasi Destinasi Wisata sebagai strategi baru untuk mempercepat pengentasan kemiskinan melalui kolaborasi lintas sektor.
Komitmen tersebut ditandai dengan penyelenggaraan Focus Group Discussion (FGD) Pengembangan Kampung Sosial Berbasis Ketahanan Pangan dengan Orientasi Destinasi Wisata yang berlangsung di Mal Pelayanan Publik (MPP) Kota Cimahi, Selasa (7/7/2026).
FGD dibuka oleh Wakil Wali Kota Cimahi, Adhitia Yudisthira, yang juga menjabat sebagai Ketua Tim Percepatan Penanggulangan Kemiskinan (TPPK) Kota Cimahi. Kegiatan tersebut diikuti sekitar 100 peserta yang terdiri dari unsur perangkat daerah, akademisi, pelaku usaha, organisasi kemasyarakatan, lembaga vertikal, komunitas, hingga insan media.
Dalam sambutannya, Adhitia menegaskan bahwa penanganan kemiskinan tidak lagi dapat mengandalkan pendekatan bantuan sosial semata. Menurutnya, masyarakat harus didorong agar mampu mandiri melalui pengembangan potensi yang dimiliki setiap wilayah.
“Kampung Sosial merupakan gagasan yang sangat baik dan memiliki potensi untuk direplikasi di seluruh wilayah Kota Cimahi. Kunci keberhasilannya terletak pada kolaborasi semua pihak agar masyarakat mampu menjadi mandiri secara sosial maupun ekonomi,” ujar Adhitia.
Ia menjelaskan, setiap kelurahan memiliki karakteristik dan potensi yang berbeda sehingga pembangunan harus dimulai dari tingkat RT, RW hingga kelurahan agar program yang dijalankan benar-benar sesuai dengan kebutuhan masyarakat.
Sementara itu, Kepala Dinas Sosial Kota Cimahi, Totong Solehudin, mengatakan Program Kampung Sosial merupakan inovasi pembangunan yang mengintegrasikan kesejahteraan sosial, ketahanan pangan, pemberdayaan ekonomi, pelestarian lingkungan, hingga pengembangan destinasi wisata berbasis potensi lokal.
Menurutnya, meski memiliki luas wilayah yang relatif kecil, Kota Cimahi masih menghadapi tantangan sosial akibat tingginya kepadatan penduduk. Berdasarkan Data Tunggal Sosial Ekonomi Nasional (DTSEN), masih terdapat masyarakat pada kelompok desil bawah yang memerlukan intervensi melalui penguatan perlindungan sosial sekaligus pemberdayaan ekonomi.
Sebagai tahap awal, program akan dikembangkan di Kelurahan Cipageran dan Kelurahan Citeureup yang dinilai memiliki potensi besar di bidang urban farming, kelembagaan sosial, usaha mikro, hingga wisata berbasis masyarakat. Seluruh potensi tersebut akan diintegrasikan menjadi kawasan pemberdayaan yang mampu menciptakan nilai tambah ekonomi bagi warga.
Dalam pelaksanaannya, Program Kampung Sosial mengadopsi pendekatan Pentahelix, yakni kolaborasi antara pemerintah, akademisi, dunia usaha, komunitas, dan media. Pendekatan tersebut dipadukan dengan konsep social engineering untuk mendorong perubahan perilaku masyarakat menuju kemandirian melalui penguatan ketahanan pangan dan ekonomi lokal.
Totong mengungkapkan, konsep Kampung Sosial juga mengadopsi metode Amati, Tiru, dan Modifikasi (ATM) dari sejumlah daerah yang berhasil mengembangkan kawasan wisata berbasis pertanian, kemudian disesuaikan dengan karakteristik Kota Cimahi.
Menariknya, kawasan tersebut juga direncanakan memanfaatkan kendaraan inovasi Komodo, karya anak bangsa asal Kota Cimahi, sebagai ikon sekaligus daya tarik wisata edukasi.
Menurut Totong, keberhasilan Program Kampung Sosial tidak hanya diukur dari menurunnya angka kemiskinan, tetapi juga dari meningkatnya kemandirian masyarakat, tumbuhnya aktivitas ekonomi lokal, terciptanya lingkungan yang produktif, serta hadirnya destinasi wisata berbasis pemberdayaan masyarakat.
Ia menambahkan, pengembangan program ini mengedepankan semangat gotong royong tanpa bergantung sepenuhnya pada Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD). Pemerintah Kota Cimahi membuka ruang kolaborasi melalui dukungan program tanggung jawab sosial perusahaan (CSR), perguruan tinggi, organisasi sosial, komunitas, hingga dunia usaha agar keberlanjutan program dapat terjaga dalam jangka panjang.
Melalui forum diskusi tersebut, Pemerintah Kota Cimahi berharap lahir berbagai rekomendasi strategis untuk menyempurnakan desain Program Kampung Sosial sebelum diimplementasikan di lapangan.
Program ini diharapkan menjadi model pemberdayaan masyarakat yang tidak hanya mampu mempercepat penanggulangan kemiskinan, tetapi juga menciptakan kawasan yang produktif, mandiri, berdaya saing, sekaligus mendukung terwujudnya visi Cimahi MANTAP melalui pembangunan yang inklusif dan berkelanjutan.
(Achmad/Yopi)









