PAMEKASAN – Sejak pagi, ember-ember plastik sudah berjejer di depan rumah. Ibu-ibu duduk di atas tikar sambil sesekali menengok ke ujung jalan. Yang mereka tunggu satu: bunyi klakson truk tangki air.
Ini pemandangan yang sudah 3 bulan jadi rutinitas di 82 desa di Kabupaten Pamekasan. Kemarau panjang akibat El Nino membuat sumur kering, sungai surut, dan tanah retak.
Data BPBD Pamekasan mencatat, hingga Jumat [21/8/2026] ada 281 dusun yang terdampak. Dari jumlah itu, 70 dusun masuk kategori “kering kritis”. Artinya, tidak ada sama sekali sumber air. 211 dusun lainnya “kering langka” – ada, tapi sangat terbatas.
Di kantor BPBD Pamekasan, Kepala BPBD Akhmad Dhohir Rosidi menunjukkan peta sebaran titik kekeringan. Garis merahnya hampir menutupi separuh kabupaten.
“Kita distribusikan bergilir. Tiap hari 5 sampai 6 tangki jalan. Satu tangki bisa muter 5-6 kali. Habis di satu dusun, lanjut ke dusun lain,” kata Dhohir, Kamis [20/8/2026].
Delapan armada truk dikerahkan. Pembagiannya dipetakan per wilayah. Proppo digabung Palengngaan. Larangan, Kadur dan Galis jadi satu tim. Pademawu dan Tlanakan masing-masing dapat satu armada.
Airnya bukan dari sembarang tempat. BPBD mengambil dari titik PDAM di Bukek, Blumbungan, Ponteh, dan Galis. Dari sana air diangkut, lalu dibagi ke warga yang sudah antre sejak subuh.
Beberapa nama desa kini paling sering disebut dalam laporan harian BPBD. Ada Dusun Rekrek di Desa Tanjung dan Pasanggar, Pegantenan. Ada Tampojung Tengginah di Waru. Ada Sana Laok dan Rakeng. Lesong Laok di Batu Marmar. Lalu Pangereman, Bengsereh, Bujur Timur, Bujur Tengah, Bujur Barat, sampai Batu Bintang.
Di tempat-tempat itu, kata Dhohir, sumur sudah sedalam 20 meter pun tak mengeluarkan air.
“Kemarau sekarang beda. Lebih panjang, lebih panas. Jadi kami minta warga pakai airnya bijak. Untuk minum dan masak didahulukan,” imbaunya.
Selain air, BPBD juga membagikan bantuan penunjang. Ada terpal untuk menampung air hujan kalau tiba-tiba turun. Ada jerigen. Tapi Dhohir jujur, jumlahnya terbatas.
“Kita rekap per hari berapa liter keluar. Nanti sebulan baru ketahuan totalnya. Kalau mendesak, bisa kita tambah,” pungkasnya.
Di luar kantor BPBD, matahari Pamekasan masih terik. Di kejauhan, suara truk tangki mulai terdengar. Sekelompok anak kecil langsung lari, berteriak: “Tangki air… tangki air sudah datang!” Bagi mereka, suara itu hari ini lebih ditunggu daripada hujan. (red)











