“Biasa Katanya”: Catatan Kabut Asap Kalsel dari Mata Seorang Pendatang

BANJARBARU – Berdasarkan tulisan rekan kami di Banjarbaru, dalam featurenya dituliskan bahwa dirinya bertemu Ema di teras sebuah warung kopi kecil dekat Bandara Syamsudin Noor, Selasa [19/8/2026] sore.

Sebagaimana dikisahkannya, perempuan 24 tahun asal Gresik itu baru 3 hari di Kalimantan Selatan. Di pangkuannya ada botol air putih dan masker yang sudah mulai lecek.

“Baru nyampe Minggu, Mbak. Tapi rasanya udah kayak sebulan di sini,” katanya sambil batuk kecil.

Langit di atas kami putih. Bukan mendung. Tapi kabut. Bau gosong tipis-tipis masuk ke hidung tiap ada angin lewat.

Ema cerita, waktu pertama mendarat hari Minggu siang, kondisinya belum separah ini.

“Waktu turun dari pesawat jam 12-an, saya lihat dari jendela mobil. Masih hijau. Pohon-pohon masih kelihatan. Saya kira aman,” ujarnya.

Ia bahkan sempat lega. Video-video pendaratan yang viral beberapa hari terakhir membuatnya sempat khawatir.

Tapi ketenangan itu cuma bertahan semalam. Senin pagi, Ema mulai kerja. Keluar kos jam 8.

“Langsung kelihatan. Jalanan kayak ada selimut tipis. Saya tanya ke supir, ‘Pak ini asap ya?’ Dia jawab sambil ketawa, ‘Iya Mbak. Di sini memang gini kalau kemarau. Udah biasa’,” tiru Ema.

Kalimat “udah biasa” itu yang paling ia ingat. Ia dengar lagi dari penjaga warung, dari tukang ojek, dari satpam kantor.

Bagi warga lokal mungkin sudah jadi rutinitas. Bagi Ema, ini pengalaman pertama. Puncaknya Selasa pagi. Ema harus antar dokumen ke area bandara.

“Gila Mbak, tulisan Bandara Syamsudin Noor yang gede itu ketutup. Bener-bener gak kelihatan dari jauh,” katanya sambil menunjuk ke arah bandara yang samar dari tempat kami duduk.

Malamnya, pas pulang naik motor, asapnya makin nyengat.

“Bau gosongnya masuk ke helm. Sekarang tenggorokan gatel. Dari kemarin agak batuk-batuk. Jadinya bawa air terus,” katanya sambil mengangkat botol minumnya.

Ema sempat buka HP dan baca berita. Ternyata kabut ini sampai ke Malaysia. Ada 108 sekolah yang diliburkan di sana.

“Ngeri ya Mbak. Berarti ini bukan urusan Kalsel aja. Kebayang kalau yang tinggal di sini dari kecil. Pasti tiap tahun ngerasain ini,” ucapnya pelan.

Ia mengaku belum bisa banyak berbuat. Kerjaan harus jalan. Yang bisa dilakukan cuma jaga diri: pakai masker, minum vitamin, kurangi keluar kalau tidak perlu.

“Semoga cepat hujan. Semoga cepat padam. Kasihan anak-anak,” tutupnya sebelum pamit masuk kantor.

Saya mengantarnya sampai depan. Kabut masih menggantung. Di kejauhan, sirine mobil pemadam terdengar sayup-sayup.

Bagi sebagian orang ini “biasa”. Tapi bagi seorang pendatang seperti Ema, ini adalah cara Kalimantan Selatan menyambutnya: dengan langit yang tidak lagi biru. (red)