Rotan dan Pecut di Tengah Kemarau: Ketika Ojung dan Tiban Memanggil Hujan di Langit Jawa Timur

SURABAYA – Kemarau panjang datang lagi. Sawah retak. Sumur menyusut. Langit di atas Jawa Timur putih, tidak memberi janji. Di saat doa di masjid dan mushala dipanjatkan, di beberapa desa tradisi lain juga dinyalakan. Bukan doa dengan kata-kata saja. Tapi doa yang ditunjukkan lewat luka, lewat darah, lewat dua orang lelaki yang bertarung di tengah lapangan.

Orang Madura menyebutnya ojung. Orang Kediri, Tulungagung, Blitar, Trenggalek menyebutnya tiban.Namanya beda. Caranya beda. Tapi tujuannya satu: meminta hujan.

Di Pamekasan dan Sumenep, kalau kemarau terlalu lama, tokoh adat yang disebut babuto akan turun tangan. Ia yang memimpin. Ia yang menentukan kapan ojung digelar.

Lapangan desa dibersihkan. Pengeras suara tua dipasang. Musik tradisional ditabuh. Lalu dua orang maju ke tengah. Tangan kanan memegang rotan. Kaki telanjang menginjak tanah.

Itu bukan perkelahian. Itu okol – gulat tradisional. Mereka saling pukul, saling menghindar, saling menjatuhkan. Rotan berdesing di udara. Tawa, sorak, dan doa bercampur jadi satu.

“Ojung bukan cuma minta hujan,” kata seorang sesepuh di Pamekasan. “Ini juga tolak bala. Sekaligus ngumpulno sedulur.”

Benar. Usai pertarungan, tidak ada dendam. Yang ada salaman, makan bersama, dan obrolan panjang. Ojung mempererat silaturahmi di saat paceklik paling sulit.

Tradisi ini tidak hanya hidup di kepulauan Madura. Ia merambat ke Tapal Kuda. Di Situbondo, Bondowoso, sebagian Banyuwangi, ojung masih digelar dengan cara yang sama: rotan, musik, dan babuto sebagai pemuka.

Geser ke selatan, ke Kediri, Tulungagung, Blitar, Trenggalek. Di sana tidak ada rotan. Yang ada pecut. Tiban lebih keras. Lebih senyap.

Dua lelaki berdiri berhadapan. Di tangan mereka cambuk dari lidi aren. Tidak ada musik sekeras ojung. Yang terdengar hanya gamelan pelan, dan suara pecut yang menyambar. Satu kali cambuk. Dua kali. Sampai kulit terluka dan darah menetes ke tanah. Bagi warga, darah itu bukan kekerasan. Itu persembahan.

“Darah yang jatuh ke tanah diyakini jadi simbol. Supaya tanah subur lagi. Supaya hujan turun,” ujar seorang warga di Trenggalek.

Tiban tidak digelar untuk tontonan. Ia digelar karena putus asa. Karena sawah sudah tidak bisa ditanami. Karena anak-anak harus jalan jauh untuk menimba air. Usai tiban, luka diobati. Tapi harapannya satu: awan hitam datang malam itu juga.

Ojung pakai rotan. Tiban pakai pecut.
Ojung diiringi sorak ramai. Tiban diiringi gamelan khidmat.
Ojung dipimpin babuto. Tiban dipimpin sesepuh desa. Tapi keduanya lahir dari keresahan yang sama: kemarau yang terlalu panjang.

Jawa Timur memang unik. Satu provinsi, tapi punya dua bahasa tubuh untuk berdoa pada langit.

Di Madura, doa itu lincah dan komunal. Di Mataraman, doa itu sunyi dan penuh pengorbanan.

Perbedaan alat itu bukan soal siapa lebih benar. Itu soal bagaimana tanah membentuk cara manusia berbicara dengan Tuhannya. Yang menarik bukan cuma ritualnya. Tapi namanya. Ojung. Tiban.
Dua kata, satu makna: minta hujan.

Keberagaman istilah ini menunjukkan sesuatu yang lebih dalam. Bahasa daerah di Jawa Timur bukan hanya alat ngobrol. Ia adalah gudang.

Di dalam kata “ojung” tersimpan cerita tentang gulat, rotan, dan babuto.
Di dalam kata “tiban” tersimpan ingatan tentang pecut, darah, dan gamelan. Kalau kata itu hilang, hilang juga cara orang dulu memahami kemarau.

Itulah kenapa sampai hari ini, meski BMKG sudah ada, meski pompa air sudah canggih, beberapa desa masih menggelar ojung dan tiban. Bukan karena menolak sains. Tapi karena mereka percaya, ada hal yang tidak bisa diminta lewat aplikasi: kerendahan hati di hadapan alam.

Tahun ini kemarau kembali panjang. Di beberapa titik, ojung kembali digelar. Anak-anak menonton sambil makan jagung bakar. Orang tua duduk di pinggir lapangan.

Di tempat lain, tiban kembali diadakan. Sunyi. Khidmat. Dengan darah yang menetes pelan. Mungkin hujan tidak langsung turun keesokan harinya. Mungkin butuh seminggu. Mungkin butuh sebulan.

Tapi bagi mereka, yang penting bukan cepat atau lambat. Yang penting: kita sudah berusaha. Kita sudah meminta. Kita sudah mengorbankan sesuatu.

Karena di Jawa Timur, meminta hujan tidak pernah hanya soal air.
Ia soal kebersamaan. Soal ingatan. Soal cara manusia mengakui bahwa ia kecil di bawah langit.

Selama kemarau masih datang, selama tanah masih retak, maka rotan akan tetap diayun. Pecut akan tetap dicambukkan. Dan doa-doa itu, dengan nama yang berbeda, akan terus naik ke atas.

Catatan: tulisan ini disusun berdasarkan kajian tradisi masyarakat di Madura, Tapal Kuda, dan wilayah Mataraman Jawa Timur. (red)