LUMAJANG – Sabtu pagi [29/8/2026] nanti, Jalan Alun-Alun Utara sampai Adipura tidak akan biasa.
Selama beberapa jam, aspal itu akan berubah jadi panggung. Bukan panggung musik. Tapi panggung sejarah.
Lumajang Carnival 2026 kembali. Mengusung tema “Sejarah dan Budaya”, karnaval ini akan menurunkan peserta dari 20 kecamatan dan seluruh perangkat daerah. Tidak ada yang ketinggalan.
Bupati Lumajang, Indah Amperawati, sengaja memilih tema itu. Alasannya sederhana: biar anak muda Lumajang ingat, mereka punya warisan.
“Temanya sejarah dan budaya. Tidak boleh pakai kostum yang minim dan erotis, kan itu ada imbauan MUI, tidak boleh,” kata Indah saat ditemui Kamis [20/8/2026].
Larangan itu bukan untuk mematikan kreativitas. Justru sebaliknya. Indah ingin membuktikan karnaval bisa tetap meriah tanpa harus erotis.
“Kita punya Topeng Kaliwungu, ada Jaran Kencak, ada Tari Kopiyah. Itu kan seni budaya, juga hiburan untuk masyarakat,” ujarnya.
Bayangkan: topeng kayu Kaliwungu menari di tengah jalan, iringan Jaran Kencak menghentak, dan puluhan penari Kopiyah melenggak diiringi sorak warga. Itu yang akan terjadi 29 Agustus nanti.
Indah berharap, semangat ini menular. Dari karnaval kabupaten, sampai ke karnaval desa dan lingkungan.
“Saya ingin mencontohkan bahwa dengan karnaval bertema sejarah dan budaya ini juga sangat menarik, tidak perlu yang erotis-erotis,” katanya.
Tapi karnaval bukan cuma soal budaya. Di pinggir jalan, di sela keramaian, ada harapan lain: rezeki.
“Yang paling berdampak itu ekonomi rakyat. UMKM itu nanti akan banyak. Di mana ada keramaian, di sana mereka akan berjualan,” pungkas Indah.
Dan benar. Setiap kali ada keramaian, gerobak bakso, es teh, cilok, dan kerajinan tangan Lumajang pasti ikut antre.
Lumajang Carnival 2026 diproyeksikan jadi pasar terbuka terbesar. Pelaku UMKM kuliner sampai kerajinan bisa menjajakan dagangan ke ribuan pengunjung yang memadati rute.
Rutenya sudah ditetapkan: Start dari Jalan Alun-Alun Utara → Diponegoro → Hariyono Ghozali → PB Sudirman → finish di kawasan Adipura.
Panitia berpesan: datang, nonton, tapi jaga.
Jaga kebersihan. Jaga ketertiban. Beri ruang untuk peserta dan petugas.
Karena di ujung hari, Lumajang Carnival bukan cuma pesta.
Ini cara Lumajang mengingatkan dirinya sendiri: kita punya Topeng Kaliwungu. Kita punya Jaran Kencak. Kita punya cerita.
Dan cerita itu, tahun ini, akan diarak keliling kota. Sambil di sampingnya, UMKM Lumajang ikut bertumbuh. (red)











