LUMAJANG Gempurnews.com — Untuk kesekian kalinya, festival jaran kencak digelar Pemkab Lumajang sebagai rangkaian Hari Jadi Lumajang (Harjalu) Ke-764, Sabtu (06/12/2019.
Festival Jaran Kencak menjadi salah satu upaya Pemkab Lumajang memberikan motivasi bagi seniman jaran kencak untuk terus berkesenian. Pada Harjalu kali ini, diperkirakan sebanyak 90 ekor kuda ikut serta memeriahkan harjalu tahun ini.
Bertempat di depan pendopo Arya Wiraraja, Harjalu 764 dibuka oleh bupati dan wakil bupati Lumajang, Cak Thoriq dan Bunda Indah.
Dalam sambutannya, Cak Thoriq menyampaikan potensi yang dimiliki Kabupaten Lumajang terkait sumber daya alam dan pariwisatanya yang mempesona.
Dalam kesempatan ini, Cak Thoriq juga mengungkapkan bahwa Pemkab Lumajang siap melestarikan kesenian tari kopyah sebagai tari kebanggaan masyarakat Lumajang.
Ia melontarkan pengumuman (woro woro) kepada masyarakat luas untuk mengikuti sayembara design grafis Lumajang Eksotis, disediakan hadiah Rp 20 juta bagi para pemenang dan Rp 10 juta bagi pemenang terbaik.
“Pemkab Lumajang terus melestarikan budaya bangsa dan terus menggali potensi asli yang ada di Lumajang,” ungkap Bunda Indah di tempat yang sama.
Acara seperti ini digelar setiap tahun untuk melestarian dan mengembangkan seni budaya yang ada di Lumajang termasuk seni jaran kencak dan tari kopyah.
Jaran kencak telah diakui sebagai warisan budaya Indonesia tak benda sekaligus sudah diakui sebagai kesenian asli Lumajang.
Dalam sejarahnya, kuda kencak masa Kolonial Belanda masih di kenal Jaran kepang, di lestarikan orang ponorogo di lumajang. tahun 1934
Pada Awalnya, Jaran Kencak di sebut dengan jaran kepang meskipun bukan terbuat dari anyaman bambu, karena pada saat itu tahun 1775 kuda yang di kendarai rombongan dari Ponorogo hendak mengirimkan delegasi ke Bali, untuk menjalin persaudaraan kerabat dan sudara Batara Kathong dari kerajaan Majapahit yang mengungsi ke bali serta membawa berita bahwa kesultanan Mataram terbagi menjadi dua yakni Yogyakarta dan Surakarta .
Namun ketika sampai di Lumajang, kuda yang di kenakan seragam zirah perang seperti di pewayangan untuk di persembahkan di bali, memberontak kesana kemari dan menendang-nendang tiada henti melawan rombongan, hingga dibuat sebuah keputusan bahwa kuda dan beberapa penjaga untuk tetap tinggal di lumajang untuk menenangkan kuda, sedangkan rombongan tetap melanjutkan ke Bali.
Hingga akhirnya kuda yang memberontak menjadi tenang dan jinak kembali, warga sekitar yang melihat kuda dijinakan tersebut merasa terhibur, Sejak saat itu menjadi sebuah kesenian bernama Jaran Ngepang yang berarti kuda menendang, tetapi lebih dikenal dengan nama Jaran Kepang.
Pada tahun 1806, cakraningrat sampang memindahkan sebanyak 250.000 orang sampang madura ke pulau jawa bagian tapal kuda seperti Lumajang.
Orang madura yang menjadi punduduk Lumajang juga menggemari kesenian bernama jaran Kepang ini, karena seekor kuda dengan kostum perang khas pewayangan jawa bertarung berdiri menggunakan dua kaki dengan pawangnya, setelah kemerdekaan republik Indonesia jaran kepang lebih di kenal dengan jaran pencak dan menjadi Jaran Kencak yang dikenal hingga saat ini. (adv/red)



