Aset Budaya Terabaikan, Wayang Krucil Terancam Punah

780 0

LUMAJANG – Mendengar nama kesenian wayang, mungkin secara umum pikiran masyarakat akan langsung tertuju kepada kesenian wayang kulit, wayang golek, atau wayang orang. Namun, sebagian masyarakat mungkin belum mengetahui bahwa masih ada satu lagi jenis kesenian wayang, yakni kesenian Wayang Krucil.

Wayang Krucil merupakan salah satu bentuk seni pertunjukan yang menggunakan wayang berukuran kecil, terbuat dari kayu pipih (waru, pinus, atau mentaos) dengan tangan terbuat dari kulit sehingga mudah digerak-gerakkan oleh dalang.

Seorang pengrajin Wayang Krucil di Desa Sidorejo Kecamatan Rowokangkung di Kabupaten Lumajang, Soeparno Padmowardoyo (89), mengatakan bahwa penamaan wayang krucil ini dikarenakan ukurannya yang lebih kecil dibandingkan wayang kulit, hanya sekitar 30 cm.

Dituturkanya, kesenian Wayang Krucil yang dijalaninya mengalami masa kejayaan di tahun 90an, dan di masa itu dirinya sering manggung hingga keluar kota, seperti di Kota Surabaya maupun di beberapa kota lainnya di Jawa Timur.

Keahlian mendalang tersebut, diwarisi dari mendiang orang tuanya yang juga seorang dalang dari Kabupaten Blitar, dan dirinya bisa memainkan kesenian Wayang Kulit dan Wayang Krucil. Perbedaannya adalah Wayang Kulit bercerita tentang cerita pewayangan, sedangkan Wayang Krucil umumnya bercerita tentang petunjuk hidup dan kisah nabi yang berasal dari Al Quran.

Menurut Soeparno, dalam beberapa tahun terakhir pertunjukan kesenian Wayang Krucil jarang ditemui, kemudian jumlah pengrajin Wayang Krucil juga mulai terbatas karena banyak yang beralih profesi dan tidak ada penerus yang melanjutkan.

Selain itu, dikatakannya, bahwa saat masa kejayaannya dulu, dirinya mempekerjakan sekitar 15 orang karyawan untuk membuat kerajinan Wayang Krucil, karena banjir akan adanya pesanan yang datang dari area Jawa Timur, Bali, dan Kalimantan.

Bahkan, ada juga pesanan dari manca negara. Kemudian, lambat laun kejayaan tersebut mulai meredup ketika terjadinya peristiwa bom Bali 1 dan 2, dan hal itu sangat mempengaruhi jumlah pemesanan, tertutama dari manca negara karena jumlah wisatawan yang berkunjung ke Bali saat itu mengalami penurunan yang sangat drastis, sehingga saat ini sudah tidak lagi memproduksi kerajinan Wayang Krucil.

“Sekarang tidak ada lagi generasi muda yang mau belajar membuat wayang krucil sebagai upaya melestarikan budaya. Sebenarnya, saya masih bersedia mengajari anak-anak muda untuk membuat wayang krucil, karena diusia lanjut seperti sekarang saya sudah tidak mampu lagi untuk memproduksinya,” tuturnya.

Sementara itu Kepala Desa Sidorejo Heru Subiyantoro mengatakan, bahwa kerajinan dan kesenian Wayang Krucil di Desa Sidorejo Kecamatan Rowokangkung Kabupaten Lumajang, Jawa Timur terancam punah, karena kesenian tersebut terkendala regenerasi untuk mempertahankan kreativitas yang sekaligus aset budaya.

“Di sini (Desa Sidorejo, red) regenerasinya hampir tidak ada. Untuk itu, kami Pemerintah Desa akan bersinergi dengan Pemerintah Daerah untuk memberi perhatian, memfasilitasi maupun memberikan pelatihan-pelatihan, sehingga kerajinan dan kesenian Wayang Krucil tidak sampai punah,” kata dia saat mengunjungi kediaman seorang pengrajin Wayang Krucil Mbah Soeparno Padmowardoyo, di Desa Sidorejo, Rabu (21/4/2021).

Menurutnya, kerajinan dan kesenian Wayang Krucil di Desa Sidorejo mulai berkurang karena banyak yang beralih profesi dan tidak ada penerus yang melanjutkan. Oleh karena itu, pihaknya akan berusaha menghidupkan kembali kerajinan dan kesenian wayang krucil tersebut melalui kegiatan karang taruna.

Lanjut dia, saat ini di Desa Sidorejo ada dalang cilik yang mempunyai potensi, namun ia masih duduk di bangku sekolah dasar. Heru berharap potensi tersebut dapat mengembalikan kejayaan kesenian wayang di daerahnya, sekaligus melestarikan budaya.

Ia menambahkan, bahwa melalui kegiatan karang taruna yang mayoritas anggotanya adalah pemuda-pemudi desa, maka hal tersebut akan dapat menunjang upaya yang dilakukan untuk meyakinkan anak-anak muda sebagai generasi penerus untuk turut melestarikan kesenian Wayang Krucil.

“Untuk mendorong regenerasi itu, pemerintah juga memerlukan perhatian serius dari semua stakeholder, karena kelangsungan budaya kerajinan dan kesenian yang merupakan identitas bangsa harus diwariskan kepada anak cucu kita,” imbuh dia. (tim)

Related Post