Oleh: AB Udayana
Angin berhembus dari selatan menyibak rambutnya yang tergerai sebahu, senyum manisnya seakan tak pernah lepas dari bibir mungilnya, kian menambah anggun penampilannya.
Sonia sore itu ingin menikmati indahnya panorama pantai Wotgalih, yang kata orang dibilang eksotik, bersama dua sahabatnya, erika dan santi, mereka duduk di gazebo yang sudah disediakan oleh pengelola.
Deru ombak, dan desiran angin pantai serasa mengurai kepenatannya selama seminggu yang penuh sesak dengan persoalan dikantornya.
Seminggu sebelumnya, Sonia bersitegang dengan Kuncoro teman sejawatnya, kala itu Sonia bersikeras menyusun proposal harus berdasarkan fakta dilapangan, sedangkan Kuncoro memaksa agar tim menyusun sesuai keinginan Pimpinan.
“Memang kita tahu, penganggaran dan lokasinya berbeda dari realnya, namun ini adalah keinginan bapak yang harus kita patuhi,” ucapan Kuncoro dengan nada tinggi.
“Mas, memang beliau adalah pimpinan yang harus kita patuhi, akan tetapi hal ini menyangkut tanggung jawab kita sebagai tim pelaksananya”. Protes Sonia waktu itu.
Perdebatan semakin meruncing ketika kuncoro mengungkit – ungkit jasanya ketika merekomendasikan Sonia menjadi salah satu staf ahli.
Ternyata demi mencari perhatian dan kepercayaan pimpinan, Kuncoro rela melakukan apa saja tak perduli benar atau salah langkahnya, baginya menyenangkan pimpinan akan memperkuat posisinya sekaligus agar bisa menjadi orang kepercayaannya.
Lain halnya dengan Sonia yang dibesarkan dari keluarga yang cukup kuat memegang amanah, dan selalu berdasar wejangan- wejangan adiluhung, pedoman yang dianut mengharuskan berlaku jejeg tidak mengada – ada dan lebih – lebih jika berakibat merugikan orang banyak, atau merugikan negara, jelas hal ini dianggap wiràng atau perbuatan memalukan.
Akibat perselisihan itu, selama seminggu pekerjaan mereka jadi tarik ulur yang mengakibatkan tim terbelah, dan Sonia dengan jiwa ksatria mengundurkan diri, memilih hidup tenang bersama keluarganya.
Pantai Wotgalih, sore itu nampak ramai pengunjung, Sonia memilih tempat yang agak sepi.
Matanya memandang jauh lepas pantai, yang sesekali dihiasi gelombang ombak yang menerpa batu karang yang sangat kokoh.
Dalam hatinya muncul sebuah kekuatan yang sangat dahsyat, terlihat ratusan dayung siap mengantar mereka mengarungi samudra harapan.
Kekuatan karang yang keras dan tajam, bukan menjadi halangan bagi Sonia, akan tetapi hal itu sebuah tantangan yang harus dilalui dengan sepenuh hati, untuk menggapai sebuah kesuksesan yang didasari budi pekerti dan nurani.**






