LUMAJANG – Seminggu menjelang Maulid Nabi, Pasar Baru Lumajang berubah. Dari lorong buah yang biasanya sepi pembeli di pagi hari, kini ramai suara pisau memotong apel, kresek plastik, dan pita warna-warni.
Di meja-meja kayu, para pedagang sibuk. Tangan mereka lincah merangkai parcel. Apel merah disusun rapi di tengah, dikelilingi jeruk, buah naga, mangga, anggur, kelengkeng, sampai buah lain sesuai permintaan.
H-7 Maulid Nabi, pesanan parcel buah masuk tanpa henti. Ada yang untuk selamatan di masjid, ada yang untuk silaturahmi ke rumah sanak saudara, ada juga yang sekadar hantaran.
“Yang pesan banyak. Dari instansi, warga, sampai takmir masjid,” kata salah satu pedagang sambil mengikat pita emas di atas keranjang.
Parcel buah memang jadi pilihan utama warga Lumajang saat Maulid. Isinya lengkap, praktis, dan kesannya lebih “mewah” dibanding bawa buah kiloan.
Isinya bebas. Mau dominan apel dan anggur boleh. Mau dicampur buah naga dan kelengkeng juga bisa. Semua tergantung permintaan pembeli.
Sanimah, salah satu pedagang buah di Pasar Baru, merasakan betul bedanya.
“Omzet penjualan buah meningkat dibandingkan hari biasa. Kenaikannya bahkan mencapai sekitar 50 persen,” ujarnya Kamis [20/8/2026].
Harga parcelnya pun beragam. Mulai dari yang paling sederhana Rp 15 ribu, isinya 3-4 jenis buah untuk bingkisan kecil. Sampai yang paling besar Rp 150 ribu, satu keranjang penuh buah premium dengan kemasan cantik.
“Yang Rp 15 ribu banyak dicari buat dibagi ke tetangga. Kalau yang Rp 150 ribu biasanya buat acara besar di masjid,” jelas Sanimah.
Di balik keranjang dan pita itu, ada cerita. Ada ibu-ibu yang lembur sampai malam demi mengejar pesanan. Ada bapak-bapak yang bolak-balik ke Pasar Induk demi stok apel dan anggur tidak habis.
Maulid Nabi membawa berkah berlipat. Perut kenyang karena berkah, dompet pun ikut terisi.
Pasar Baru yang biasanya tenang menjelang siang, kini buka lebih awal dan tutup lebih malam. Aroma buah bercampur aroma semangat.
Tradisi Maulid di Lumajang memang selalu identik dengan berbagi. Dan buah, adalah bahasa berbagi yang paling mudah dimengerti.
Lewat parcel, warga bisa saling mengunjungi. Lewat parcel, pedagang kecil bisa tersenyum.
Jelang Maulid tahun ini, Pasar Baru Lumajang membuktikan satu hal: peringatan Nabi tidak hanya menggerakkan iman, tapi juga menggerakkan ekonomi.
Dari satu keranjang buah Rp 15 ribu, sampai satu keranjang Rp 150 ribu. Semuanya punya cerita yang sama: berkah yang dibagi, rezeki yang datang. (red)











