TEMANGGUNG – Ritual Sadran 1.000 Ketupat berlangsung di Sumber Air Lembah Dawuhan, Desa Ngemplak, Kecamatan Kandangan, Temanggung. Jumat [3/8/2026].
Pagi masih dingin saat warga berjalan kaki sejauh 1 kilometer. Tujuan mereka sama: lembah Dawuhan. Di sanalah ada sumber air. Dan di sanalah, setiap habis panen, tradisi tua digelar lagi. Namanya Sadran 1.000 Ketupat.
Di atas tikar, di atas daun pisang, ketupat datang dari tiap rumah. Ada yang bungkusnya rapi, ada yang masih hangat. Satu persatu diletakkan. Sampai hitungannya genap seribu.
Usai doa bersama, ketupat itu dibagi. Sebagian dimakan di tempat, sambil duduk melingkar. Sebagian lagi dibungkus pulang untuk keluarga.

Bagi warga Ngemplak, ini bukan sekadar makan bersama. Ini cara mengucap terima kasih.
Tohadi, 71 tahun, mantan Kepala Desa Ngemplak, bercerita sambil menatap sumber air.
“Ritual ini untuk mengenang jasa Kyai dan Nyai Lenging. Beliau yang membuat saluran air untuk sawah kita,” ujarnya.
Dulu, kata Tohadi, Nyai Lenging menyiapkan satu ketupat setiap hari untuk Kyai Lenging selama mengerjakan saluran air. Tepat di hari ke-1.000, saluran itu selesai.
Sejak itu, setiap panen tiba, warga membalasnya dengan 1.000 ketupat. “Ritual digelar usai panen, kami bersyukur atas segala nikmat yang telah diberikan Tuhan,” jelasnya.
Tapi maknanya tidak berhenti di situ. Sadran juga tentang air. Tentang menjaga sumber. Tentang cinta pada alam.
Yang menarik, tradisi ini tidak dimakan zaman. Warga Ngemplak justru mengemasnya lagi. Kini, Sadran bukan hanya milik warga Ngemplak. Ia mulai dilirik orang luar.
“Alhamdulillah hingga sampai saat ini seluruh warga Ngemplak selalu berusaha untuk menjaga dan melestarikan warisan budaya Ritual sadran 1000 kupat ini dengan mengemas menjadi lebih menarik lagi, supaya banyak masyarakat yang mengetahui dan mengunjungi Desa kami sebagai destinasi Desa Wisata Budaya,” harap Tohadi.
Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Temanggung, Wara Andijani, yang hadir usai ritual, melihat peluang itu.
“Jika acara seperti ini ditata dengan lebih baik akan dapat mendatangkan turis yang lebih banyak dan tentunya akan mempengaruhi ekonomi dari warga sekitar Desa Ngemplak itu sendiri,” katanya.
Pemerintah daerah, kata Wara, tidak akan tinggal diam. Ada anggaran disiapkan. Ada dorongan untuk mengemas ritual ini jadi lebih rapi, lebih menarik, tapi tetap menjaga ruh aslinya.
“Kami menyediakan anggaran untuk mengembangkan potensi tersebut agar menjadi destinasi wisata budaya yang indah supaya Temanggung menjadi daerah yang memang kaya akan budaya,” pungkasnya.
Di lembah Dawuhan sore itu, sumber air masih mengalir jernih. Sama seperti 1.000 hari kerja Kyai dan Nyai Lenging dulu.
Warga makan ketupat bersama. Anak-anak berlarian. Tetua bercerita. Sadran 1.000 Ketupat mengingatkan satu hal sederhana: panen tidak datang sendiri. Ada air yang dijaga. Ada orang yang berjuang. Ada Tuhan yang memberi.
Dan selama air itu masih dijaga, selama ketupat itu masih dibuat, cerita Ngemplak akan terus hidup. Bukan hanya di dapur warga, tapi juga di peta wisata budaya Temanggung. (red)











