Home Blog Page 2437

Pemilu, Pilkada dan Perlunya Post No Bills

Jakarta – Diyakini mayoritas penduduk negeri kita sudah cukup mapan dalam berdemokrasi dengan pengalaman puluhan kali Pemilu sejak merdeka 1945.

Kontenstan dan pendukung tiada hentinya diajarkan tentang sikap dan kesiapan mental untuk menerima status KALAH atau MENANG pada Pemilu atau Pilkada.

Memang, gesekan yang timbul dalam proses demokrasi termasuk kampanye adalah wajar, lumrah dan merupakan bunga-bunga demokrasi utamanya di negeri dengan Kebhinnekaan yang kental seperti Indonesia.

Beberapa waktu yang lalu sebelum pra kampanye Pilkada, saya pernah usulkan agar KPU memperbanyak atau jika perlu mengharuskan kampanye melalui IT, koran, TV, medsos, WA dan sejenisnya dan agar mengurangi kampanye blusukan khususnya di DKI Jakarta untuk mengurangi eskalasi dampak gesekan fisik antar pendukung kontestan seperti berkembang pada saat ini.

Hari ini khususnya di Ibukota Jakarta media melaporkan aksi protes dan keberatan pemasangan poster, stiker salah satu kontestan di rumah pendukung kontestan yang berbeda haluan dengan kontestan lainnya.

Fenomena ini jika tidak diantisipasi dengan baik dan hati-hati dapat memicu ketidak harmonisan di akar rumput dan pada gilirannya bermuara ke masalah hukum.

Untuk itu saya usulkan kembali agar KPU dan Pemda segera membuat aturan atau larangan untuk menempel poster/stiker/baliho kampanye di sembarang tempat fasum.

Sebaliknya KPU dan Pemda agar menyediakan fasilitas – sarana tembok khusus dalam bentuk seperti Post No Bills khusus untuk menempel segala bentuk poster, spanduk, brosur dll seperti di manca negara maju.

Penempatan poster-stiker baliho tidak diijinkan di sembarangan tempat (jembatan penyeberangan, tiang listrik, tembok atau dinding rumah penduduk dll) karena merusak – mengganggu pemandangan.

Dengan demikian keindahan, kerapihan kota dan lingkungan tetap terjaga dan tidak dikotori oleh penempelan segala jenis stiker, brosur, yang merusak pemandangan dan keindahan lingkungan di saat kampanye atau bukan.

Sahat Sitorus
Pondok Bambu, Jakarta Timur
sahatsitorus2015@yahoo.com
(wwn/wwn)

Kontrak Karya Freeport: Kontrak Publik atau Privat?

Jakarta – Akhir-akhir ini, berkembang diskursus menarik mengenai status hukum Kontrak Karya (KK) antara Pemerintah RI dengan PT Freeport Indonesia (PT FI) yang ditandatangani pada tahun 1991 untuk masa waktu 30 tahun atau sampai dengan 2021.

Seiring dengan adanya keinginan Pemerintah Indonesia untuk menerapkan legislasi dan regulasi di bidang mineral kepada PT FI, terdapat penolakan dari PT FI. Alasan utamanya, yaitu KK tidak dapat serta merta diubah tanpa ada kesepakatan kedua belah pihak.

Padahal, Pemerintah telah berupaya mengakomodir segala kepentingan PT FI mesti memiliki potensi melanggar peraturan perundang-undangan yang ada.

Seolah, bekeras pada sikapnya, bahkan PT FI berencana mengajukan gugatan arbitrase atas dugaan wanprestasi Pemerintah atas KK. Dalam peraturan hukum perjanjian, benarkah sikap Pemerintah dan PT FI mendudukan secara hukum posisi KK?

Asas Pacta Sunt Servanda

Dalam hukum perjanjian, dikenal sebuah asas, yaitu asas Pacta Sunt Servanda. Pacta Sunt Servanda pertama kali diperkenalkan oleh Grotius yang menjadi dasar hukum perikatan dengan mengambil prinsip-prinsip dalam hukum alam.

Bahwa seseorang yang mengikatkan diri pada sebuah janji mutlak untuk memenuhi janji tersebut (promissorum implendorum obligati).

Pacta Sunt Servanda atau aggrements must be kept merupakan asas hukum yang menyatakan bahwa: “Setiap perjanjian menjadi hukum yang mengikat bagi para pihak yang melakukan perjanjian”.

Asas ini menjadi juga dasar hukum Internasional karena termaktub dalam Pasal 26 Konvensi Wina 1969 yang menyatakan bahwa: “Every treaty in force is binding upon the parties to it and must be performed by them in good faith”.

Dalam hukum nasional Indonesia, asas ini tertuang dalam Pasal 1338 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata (KUHPer) yang menyatakan bahwa: “Semua persetujuan yang dibuat secara sah sesuai dengan undang-undang berlaku sebagai undang-undang bagi mereka yang membuatnya”.

Itulah mengapa, perjanjian yang dibuat oleh para pihak harus dianggap suci. Ada sanctity of contract yang berlaku dalam sebuah kontrak.

Kesucian kontrak ini, menyangkut pula relasi pembentukan kontrak dengan syarat sah perjanjian yang diatur dalam Pasal 1320 KUHper. Salah satu syarat sah perjanjian yaitu adanya suatu sebab yang halal (lebih tepat disebut sebab yang diperbolehkan).

Sebab yang diperbolehkan tersebut, ditegaskan dalam Pasal 1337 KUHPerdata yaitu suatu sebab adalah terlarang, jika sebab itu dilarang oleh undang-undang atau bila sebab itu bertentangan dengan kesusilaan baik atau dengan ketertiban umum.

Artinya, ketika Kontrak sudah ditandatangani maka kontrak mengikat kedua belah pihak, kecuali bila kontrak batal demi hukum atau dibatalkan karena tidak memenuhi syarat objektif atau subjektif sahnya sebuah perjanjian sebagaimana diatur dalam Pasal 1320 KUHPer.

Memaknai hal di atas, KK PT FI sebagai sebuah kontrak tunduk pada ketentuan di atas. KK PT FI pun harus dianggap memiliki sanctity of contract dan atasnya berlaku asas pacta sunt servanda.

Kontrak Publik vs Kontrak Privat

Negara sebagai sebuah badan hukum, terpersonifikasi ke dalam dua bentuk badan hukum, yaitu sebagai badan hukum publik dan badan hukum privat (perdata).

Pemerintah sebagai legal entity dapat berada dalam kedudukan badan hukum sebagaimana diatur dalam Pasal 1653 KUHPerdata yaitu dalam keadaan tiga macam, yakni manakala: (1) badan hukum yang diadakan oleh kekuasaan umum; (2) badan hukum yang diakui oleh kekuasaan umum; dan (3) badan hukum yang diperkenankan dan yang didirikan dengan tujuan tertentu yang tidak bertentangan dengan undang-undang atau kesusilaan (badan hukum dengan konstruksi keperdataan).

Selain sebagai badan hukum publik, Pemerintah pun dapat bertransformasi menjadi badan hukum privat sebagaimana dipertegas dalam Pasal 1654 KUHPer, yang menyatakan: “Semua badan hukum yang berdiri dengan sah, begitu pula orang-orang swasta, berkuasa untuk melakukan perbuatan-perbuatan perdata, tanpa mengurangi perundang-undangan yang mengubah kekuasaan itu, membatasi atau menundukkannya kepada tata cara tertentu”.

Sebagai badan hukum privat, Pemerintah dapat melakukan tindakan dalam pergaulan hukum privat antara lain tindakan menjual dan membeli, menyewa dan menyewakan, menggadai dan menggadaikan, serta membuat perjanjian.

Pada saat Pemerintah bertindak sebagai badan hukum privat maka Pemerintah tunduk pada peraturan hukum perdata. Pemerintah pun bertindak sebagai wakil dari badan hukum, bukan wakil dari jabatan.

Begitupula, posisi Pemerintah sebagai pihak dalam KK. Pemerintah menjadi badan hukum privat yang memiliki posisi setara dengan PT FI sebagai pihak di sisi lain. Pemerintah menjadi wakil dari badan hukum, bukan wakil dari jabatan.

Aturan-aturan mengenai hukum kontrak berlaku bagi Pemerintah. Hal ini terbukti dalam Pasal 169 huruf a UU No. 4 Tahun 2009 tentang Pertambangan Minerba yang mengatur bahwa KK tetap diakui sampai berakhirnya KK.

Dalam Pasal 169 huruf b UU No. 4 Tahun 2009 pun diatur bahwa pemegang KK harus menyesuaikan isi KK dengan UU Minerba. Ketentuan Pasal 169 huruf b UU No. 4 Tahun 2009 ini ditindaklanjuti dengan adanya renegosiasi KK yang hingga saat ini, telah lebih dari 8 tahun, belum menemui kesepakatan antara Pemerintah dengan PT FI.

KK: Negara Terdegradasi

Praktik transformasi negara sebagai badan hukum privat, cenderung merugikan. KK mendegradasikan kedaulatan negara, kedaulatan ekonomi, dan kedaulatan hukum sehingga menjadikan KK bersikap tidak adil terhadap bangsa Indonesia sendiri.

Mineral yang merupakan salah satu sumber daya alam yang tidak dapat diperbarui yang sejak dahulu diharapkan untuk dapat memberikan kesejahteraan umum, dan dipergunakan untuk kemakmuran rakyat dalam kehidupan berbangsa menjadi dikerdilkan dengan dogma ‘Pacta Sunt Survanda’.

Negara seharusnya berdaulat atas kekayaan mineral dalam perut bumi Indonesia ternyata harus tersandera dan terdikte oleh tamu yang seharusnya patuh dengan aturan tuan rumah. Kontrak yang dilakukan oleh Pemerintah dengan korporasi-korporasi internasional tak ubahnya seperti membentuk konstitusi di atas UUD.

Hal demikian, dipertegas oleh Mahkamah Konstitusi dalam Putusan No.36/PUU-X/2012 dalam putusan Pengujian UU No. 22 Tahun 2001 tentang Migas. Mahkamah berpendapat bahwa kontrak keperdataan akan mendegradasi kedaulatan negara atas sumber daya alam.

Tentang kemungkinan negara dapat mengontrol sepenuhnya memang menjadi persoalan sendiri kalau hanya mungkin dengan hukum publik berupa konsesi dan perizinan. Konsesi telah lama ditinggalkan karena justru konsesi sangat merugikan negara dan dapat menciptakan penguasaan wilayah secara de facto.

Sedangkan perizinan memungkinkan negara untuk mengontrol sepenuhnya namun tetap ‘terbatas’, karena negara Indonesia adalah negara hukum, maka demi adanya kepastian hukum dan perlindungan hukum perbuatan negara yang dilakukan oleh administrasi negara pun dapat dipersengketakan secara hukum melalui Peradilan Tata Usaha Negara, sehingga negara tidak dapat sewenang-wenang menggunakan kekuasaannya termasuk dalam hal perizinan.

Akhirnya, KK PT FI sebaiknya disudahi pasca 2021 sesuai UU Minerba dengan skema izin usaha. Pemerintah pun sebaiknya mengevaluasi cost and benefit atas keberadaan PTFI di Indonesia mengingat sumber kekayaan di negeri ini berasaskan kemerataan secara berkelanjutan.

Sebaiknya, potensi Indonesia-lah (BUMN) yang meneruskan operasi bekas PT FI pasca 2021. Semoga!

Mardiana, S.H.,M.H
*Dosen FH Universitas Sriwijaya, Pengurus Bidang Kajian Strategis, DPP Ikatan Alumni FH Undip
(wwn/wwn)

Terima Surat Presiden, Pimpinan DPR Rapat Bahas Revisi UU MD3

Jakarta – Presiden Joko Widodo sudah mengirimkan surat soal revisi UU MD3 ke DPR dan telah dibacakan dalam rapat paripurna. Pimpinan DPR pun hari ini akan menggelar rapat pengganti Badan Musyarawarah (Bamus) untuk membicarakan jadwal pembahasan.

“Rapat pimpinan DPR beberapa agenda-agenda yang akan memang belum terselesaikan. Kita selesaikan semuanya, di antaranya surat-surat yang masuk dan masalah-masalah yang perlu diselesaikan di dalam Bamus yang sebelumnya,” ungkap Ketua DPR Setya Novanto.

Hal tersebut disampaikan Novanto di gedung DPR, kompleks parlemen, Senayan, Jakarta, Senin (20/3/2017). Novanto memastikan salah satu yang dibahas dalam rapim pengganti Bamus adalah RUU MD3.

“Di antaranya itu (RUU MD3) yang kita akan bicarakan. Nanti kita bahas dulu di Bamus dan kita dengarkan fraksi-fraksi,” ucap dia.

Koordinasi antara pimpinan fraksi dan program-program, menurut Novanto, diperlukan. Dengan demikian, masalah tugas DPR dapat berjalan dengan baik.

“Ini harus kita jalankan, baik masalah legislasi menyangkut anggaran dan pengawasan, itu yang harus kita selesaikan dengan sematang-matangnya,” kata Novanto.

Sebelumnya, surat Presiden (Supres) soal RUU MD3 dibacakan dalam Rapat Paripurna DPR, Rabu (15/3) lalu. Surat ini sebenarnya sudah lama dinanti karena isu soal revisi UU MD3 sudah bergulir sejak akhir tahun lalu.

Revisi UU MD3 sendiri dimaksudkan untuk mengubah pasal agar pimpinan DPR/MPR bertambah. Penambahan pimpinan Dewan dimaksudkan untuk mengakomodir Fraksi PDIP sebagai pemenang pemilu.
(elz/imk)

sumber : detik.com

Polisi Panggil 3 Ahli Selidiki Kasus Lift Jatuh Blok M Square

Jakarta – Polres Metro Jakarta Selatan memanggil tiga ahli terkait dengan insiden lift jatuh di Blok M Square. Ketiga ahli akan dimintai pendapat soal prosedur pemeliharaan dan perawatan lift.

“Ya hari ini tiga orang. Ya ahli produsen terkait masalah teknisi lift dan eskalator itu akan dilakukan pemeriksaan hari ini,” ujar Kapolres Jaksel Kombes Iwan Kurniawan di Mapolres Jaksel, Jl Wijaya, Kebayoran Baru, Jaksel, Senin (20/3/2017).

Pemeriksaan dilakukan untuk mengetahui perawatan dan teknisi untuk lift dan eskalator. Sejumlah barang bukti dan keterangan akan terus dikumpulkan kepolisian guna menunjang proses penyelidikan.

“Kita masih menyelidiki lagi dengan mengumpulkan barang-barang bukti lain yang mendukung dalam penyelidikan kali ini, seperti contohnya CCTV, kita masih meragukan jumlah orang masuk di dalam lift tersebut. Kita bisa melihat dari CCTV tersebut, kita akan pastikan jumlahnya berapa, apakah 25 atau lebih atau kurang. Tapi, kalau kurang, tidak mungkin karena jumlah yang masuk rumah sakit itu lebih,” ujarnya.

Hingga saat ini belum dapat dipastikan ada-tidaknya unsur pidana dalam insiden lift jatuh yang mengakibatkan sejumlah orang terluka itu. Kesimpulan mengenai kasus ini akan disampaikan setelah proses penyelidikan selesai.

“Nanti kita lihat, saya belum mau berbicara pidananya apa, kita lihat faktanya apa. Kalau dari hasil di lapangan tidak ada harwat, perawatan atau pengecekan, terkait kapasitasnya naik, apakah dari lift itu ada kerusakan. Baru akan saya sampaikan,” imbuhnya.

Lift di Blok M Square jatuh sekitar pukul 12.45 WIB, Jumat (16/3). Lift tersebut diduga dinaiki lebih dari batas kapasitas orang yang ditentukan.
(knv/fdn)

 sumber : detik.com

Festival Durian di Pasuruan Habiskan 48 Pikap Durian Kakap

Sidoarjo – Sebanyak 48 pikap durian ludes terjual selama gelaran Festival Durian Kakap (Khas Kabupaten Pasuruan). Omset para petani pun ditaksir mencapai miliaran rupiah.

“Hari kedua dan ketiga paling ramai. Petani durian dari berbagai daerah penghasil durian sampai kewalahan mengumpulkan durian dari kebun-kebun,” kata Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Pasuruan, M Ichwan, di kantornya Jalan Raya Raci, Bangil, Pasuruan, Senin (20/3/2017).

Ichwan merinci isi setiap pikap antara 400 hingga 500 durian, sehingga diperkirakan sekitar 20 ribu durian terjual.

“Semua khas Kabupaten Pasuruan yang dijual seperti montong, kasmin, karim, laron, si blenok dan si tempur. Yang paling laris kasmin dan karim, kemudian montong dan lainnya,” jelasnya.

Ichwan mengakui durian yang dijual dalam festival yang digelar di halaman Wisata Reliji Masjid Cheng Hoo, cenderung menurun dari tahun sebelumnya. Hal itu disebabkan produktivitas durian menurun karena cuaca buruk.

“Produktivitas durian tahun ini menurun sekitar 30 persen. Penyebabnya cuaca buruk, banyak bunga durian yang rontok kena angin,” jelasnya.

Kondisi itu pula yang membuat harga durian di festival relatif lebih tinggi dari tahun lalu. Durian yang dijual mulai dari harga Rp 40 ribu untuk kualitas biasa, Rp 75 ribu kualitas sedang, Rp 150 ribu untuk kualitas super.

Bahkan terdapat durian juga durian bajol yang sangat besar yang dihargai Rp500 ribu. Menurut Ichwan, omset penjualan durian selama festival mencapai Rp 2 miliar lebih.

“Meski harga petani, tapi memang relatif tinggi. Itu merupakan hukum pasar karena ketersediaan durian terbatas akibat produksi turun. Nggak bisa disalahkan petani,” jelasnya.

Ichwan mengatakan, tahun ini produktivitas durian dari Kecamatan Lumbang, Pasrepan dan Puspo yang paling tinggi dan stabil dibandingkan dari Prigen, Purwodadi, Purwosari, Sukorejo dan Tutur.

“Pembeli dari berbagai kota, seperti Surabaya, Gresik, Sidoarjo, Malang, Mojokerto dan Pasuruan sendiri. Para pembeli mengakui harganya tetap lebih rendah dibanding pasaran,” ungkapnya.

Bupati Pasuruan HM Irsyad Yusuf yang datang ke festival juga mengakui produktivitas durian menurun akibat cuaca tak menentu. Meski demikian, festival durian tetap digelar karena komitmen pemerintah mempromosikan durian lokal. Festival durian, kata bupati, juga membantu petani lebih mudah menjual hasil panennya.

“Kami berharap petani terus bersemangat menjaga produktivitas dan kualitas durian sehingga tahun depan hasilnya lebih tinggi. Terutama durian kahs seperti kasmin, karim dan laron, terus dikembangkan,” kata Irsyad.
(fat/fat)

sumber : detik.com

Sumarsono Pastikan Pemprov DKI Banding Putusan Reklamasi

Jakarta – Plt Gubernur DKI Jakarta Sumarsono (Soni) memastikan Pemprov DKI akan mengajukan banding atas putusan Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN) yang mencabut izin tiga pulau reklamasi.

“Iya (akan banding),” kata Soni di Balai Kota, Jalan Medan Merdeka Selatan, Jakarta Pusat, Senin (20/3/2017).

Pemprov punya waktu hingga 30 Maret untuk mengajukan banding. Soni memastikan Pemprov punya alasan untuk banding atas putusan PTUN.

“Pertama, yang lalu memang tidak dilengkapi, ada dokumen yang tercecer terkait tata ruang atau zonasi. Kedua, mengenai amdal, amdal telah dilakukan dan telah disosialisasikan, itu juga tidak disinggung seolah Pemprov DKI tidak pernah mensosialisasikan,” sambung Soni.

“Ketiga, mengenai kewenangan gubernur, dengan tegas kita memiliki kewenangan untuk membuat kebijakan itu,” lanjutnya.

Menurut Soni, kalah atau menang Pemprov DKI saat mengajukan banding bukan hal penting. Yang terpenting saat ini Pemprov DKI sudah menghormati putusan PTUN. Banding, menurutnya, adalah prosedur yang sudah diatur.

“Kami yakin mengajukan banding dan insyaallah semua bisa dilengkapi. Menang atau kalah nomor dua, yang penting sebagai negara hukum menghargai keputusan peradilan apa pun. Karena masih ada upaya banding yang dimungkinkan untuk dilakukan pihak yang kalah,” tuturnya.

Pemprov DKI mengalami kekalahan dalam gugatan yang diajukan Kesatuan Nelayan Tradisional Indonesia dan Walhi setelah majelis hakim PTUN mencabut izin reklamasi Pulau K, F, dan I di Teluk Jakarta, Kamis (16/3).

Putusan diambil karena majelis hakim menilai reklamasi yang dilakukan dianggap dapat merusak ekosistem sumber daya perairan sekitar pulau.
(bis/fdn)

 sumber : detik.com

Siswa SD di Jember Mual dan Muntah Diduga Keracunan Permen

Jember – Siswa SD Al Ihlas Jember, Jalan Letjen Suprapto dilarikan ke puskemas diduga keracunan makanan. Mereka mengalami mual dan muntah setelah makan permen yang bentuknya mirip pil bermerek Flash.

Kepala sekolah (Kasek) SD Al Ihlas, Abdul Somad Mukmin mengatakan, pagi tadi saat siswa menunggu guru masuk kelas, ada seorang siswa yang membagikan permen ke teman-temannya.

“Ada siswa kelas enam, namanya Manda. Dia dapat oleh-oleh dari budenya yang ada di (kecamatan) Ambulu (Jember). Namanya anak ya mungkin bangga dapat oleh-oleh dan ingin berbagi ke teman-temannya,” kata Abdul Somad Mukmin ditemui di Puskesmas Sumbersari, Senin (20/3/2017).

Ada sekitar 10 anak yang makan permen tersebut, termasuk Manda. Mereka merupakan teman Manda yang ada di kelas 6, kelas 5 dan kelas 3.

“Begitu gurunya masuk hendak memulai pelajaran, anak-anak yang makan permen ini mengaku mual. Lama-lama kok tambah parah, akhirnya gurunya melapor,” terang Abdul Somad Mukmin.

Selanjutnya, anak-anak itu dibawa ke satu ruangan khusus. Mereka pun kemudian disuruh meminum air kelapa. Sebagian besar anak-anak ini kemudian muntah-muntah yang mengindikasikan mereka memang keracunan makanan.

“Karena kita khawatir terjadi sesuatu, maka mereka kemudian kita bawa ke Puskemas. Wali murid masing-masing juga kita beritahu,” kata Abdul Somad Mukmin.

Saat ini, lanjut Abdul Somad Mukmin, sampel permen akan dibawa ke dinas kesehatan untuk diuji laboratorium. “Warna permennya kuning, tadi sudah dibawa petugas,” katanya.

Sementara Manda mengakui bahwa permen tersebut pemberian budenya. Dia sendiri juga ikut makan bersama teman-temannya. “Saya makan 5, lalu merasa pusing dan mual,” kata siswa yang duduk di bangku kelas 6 ini.
(fat/fat)

sumber : detik.com

Masterful Djokovic having a season for the ages

0

It’s redundant by now, but Novak Djokovic ruled the ATP Tour again. This time, it came at the Shanghai Masters championship, where he failed to drop a set en route to the title.

Rodgers is a young player whom we selected as one of our top sleepers this fall, and he showed why last week, when he tied for sixth at the Frys.com Open. He played here at TPC Summerlin last year and missed the cut, but this is a new season. This week we are really targeting scorers because this is an easy course. Rodgers is long off the tee, can score and is among the leaders in par-4 scoring, and birdie-or-better percentage. Watch for Rodgers to be in contention this week and throughout this season.

When it comes to upside potential, few boast as much as Tony Finau. He led the tour in birdies last season, and to win at TPC Summerlin he will have to birdie early and often. Finau is long off the tee and has steadily improved with his putter, making him one of the more intriguing players in the field this week. At $9,800, Finau is no longer in the bargain range among his peers, but with a strong seventh-place showing at this event last season, he offers plenty of upside.

Our new weapons beneath the skins which formed

His three boats stove around him, and oars and men both whirling in the eddies; one captain, seizing the line-knife from his broken prow, had dashed at the whale, as an Arkansas duellist at his foe, blindly seeking with a six inch blade to reach the fathom-deep life of the whale. That captain was Ahab. And then it was, that suddenly sweeping his sickle-shaped lower jaw beneath him, Moby Dick had reaped away Ahab’s leg, as a mower a blade of grass in the field. No turbaned Turk, no hired Venetian or Malay, could have smote him with more seeming malice. Small reason was there to doubt, then, that ever since that almost fatal encounter, Ahab had cherished a wild vindictiveness against the whale, all the more fell for that in his frantic morbidness he at last came to identify with him, not only all his bodily woes, but all his intellectual and spiritual exasperations.

The magnetic energy, as developed in the mariner’s needle, is, as all know, essentially one with the electricity beheld in heaven.

It is not probable that this monomania in him took its instant rise at the precise time of his bodily dismemberment.

Then, in darting at the monster, knife in hand, he had but given loose to a sudden, passionate, corporal animosity; and when he received the stroke that tore him, he probably but felt the agonizing bodily laceration, but nothing more. Yet, when by this collision forced to turn towards home, and for long months of days and weeks, Ahab and anguish lay stretched together in one hammock, rounding in mid winter that dreary, howling Patagonian Cape; then it was, that his torn body and gashed soul bled into one another; and so interfusing, made him mad.

That it was only then, on the homeward voyage, after the encounter, that the final monomania seized him?

Egyptian chest, and was moreover intensified by his delirium, that his mates were forced to lace him fast, even there, as he sailed, raving in his hammock. In a strait-jacket, he swung to the mad rockings of the gales. And, when running into more sufferable latitudes, the ship, with mild stun’sails spread, floated across the tranquil tropics, and, to all appearances.

That it was only then, on the homeward voyage, after the encounter, that the final monomania seized him, seems all but certain from the fact that, at intervals during the passage, he was a raving lunatic; and, though unlimbed of a leg, yet such vital strength yet lurked in his Egyptian chest, and was moreover intensified by his delirium, that his mates were forced to lace him fast, even there, as he sailed, raving in his hammock. In a strait-jacket, he swung to the mad rockings of the gales. And, when running into more sufferable latitudes, the ship, with mild stun’sails spread, floated across the tranquil tropics, and, to all appearances, the old man’s delirium seemed left behind him with the Cape Horn swells.

Human madness is oftentimes a cunning and most feline thing. When you think it fled, it may have but become transfigured into some still subtler form. Ahab’s full lunacy subsided not, but deepeningly contracted; like the unabated Hudson, when that noble Northman flows narrowly, but unfathomably through the Highland gorge.

To that one end, did now possess a thousand fold more potency than ever he had sanely brought to bear upon any one reasonable object.

God the direful madness was now gone; even then, Ahab, in his hidden self, raved on. Human madness is oftentimes a cunning and most feline thing. When you think it fled, it may have but become transfigured into some still subtler form. Ahab’s full lunacy subsided not, but deepeningly contracted; like the unabated Hudson, when that noble Northman flows narrowly, but unfathomably through the Highland gorge.

But, as in his narrow-flowing monomania, not one jot of Ahab’s broad madness had been left behind; so in that broad madness, not one jot of his great natural intellect had perished. That before living agent, now became the living instrument. If such a furious trope may stand, his special lunacy stormed his general sanity, and carried it, and turned all its concentred cannon upon its own mad mark. I knew the Indians would soon discover that they were on the wrong trail and that the search for me would be renewed in the right direction as soon as they located my tracks. I had gone but a short distance further when what seemed to be an excellent trail opened up around the face of a high cliff. The trail was level and quite broad and led upward and in the general direction I wished to go. The cliff arose for several hundred feet on my right, and on my left was an equal and nearly perpendicular drop to the bottom of a rocky ravine.

Serena Williams, Andy Murray to play in Hopman Cup before Aussie Open

0

Williams, who won the event in 2003 with James Blake and in 2008 with Mardy Fish, has been troubled by injury late this year, but expects to be ready for her now standard Australian Open preparation event.

Rodgers is a young player whom we selected as one of our top sleepers this fall, and he showed why last week, when he tied for sixth at the Frys.com Open. He played here at TPC Summerlin last year and missed the cut, but this is a new season. This week we are really targeting scorers because this is an easy course. Rodgers is long off the tee, can score and is among the leaders in par-4 scoring, and birdie-or-better percentage. Watch for Rodgers to be in contention this week and throughout this season.

When it comes to upside potential, few boast as much as Tony Finau. He led the tour in birdies last season, and to win at TPC Summerlin he will have to birdie early and often. Finau is long off the tee and has steadily improved with his putter, making him one of the more intriguing players in the field this week. At $9,800, Finau is no longer in the bargain range among his peers, but with a strong seventh-place showing at this event last season, he offers plenty of upside.

Our new weapons beneath the skins which formed

His three boats stove around him, and oars and men both whirling in the eddies; one captain, seizing the line-knife from his broken prow, had dashed at the whale, as an Arkansas duellist at his foe, blindly seeking with a six inch blade to reach the fathom-deep life of the whale. That captain was Ahab. And then it was, that suddenly sweeping his sickle-shaped lower jaw beneath him, Moby Dick had reaped away Ahab’s leg, as a mower a blade of grass in the field. No turbaned Turk, no hired Venetian or Malay, could have smote him with more seeming malice. Small reason was there to doubt, then, that ever since that almost fatal encounter, Ahab had cherished a wild vindictiveness against the whale, all the more fell for that in his frantic morbidness he at last came to identify with him, not only all his bodily woes, but all his intellectual and spiritual exasperations.

The magnetic energy, as developed in the mariner’s needle, is, as all know, essentially one with the electricity beheld in heaven.

It is not probable that this monomania in him took its instant rise at the precise time of his bodily dismemberment.

Then, in darting at the monster, knife in hand, he had but given loose to a sudden, passionate, corporal animosity; and when he received the stroke that tore him, he probably but felt the agonizing bodily laceration, but nothing more. Yet, when by this collision forced to turn towards home, and for long months of days and weeks, Ahab and anguish lay stretched together in one hammock, rounding in mid winter that dreary, howling Patagonian Cape; then it was, that his torn body and gashed soul bled into one another; and so interfusing, made him mad.

That it was only then, on the homeward voyage, after the encounter, that the final monomania seized him?

Egyptian chest, and was moreover intensified by his delirium, that his mates were forced to lace him fast, even there, as he sailed, raving in his hammock. In a strait-jacket, he swung to the mad rockings of the gales. And, when running into more sufferable latitudes, the ship, with mild stun’sails spread, floated across the tranquil tropics, and, to all appearances.

That it was only then, on the homeward voyage, after the encounter, that the final monomania seized him, seems all but certain from the fact that, at intervals during the passage, he was a raving lunatic; and, though unlimbed of a leg, yet such vital strength yet lurked in his Egyptian chest, and was moreover intensified by his delirium, that his mates were forced to lace him fast, even there, as he sailed, raving in his hammock. In a strait-jacket, he swung to the mad rockings of the gales. And, when running into more sufferable latitudes, the ship, with mild stun’sails spread, floated across the tranquil tropics, and, to all appearances, the old man’s delirium seemed left behind him with the Cape Horn swells.

Human madness is oftentimes a cunning and most feline thing. When you think it fled, it may have but become transfigured into some still subtler form. Ahab’s full lunacy subsided not, but deepeningly contracted; like the unabated Hudson, when that noble Northman flows narrowly, but unfathomably through the Highland gorge.

To that one end, did now possess a thousand fold more potency than ever he had sanely brought to bear upon any one reasonable object.

God the direful madness was now gone; even then, Ahab, in his hidden self, raved on. Human madness is oftentimes a cunning and most feline thing. When you think it fled, it may have but become transfigured into some still subtler form. Ahab’s full lunacy subsided not, but deepeningly contracted; like the unabated Hudson, when that noble Northman flows narrowly, but unfathomably through the Highland gorge.

But, as in his narrow-flowing monomania, not one jot of Ahab’s broad madness had been left behind; so in that broad madness, not one jot of his great natural intellect had perished. That before living agent, now became the living instrument. If such a furious trope may stand, his special lunacy stormed his general sanity, and carried it, and turned all its concentred cannon upon its own mad mark. I knew the Indians would soon discover that they were on the wrong trail and that the search for me would be renewed in the right direction as soon as they located my tracks. I had gone but a short distance further when what seemed to be an excellent trail opened up around the face of a high cliff. The trail was level and quite broad and led upward and in the general direction I wished to go. The cliff arose for several hundred feet on my right, and on my left was an equal and nearly perpendicular drop to the bottom of a rocky ravine.

Eugenie Bouchard willing to take USTA case to court

0

Benedict Morelli, the attorney seeking a jury trial in Eugenie Bouchard‘s lawsuit against the USTA, doesn’t believe the matter has to end up in court. But he is not certain the tennis association shares that opinion.

Rodgers is a young player whom we selected as one of our top sleepers this fall, and he showed why last week, when he tied for sixth at the Frys.com Open. He played here at TPC Summerlin last year and missed the cut, but this is a new season. This week we are really targeting scorers because this is an easy course. Rodgers is long off the tee, can score and is among the leaders in par-4 scoring, and birdie-or-better percentage. Watch for Rodgers to be in contention this week and throughout this season.

When it comes to upside potential, few boast as much as Tony Finau. He led the tour in birdies last season, and to win at TPC Summerlin he will have to birdie early and often. Finau is long off the tee and has steadily improved with his putter, making him one of the more intriguing players in the field this week. At $9,800, Finau is no longer in the bargain range among his peers, but with a strong seventh-place showing at this event last season, he offers plenty of upside.

Our new weapons beneath the skins which formed

His three boats stove around him, and oars and men both whirling in the eddies; one captain, seizing the line-knife from his broken prow, had dashed at the whale, as an Arkansas duellist at his foe, blindly seeking with a six inch blade to reach the fathom-deep life of the whale. That captain was Ahab. And then it was, that suddenly sweeping his sickle-shaped lower jaw beneath him, Moby Dick had reaped away Ahab’s leg, as a mower a blade of grass in the field. No turbaned Turk, no hired Venetian or Malay, could have smote him with more seeming malice. Small reason was there to doubt, then, that ever since that almost fatal encounter, Ahab had cherished a wild vindictiveness against the whale, all the more fell for that in his frantic morbidness he at last came to identify with him, not only all his bodily woes, but all his intellectual and spiritual exasperations.

The magnetic energy, as developed in the mariner’s needle, is, as all know, essentially one with the electricity beheld in heaven.

It is not probable that this monomania in him took its instant rise at the precise time of his bodily dismemberment.

Then, in darting at the monster, knife in hand, he had but given loose to a sudden, passionate, corporal animosity; and when he received the stroke that tore him, he probably but felt the agonizing bodily laceration, but nothing more. Yet, when by this collision forced to turn towards home, and for long months of days and weeks, Ahab and anguish lay stretched together in one hammock, rounding in mid winter that dreary, howling Patagonian Cape; then it was, that his torn body and gashed soul bled into one another; and so interfusing, made him mad.

That it was only then, on the homeward voyage, after the encounter, that the final monomania seized him?

Egyptian chest, and was moreover intensified by his delirium, that his mates were forced to lace him fast, even there, as he sailed, raving in his hammock. In a strait-jacket, he swung to the mad rockings of the gales. And, when running into more sufferable latitudes, the ship, with mild stun’sails spread, floated across the tranquil tropics, and, to all appearances.

That it was only then, on the homeward voyage, after the encounter, that the final monomania seized him, seems all but certain from the fact that, at intervals during the passage, he was a raving lunatic; and, though unlimbed of a leg, yet such vital strength yet lurked in his Egyptian chest, and was moreover intensified by his delirium, that his mates were forced to lace him fast, even there, as he sailed, raving in his hammock. In a strait-jacket, he swung to the mad rockings of the gales. And, when running into more sufferable latitudes, the ship, with mild stun’sails spread, floated across the tranquil tropics, and, to all appearances, the old man’s delirium seemed left behind him with the Cape Horn swells.

Human madness is oftentimes a cunning and most feline thing. When you think it fled, it may have but become transfigured into some still subtler form. Ahab’s full lunacy subsided not, but deepeningly contracted; like the unabated Hudson, when that noble Northman flows narrowly, but unfathomably through the Highland gorge.

To that one end, did now possess a thousand fold more potency than ever he had sanely brought to bear upon any one reasonable object.

God the direful madness was now gone; even then, Ahab, in his hidden self, raved on. Human madness is oftentimes a cunning and most feline thing. When you think it fled, it may have but become transfigured into some still subtler form. Ahab’s full lunacy subsided not, but deepeningly contracted; like the unabated Hudson, when that noble Northman flows narrowly, but unfathomably through the Highland gorge.

But, as in his narrow-flowing monomania, not one jot of Ahab’s broad madness had been left behind; so in that broad madness, not one jot of his great natural intellect had perished. That before living agent, now became the living instrument. If such a furious trope may stand, his special lunacy stormed his general sanity, and carried it, and turned all its concentred cannon upon its own mad mark. I knew the Indians would soon discover that they were on the wrong trail and that the search for me would be renewed in the right direction as soon as they located my tracks. I had gone but a short distance further when what seemed to be an excellent trail opened up around the face of a high cliff. The trail was level and quite broad and led upward and in the general direction I wished to go. The cliff arose for several hundred feet on my right, and on my left was an equal and nearly perpendicular drop to the bottom of a rocky ravine.