Doa Keagamaan Paguyuban Padma Disoal Warga Dusun

0
149

 

JATENG Gempurnews.com. — Lha Lha Setiawan, Kepala Dusun Mangir Lor, Pajangan Bantul Yogyakarta, mengatakan bahwa upacara do”a keagamaan Paguyuban Padma Buwana Manggir yang digelar dirumah Utiek Suprapti, dipertanyakan izinnya oleh warga setempat, Selasa (12/11 2019).

Kepada awak media, Lha Lha menyampaikan, ritual itu diikuti oleh beberapa agama, yakni pengikut hindu dan budha, namun ritualnya memakai salah satu agama. Hal itu dianggap memicu keresahan warga.

Dalam kesempatan tersebut Lha Lha Setiawan juga mengakui bahwa pada tahun 2012 lalu, Utiek memang pernah membuat pernyataan bermeterai tidakr akan melakukan kegiatan ritual sebelum ada izin. Namun, masih menurut Lha Lha, kenyatannya Utiek masih melakukan ritual lagi dengan mengundang orang dari berbagai daerah tanpa meminta izin kepada warga.

Terkait dengan itu, kata Lha Lha, pada tahun 2018 lalu, pernah ada mediasi di kantor Kecamatan yang menghadirkan instansi terkait dari Pemkab Bantul, hasilnya dilarang melakukan ritual sebelum mengurus perizinannya. Kenyataannya, masih kata Lha Lha, mereka masih melakukan ritual tanpa perizinan, akhirnya warga melaporkan hal tersebut ke Polsek Pajangan agar menindak tegas.

Berbeda dengan keterangan Utiek saat ditemui media di rumahnya, ia menceritakan telah meminta izin untuk mengadakan kegiatan. “Saya punya bukti tanda tangan tetangga kiri kanan saya, dan pak RT juga sudah menanda tanganinya. Ini buktinya,” ujar Utiek sambil menunjukkan uzin tertulisnya.

Izin tertulis itu berbunyi, dalam rangka memetri budaya demi mewujudkan Dusun Mangir sebagai desa wisata budaya spiritual, yang menjunjung tinggi Bhineka Tunggal Ika, disampaikan Paguyuban Padma Buwana bersama penggombyongnya akan melaksanakan doa leluhur.

Utiek menceritakan, Upacara doa itu dihadiri pemeluk Hindu dan Buddha, digelar dua sesi doa kedua agama tersebut. Menurutnya, pada saat sesi pertama ketika upacara doa dalam agama Buddha, sekitar pukul 15.00, warga berdatangan di pinggir jalan sekitar rumahnya, cerita dia.

Seorang Pendeta Buddha Tantrayana Kasogatan, Padma Wiradharma, berkata warga berdatangan tak jauh darinya saat masih memimpin doa. “Menurut yang saya alami, ketika saya memimpin upacara tadi, memang ada teriakan-teriakan,” kata Wiradharma kepada media.

Sementara Nusya dari Komunitas Kasogatan Buddha Jawi yang ikut upacara doa bercerita bahwa ia diundang pada acara tersebut untuk berdoa kepada leluhur.

Dalam acara itu, ada dua ritual yakni, pertama dari pendeta Buddha; kedua dari Resi Begawan Manuaba untuk memimpin upacara doa Hindu. “Ketika tadi sudah dalam perjalanan ada ritus yang dipuput oleh pendeta Buddha, ada ramai-ramai, nampaknya ada warga enggak berkenan.Tapi saat ada polisi datang, kami terus melanjutkan upacara sampai selesai satu sesi itu,” kata Nusya.

“Saat Resi Begawan Manuaba datang pun ditahan oleh masyarakat. Tampaknya warga tidak berkenan. Bu Kapolsek terpaksa menjemput ke sini. Berdasarkan penjelasan yang saya dengar dari Kapolsek, warga menghendaki ada surat izin kegiatan dari RT hingga provinsi,” imbuhnya.

Menurut Nusya, persoalan ini sudah dimediasi, tapi ada perbedaan persepsi di sini, masyarakat dan Kapolsek menganggap pura ini urusan publik. “Nah, kalau urusan privat, masak doa tahlilan harus izin? Kan, enggak. Itu perbedaan persepsi yang harus dijembatani,” pungkasnya.

Kapolres Bantul AKBP Wachyu Tri Budi saat dikonfirmasi membantah ada penghentian upacara doa tersebut. Polisi saat datang ke lokasi hanya berupaya “mengamankan” situasi karena ada potensi konflik antar-warga..

“Untuk kegiatan di tempat Ibu Utiek tidak ada yang menghentikan. Buktinya, kegiatan tadi tetap dilaksanakan oleh Ibu Utiek,” ujar Bu Wachyu. “Memang dari warga masyarakat setempat mempertanyakan apakah sudah ada izin pendirian sebagai tempat upacara keagamaan atau pun izin kegiatan keagamaan di situ,” pungkasnya. (**)