Kegiatan KKN Tematik Universitas Trunojoyo Madura Fakultas Ekonomi Dan Bisnis Desa Popoh Berjalan Lancar

896 0

Sidoarjo – Pj. Kepala Desa Popoh Muslihah S.Sos mengapresiasi kegiatan KKN dari Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Universitas Trunojoyo Madura (LPPMUTM) yang didampingi Dosen Drs. EC. Makhmud Zulkifli, M.Si dan A. Bobby Chandra.
Dalam kegiatannya yang juga dihadiri Karang Taruna Organisasi Pemuda Popoh (OPPO), para mahasiswa mensosialisasikan protokol Covid-19 dan membagi masker pada warga Desa Popoh Kecamatan Wonoayu Kabupaten Sidoarjo Rabu, 15/7/2020

Cici Dwi Cintami (21) mahasiswi dari Fakultas Akuntasi Universitas Trunojoyo mensosialisasikan ke warga Desa Popoh untuk sering cuci tangan dan menggunakan masker pada saat melakukan aktivitas di luar rumah tidak lupa protokol harus dilakukan seperti jaga jarak.
Lantas Cici menjelaskan, cara menggunakan masker yang benar yaitu menutup bagian mulut hingga hidung.
“Pastikan tidak ada bagian yang terbuka. Jangan gunakan masker yang sama berkali-kali. Lepas masker dari belakang, jangan sentuh bagian depan. Usai dilepas, langsung buang di tempat sampah yang tertutup. Lalu, segera cuci tangan menggunakan sabun atau hand sanitizer,” urai Cici.

Masih kata Cici, menurut standar WHO, masker digunakan oleh masyarakat yang memiliki gejala penyakit pernapasan seperti batuk, sesak napas, termasuk mereka yang tengah mencari pertolongan medis.
Selain itu, lanjut Cici, penggunaan masker juga wajib bagi yang akan memberikan pertolongan medis pada orang-orang yang memiliki gejala penyakit pernapasan.

Terkait penggunaan masker kain, Cici mengungkapkan bahwa penggunaannya dapat mencegah penularan penyakit, sekaligus mengantisipasi kelangkaan masker yang terjadi di pasar seperti apotik dan toko-toko kesehatan.

Namun, imbuh Cici, masker kain yang dibuat perlu memiliki 3 (tiga) lapisan yaitu lapisan non-anyaman tahan air (depan), microfibre melt-blown kain non-anyaman (tengah), dan kain biasa non-tenunan (belakang). “Masker kain perlu dicuci dan dapat dipakai berkali-kali. Bahan yang digunakan untuk masker kain berupa bahan kain katun, scarf, dan sebagainya,” jelas Cici.

Sementara itu, Amilliatus Shobakhah (21) dari Fakultas Managemen juga menyampaikan, penggunaan masker kain dapat dipergunakan oleh masyarakat dalam keadaan sehat.
Masker jenis ini bisa digunakan ketika berada di tempat umum dan fasilitas lainnya dengan tetap menjaga jarak aman (physical distancing) yakni 1-2 meter.
Tapi, jelas Amilliatus, masker kain tidak direkomendasikan sebagai APD (Alat Pelindung Diri) untuk tingkat keparahan tinggi karena sekitar 40%-90% partikel dapat menembus masker kain bagi tenaga medis.
Lantas Amilliatus memaparkan, masker bedah 2 ply atau memiliki nama lain surgical mask 2 ply hanya terdiri dari 2 lapisan (layers) yaitu lapisan luar dan lapisan dalam tanpa lapisan tengah yang berfungsi sebagai filter.
“Karena tidak memiliki lapisan filter pada bagian tengah diantara lapisan luar kedap air dan dalam yang langsung kontak dengan kulit, maka tipe masker ini kurang efektif untuk menyaring droplet atau percikan yang keluar dari mulut dan hidung pemakai ketika batuk atau bersin,” katanya.
Sedangkan masker bedah 3 ply atau surgical mask 3 ply memiliki tiga lapisan (layers) yaitu lapisan luar kain tanpa anyaman kedap air, lapisan dalam yang merupakan lapisan filter densitas tinggi dan lapisan dalam yang menempel langsung dengan kulit yang berfungsi sebagai penyerap cairan berukuran besar yang keluar dari pemakai ketika batuk maupun bersin.
“Dengan begitu, masker ini direkomendasikan untuk masyarakat yang menunjukan gejala-gejala flu atau influenza yakni batuk, bersin- bersin, hidung berair, demam, nyeri tenggorokan. Masker ini juga bisa digunakan oleh tenaga medis di fasilitas layanan kesehatan,” ungkap Amilliatus.

Namun demikian, masih kata Amilliatus, berdasarkan rekomendasi WHO, masker 3 ply dipergunakan oleh orang yang berusia 60 tahun ke atas atau mereka yang memiliki kondisi penyakit mendasar, dimana harus mengenakan masker medis ketika situasi jaga jarak tidak memungkinkan,”ujar Amilliatus Shobakhah

Masih kata Amilliatus Shobakhah, masker N95 (atau ekuivalen) adalah masker yang lazim dibicarakan dan merupakan kelompok masker Filtering Facepiece Respirator (FFR) sekali pakai (disposable). Kelompok jenis masker ini memiliki kelebihan tidak hanya melindungi pemakai dari paparan cairan dengan ukuran droplet, tapi juga cairan hingga berukuran aerosol.
Masker jenis ini pun memiliki face seal fit yang ketat sehingga mendukung pemakai terhindar dari paparan aerosol asalkan seal fit dipastikan terpasang dengan benar.
Terkait dengan tata cara mencuci tangan, masih kata Amilliatus menjelaskan menurut standar WHO, yakni membutuhkan sekitar 20-30 detik untuk mencegah infeksi virus, kuman, dan bakteri.
Lantas Amilliatus menjelaskan, ada 7 langkah mencuci tangan yang benar menurut WHO yaitu membasahi tangan dan menuangkan atau mengoleskan sabun pada telapak tangan. Lalu menangkupkan kedua tangan dan gosokkan sabun yang menempel pada tangan.

Setelah itu, memposisikan telapak tangan kanan diatas punggung tangan kiri dengan jari yang terjalin, dan sebaliknya yang dilakukan berulang-ulang.
“Jangan lupa, jari pada kedua telaoak tangan agar selalu terkait dan saling menggenggam agar sabun bisa membersihkan sela-sela kuku hingga pangkal jari. Setelah itu keringkan tangan,” papar
Amilliatus.

Sementara itu, Pj. Kepala Desa Popoh, Muslihah S.Sos saat bertemu dengan Dosen lapangan Universitas Trunojoyo mengungkapkan rasa syukurnya atas kehadiran pihak Universitas Trunojoyo.

Muslihah juga mengapresiasi langkah yang dilakukan mahasiswa untuk memberi contoh pada warga dalam melakukan protokol Covid-19 sesuai standar WHO.

“Saya sangat bangga pada mahasiswa ini. Melalui kegiatan KKN bisa membantu warga Desa Popoh dalam mensikapi Pandemi Covid-19 sesuai standar WHO,” kata Muslihah.

Pada kesempatan yang sama, Sekretaris Desa Popoh, M.Ridwan juga mengatakan, semoga kegiatan KKN dari Universitas Trunojoyo di Desa Popoh ini bisa berjalan lancar,” harap Ridwan. (yuli)

Related Post