MUTIARA YANG HILANG

456 0

 

Pagi itu suasana langit terlihat mendung, sang surya enggan menampakkan sinarnya, sementara ocehan burung juga tak terdengar, hanya hembusan angin yang membawa hawa sejuk bagi penghuni dusun.

Andi masih tertidur lelap dengan memeluk guling dan menikmati hangatnya selimut tebal.

Sementara ibunya sudah hampir selesai mempersiapkan sarapan pagi, dan membersihkan rumahnya, hal itu selalu dilakukan sehabis sholat subuh.

Ibunya sengaja tak membangunkan Andi, karena merasa kasihan tadi malam mengikuti kegiatan pembagian santunan anak yatim di dusunnya.

Andi sudah empat tahun hidup serumah berdua dengan ibunya, sang ayah telah menghadap sang khalik lantaran mengalami kecelakaan sepulang dari mengajar di sebuah sekolah dasar yang tidak jauh dari rumahnya.

Hari hari begitu ada yang kurang dihati Andi, meskipun kebutuhan sudah terpenuhi dan tidak tertinggal dengan teman sebayanya.

Sore itu Andi mengundang beberapa teman sekelas yang satu sekolah di sebuah SMP swasta untuk berkumpul dirumahnya, untuk membahas tugas dari guru yang diberikan, karena hingga saat ini pihak sekolah belum melakukan pelajaran secara langsung.

Andi dan empat orang temannya, duduk diteras depan sambil berdiskusi, kadang serius dengan argumen masing masing, tetapi suasana itu tak berlangsung lama, karena muncul suara riuh dari gurauan mereka yang penuh canda tawa.

Suasana itu sangat menghibur ibunya Andi, suasana rumah menjadi hidup dengan kedatangan teman temannya.

Dari dalam dapur, ibunya menghampiri, Andi dan teman temannya dengan membawa minuman dan beberapa makanan ringan.

“Ayo diminum dik”, ujar ibu Andi.

“Oh iya bu”, sahut iwan yang langsung mengambil kue untuk disantapnya.

Perbuatan Iwan itu tentu mengundang tawa teman temannya, tetapi Iwan acuh tak mempedulikannya.

“Wah ini kalo gak ambil, keburu habis dilahap Iwan yang jago makan ini”, tukas rudy sambil ikutan mengambil kue tersebut.

Ibunya Andi tersenyum dan merasa senang melihat anak anak rukun dan kompak.

“Ayo jon , jangan diam saja, nikmati kue ini, tegur Andi kepada jono yang sejak tadi terdiam melihat ulah teman temannya.

Hari mulai petang, anak anak sudah pulang kerumah masing masing, dan suasana yang ramai kembali seperti semula, sepi, sunyi hanya dua orang anak manusia yang menempati bangunan rumah yang cukup besar dan dan lumayan megah didusun itu.

Sehabis makan malam, Iwan bersama ibunya menjalankan sholai isa’, akan tetapi suasana tidak berjalan seperti biasanya.

Ibunya yang tiap malam mendampinginya menonton TV atau sekedar ngobrol, malam itu ibunya habis sholat langsung masuk kamar dan menguncinya dari dalam.

Tentu ini membuat kekhawatiran Andi, diketuknya kamar ibunya beberapa kali, baru pintu dibuka.

Ibunya keluar kamar dan langsung memeluk Andik dengan erat dan menangis sekuat kuatnya.

Andi hanya terdiam dan ikut menangis pula.

Suasana hening sejenak, dan ibunya menggapai tangan Andi yang masih kebingungan.

Ibunya mengeluarkan bungkusan warna merah yang masih terlihat rapi dan terawat.

“Ndi…” kata ibunya.

“Ini hadiah cincin pernikahan ibu dengan mendiang bapakmu, sejak bapakmu meninggal cincin ini ibu simpan”, tutur ibunya.

“Dan sekarang ibu berikan padamu nak, dan kamu bisa memakainya”, lanjut ibunya.

Andi hanya bingung menerima amanah ini, dengan hati hati andipun memakai cincin yang sangat berharga dan bernilai dalam hubungan cinta kedua insan.

Malam itu Andi begitu merasa bahagia, dipandanginya dengan penuh seksama cincin dari ibunya, sebuah hadiah yang sangat berharga dalam hidupnya, tapi dalam hatinya juga terpikir bukankah ibunya yang paling berhak memakainya.

Karena senangnya, Andi sampai tidak bisa tertidur, sehingga paginya bangun kesiangan.

Hati Andi mulai resah, biasanya ibunya selalu membangunkannya jika sudah terdengar suara adzan dari Mushola sebelah rumah, tetapi pagi itu justru di biarkan sehingga terlambat untuk sholat subuh.

Pagi itu Andi hanya cuci muka dan, segera mencari kemana ibunya yang sejak pagi tidak terlihat.

Dan…… teriakan keras dan tangis yang meledak dari Andi, terdengar oleh tetangga, ternyata…

Ternyata ibunya ditemukan Andi dalam kamar sudah tidak bernyawa, meninggalkan Andi, meninggalkan dunia fana, meninggalkan segalanya untuk menghadap sang khaliq.

Waktu berlalu begitu cepat, satu hari, satu bulan, satu tahun, Andi hidup sendiri dengan segala fasilitas dari orangtuanya, sunyi, sepi, serta doa untuk kedua orangtuanya yang selalu menghiasi kehidupannya.

Cincin mutiara yang sangat mahal telah menghiasi jemarinya, tetapi semua itu tidak bisa menggantikan hilangnya mutiara yang selama ini menghiasi hidupnya, mutiara abadi yaitu “Seorang Ibu”.

(Red, Akkhir Agustus ’20)

Related Post

LONCENG

Posted by - 15 September 2021 0
Oleh : Sony Pagi itu suasana nampak sepi, para penghuni dusun enggan keluar rumah, mereka lebih memilih menikmati sejuknya udara…

Misteri Sumur Tua

Posted by - 28 February 2022 0
Oleh: Tri Udayana Mendekati penghujung malam, terpaan angin semakin kencang dan tak terarah, lalu hujanpun turun deras sekali dan sesekali…

MUTIARA YANG HILANG

Posted by - 2 October 2021 0
Oleh: Sony Seperti biasanya, Arman bangun pagi lebih dulu, membersihkan rumah, menyiapkan sarapan pagi dan memasak air untuk ibunya. Sejak…

SURYAPUN BERSINAR LAGI

Posted by - 19 October 2020 0
(Oleh: Dadang, K) Ahmad termenung disudut ruangan kelas, sambil memandangi bangku dan meja yang berantakan serta lantai yang kotor bekas…

KEJUJURAN

Posted by - 9 October 2021 0
Oleh: AB Udayana Angin berhembus dari selatan menyibak rambutnya yang tergerai sebahu, senyum manisnya seakan tak pernah lepas dari bibir…