Ulasan Webinar Jelang Persiapan Kembali Ke Sekolah

0
15

MALANG – Ari Ambarwati, dosen Universitas Islam Malang (Unisma) dan Andia Kusuma Damayanti, Psikolog yang juga dosen Universitas Wisnuwardhana (Unidha) Malang, menyampaikan pemaparan dalam webinar ‘Manajemen Pengelolaan Stres dan Persiapan Kembali Ke Sekolah’ pada hari Minggu (29/11/2020).

Ambar menyampaikan bahwa sudah sembilan bulan pandemi Covid-19 berlangsung. Dan naga-naganya Covid belum berlalu. Sehingga masih dilakukan pembelajaran PJJ (Pembelajaran Jarak Jauh) yang ada plus minusnya.

Terkait keluarnya SKB empat menteri tentang panduan pembelajaran semester depan tahun ajaran 2020/2021, Ambar mengatakan diperlukan guru yang antisipatif. Misalkan nanti, kata dia, bagaimana jika tiba-tiba listrik mati sehingga berdampak ke wifi. Atau, bagaimana jika siswa tidak punya gawai, selain guru harus adaptif pada perangkat pembelajaran dan mitigatif.

Hal ini akan jadi bekal nanti jika sekolah akan tatap muka secara bergantian. Meski banyak check list yang harus dilakukan sekolah, lanjut dia.

“Pada masa ini, pola belajar siswa dan guru tidak lagi pada tempat dan waktu yang sama. Jam belajar pun lebih fleksibel,” ungkapnya.

Selain itu di masa ini, guru ditantang agar memutakhirkan pengetahuan untuk perangkat belajarnya dan melakukan reorientasi pembelajarannya.

Dikatakan, tak hanya siswa yang mengalami dampak PJJ. Tapi juga gurunya. Ia menyebut guru perlu menyesuaikan perangkat belajar, guru kesulitan mencapai target pembelajaran dan kesulitan mengontrol capaian belajar siswa.

Ini diketahuinya dari hasil survei pada guru, terutama pada guru Bahasa Indonesia.

“Maka guru juga tidak bisa melakukan semua sendiri tanpa support system dari sekitarnya,” terangnya.

Menurutnya, PJJ dengan daring tak hanya sulit bagi guru juga dosen di perguruan tinggi. Ada juga dosen yang tidak bisa mengikuti irama pembelajaran daring. Sehingga ditunjuk dosen muda untuk membantu mengunggah materinya ke mahasiswa. Namun ini juga membuat ada beban psikologi.

Agar guru tidak merasa kesulitan melewati ini, ia menyarankan antar guru bisa berbagi pengalaman baik. Sebab ada banyak guru mengalami itu.

“Selain itu, guru juga bisa meminta bantuan ke paguyupan orangtua untuk membantu pendampingan siswa,” jelasnya.

Sedang Andia Kusuma Damayanti, dosen Unidha mengawali presentasi dengan riset-riset yang dilakukan pihak lain terkait guru dalam pandemi ini.

Seperti guru saat bekerja dari rumah, penguasaan teknologi, penambahan biaya internet, jam kerja jadi tidak terbatas karena koordinasi dengan guru lain, ortu dan kasek.

Agar guru tak stres, maka kesehatan mental juga perlu diperhatikan.

“Pekerjaan jadi guru itu adalah pilihan. Karena ini yang dimaui, maka otomatis lebih enjoy dalam proses ini,” kata Andia.

Apalagi yang sudah berpengalaman lama. Ketika menghadapi angkatan yang “lemot” maka guru harus kreatif. Jika ada kendala, bisa berbagi ke guru lain untuk mengatasi itu.

“Memang kadang ada pelit ilmu dan tidak mau berbagi. Padahal jika dibagi, keilmuannya nanti akan bertambah,” jawabnya.

Selain itu juga harus berpikir positif dan realistis pada kegiatan sehingga jadi rileks.

Artikel ini sebelumnya sudah di tayangkan di SURYAMALANG.COM, disertai catatan redaksi bersama melawan corona dan mengajak seluruh pembaca untuk selalu menerapkan protokol kesehatan dalam setiap kegiatan. Ingat pesan ibu, 3M (Memakai masker, rajin mencuci tangan dan selalu menjaga jarak). (tim/red)