Pansus DPRD Sumatera Barat Telusuri Dugaan Penggunaan Anggaran Covid 19

0
47

SUMBAR – Pansus DPRD Sumatera Barat, tengah menelusuri dugaan penggunaan dana penanggulangan Covid 19 yang tidak sesuai aturan. Penelusuran tersebut dilakukan berdasarkan laporan hasil pemeriksaan (LHP) Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) RI.

Hal itu disampaikan Wakil Ketua Pansus DPRD Sumbar, Nofrizon saat melakukan pemanggilan terhadap 11 perusahaan penyedia alat kesehatan (Alkes) dan alat pelindung diri (APD), karena adanya indikasi dugaan penyimpangan dana Covid 19, Kamis (26/02/2021).

Nofrizon menjelaskan bahwa dari total perusahaan yang dipanggil hanya ada 10 perusahaan yang memenuhi panggilan Pansus DPRD. “Satu tidak bisa hadir karena alasan ada halangan lain,” kata Nofrizon kepada wartawan.

Dihadapan wartawan Nofrizon mengatakan, dari 11 perusahaan yang menjadi rekanan Pemda sebagai penyedia alkes, semuanya merupakan perusahaan lokal Sumatera Barat. Satu hal yang aneh menurut Nofrizon dalam pengadaan alat kesehatan ini, ada keterlibatan perusahaan batik sebagai pemasok handsanitizer.

Nofrizon mengatakan, Rp 4,9 miliar untuk pembelian handsanitizer. Berdasarkan LHP BPK, harga handsanitizer perbotolnya seharga Rp 9.000 dilipatgandakan nenjadi Rp 35.000 per botol. Kini Pansus Covid 19, sudah memanggil OPD terkait dan rekanan penyedia barang.

“Untuk pengadaan handsanitizer saja sudah Rp 4,9 miliar temuannya, itu baru yang diaudit BPK, belum lagi yang lain seperti thermogun, hazmat dan lainnya,” kata dia.

Dalam LHP Kepatuhan, BPK menyimpulkan beberapa hal. Diantaranya, ada indikasi penggelembungan harga pengadaan cairan pembersih tangan (hand sanitizer) dan transaksi pembayaran kepada penyedia barang dan jasa yang tidak sesuai dengan ketentuan dan berpotensi terjadi penyalahgunaan.

Dalam laporannya secara keseluruhan BPK mencatat ada temuan Rp 150 Miliar dari total anggaran yang dialokasikan untuk penanganan COVID yang mencapai Rp 490 Miliar. Dari jumlah tersebut, salah satunya Pansus mencurigai angka Rp 49 Miliar untuk pengadaan cairan pembersih tangan atau hand sanitizer.

“Ada Rp 49 Miliar yang dicurigai, itu untuk keperluan pengadaan Hand Sanitizer,” tambahnya. (tim)