Diduga Anggaran Covid Jadi “Bancaan” Warga Kemirisewu Luruk Balai Desa

0
41

PASURUAN – Warga Desa Kemirisewu Kecamatan Pandaan Kabupaten Pasuruan pada Rabu (07/04/21) ngluruk balai Desa untuk meminta klarifikasi terkait dugaan anggaran covid-19 yang diduga jadi “bancaan” oleh oknum Pemdes.

Warga ngluruk kantor Desa sendiri sebagai kelanjutan dari kasus carut-marutnya penggunaan anggaran dana desa 2020. Pada aksinya, warga juga meminta klarifikasi Pemdes terkait banyaknya kejanggalan pada anggaran covid-19.

“Kita itu ingin tahu siapa dalang dibalik carut marut di desa ini. Kita ingin tahu siapa otaknya. Banyak sekali pertanyaan tentang dana-dana besar yang mau diutarakan,” ujar salah satu warga yang enggan disebutkan namanya.

Warga tadi juga menyebutkan, data yang dimiliki oleh masyarakat menunjukkan ketidaksinkronan dengan yang tertulis di laporan anggaran desa.

“Ini memang baru dugaan, seperti 5 LPM tidak menerima apapun tapi disitu disinyalir ada pemalsuan data, ada tanda tangan dan ada nilai nominalnya. Termasuk juga dana untuk PKK, kesehatan, kebersihan, operasional kaur-kaur dan masih banyak lagi. Kita sudah cek realisasinya, fiktif,” sahut salah satu warga yang ikut aksi.

Namun dalam pertemuan itu, tak semua dapat dibahas. Pembahasan stagnan pada dana penanggulangan Covid-19.

Permasalahannya, warga menanyakan sisa dana anggaran Covid-19. Dalam laporan, tertulis realisasi belanja sebesar Rp 7 juta, padahal alokasi anggarannya adalah Rp 31 juta.

Masalah semakin runyam ketika pihak yang dimintai klarifikasi, yakni Kades Kemirisewu Muhammad Rifai dan Bendahara Desa Kemirisewu Yusuf, ternyata saling lempar tudingan.

“Sudah saya jelaskan. Sisanya saya berikan kepada Pak Kades,” kata Yusuf.

Kades pun berkomentar sebaliknya dengan Yusuf. Dihadapan warga, Muhammad Rifai menegaskan tak menerima apapun dari Yusuf.

“Saya tegaskan, saya tidak menerima seperti yang saudara Yusuf katakan,” tegasnya.

Dua pendapat yang berbeda ini sontak semakin membuat suasana mencekam dan panas, tuduhan serta celotehan mayoritas warga menuding Yusuf lah pelakunya.

“Kemana Suf, Yusuf sisanya dilarikan kemana, Dibagi atau dibuat untuk KARAOKE, coba jelaskan,” teriak warga.

Tak ingin suasana menjadi kian panas dan situasi tidak terkendali, Muspika Pandaan yang hadir langsung berusaha menenangkan warga, Kapolsek Pandaan, Kompol Marwan Ishery menjelaskan bila kondisinya deadlock, warga bisa melanjutkan melaporkan kepada pihak yang lebih berwenang.

“Kalau memang warga tak puas dengan jawaban Kades dan Bendahara yang saling lempar, Bapak-bapak bisa melaporkan kepada pihak berwenang, dalam hal ini Inspektorat Pemkab Pasuruan.”

“Nanti dari Inspektorat, temuan bisa diteruskan ke Kejaksaan atau Polres, kalau memang benar ditemukan penyelewengan,” papar Marwan.

Warga masih kurang puas dengan jawaban perwira dengan pangkat satu melati tersebut. Pasalnya, warga pernah dijanjikan akan ditemukan dengan Inspektorat, tapi sampai sebulan lamanya, janji itu meleset.

Sementara itu, Camat Pandaan Yudianto menyampaikan “Sudah saya komunikasikan dengan Inspektorat. Kalau besok dan lusa saya yang tidak bisa. Mungkin Jumat, sehabis salat Jumat,” ujar Camat bertubuh gempal tersebut. (Qomar)