Team Gabungan Lapas Mataram Dan Ditreskoba Polda NTB, Berhasil gagalkan Upaya Penyelundupan Narkoba Jenis Sabu

0
178

MATARAM — Beribu cara dilakukan para pelaku peredaran gelap narkoba. Jum’at(3/9) petugas Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Mataram menggagalkan penyelundupan sabu ke dalam penjara. Modusnya, pelaku menyembunyikan narkoba jenis sabu di dalam pentolan bakso.

Kalapas Mataram Ketut Akbar Herry Achjar menuturkan, bakso tersebut diantar seorang tukang ojek berinisial M, 36 tahun. Bakso itu dititip di bagian penjagaan untuk disampaikan ke salah seorang warga binaan berinisial HR. ”Setelah kita periksa, ternyata di dalam tiga pentolan bakso terdapat plastik klip yang isinya diduga sabu dengan berat 3 gram,” kata Akbar, kemarin.

Mengetahui bakso itu berisi benda yang diduga sabu, petugas jaga langsung mengejar sang tukang ojek. ”Petugas kami langsung mengamankan M,” jelasnya.

Wanita 67 Tahun dengan Wajah Bayi: Dia Lakukan Ini sebelum Tidur
Glolift
Kepada petugas, M mengaku tidak mengenal warga binaan yang diantarkan bakso tersebut. Dia mengaku hanya disuruh seseorang untuk mengantar ke Lapas Mataram. ”Dia mendapatkan upah Rp 30 ribu,” kata Akbar.

Atas temuan tersebut, Lapas Mataram langsung berkoordinasi dengan Ditresnarkoba Polda NTB. ”Sekarang kasus ini masih dikembangkan Polda NTB,” ujarnya.

Akbar mengatakan, pengawasan terhadap penitipan barang ke dalam Lapas Mataram terus diperketat. Itu untuk mengantisipasi adanya penyelundupan barang terlarang masuk ke dalam lapas. ”Kami tetap berupaya menciptakan Lapas Bersinar (Bersih dari Narkoba). Untuk menciptakan itu kita terus bergandengan tangan dengan seluruh stakeholder, kepolisian, TNI, BNN, dan lembaga lainnya,” tegasnya.

Panit 1 Unit 3 Subdit 1 Ditresnarkoba Polda NTB Iptu Hendry Christianto mengatakan, kasus tersebut masih terus dikembangkan. Sejauh ini, polisi telah mengamankan empat orang. “Tiga orang napi dan satu orang tukang ojek,” kata Hendry.

Dua napi lainnya diduga mengetahui adanya penyelundupan sabu tersebut. Mereka saling terkait dengan pengiriman paket makanan tersebut. ”Kita belum bisa sampaikan peran napi. Kita masih dalami perannya masing-masing,” jelasnya.

Sementara itu, tukang ojek berinisial M menuturkan, sebelum mengantar paket makanan ke Lapas Mataram, dia sedang duduk di pangkalan ojeknya. Tiba-tiba ada seseorang yang memanggilnya untuk mengantarkan makanan ke Lapas Mataram.

“Onek kan aku tokol lek pangkalan. Selung-selung arak dengan empohke. Eehh, te laiq atongan ke makanan nih (Tadi kan saya duduk di pangkalan. Tiba-tiba ada yang memanggil, eehh sini anterin saya makanan ini),” katanya dengan bahasa Sasak.

Untuk mengantar paket makanan tersebut, M menerima ongkos kirim Rp 30 ribu. Dia pun bersedia mengantar paket makanan tersebut. ”Sak empohke nu, endek ku kenal (Yang memanggil saya itu tidak saya kenal),” pungkas M. (DHW/robhin)