MALANG-Di sisi timur Kabupaten Malang tepatnya Kecamatan Tumpang, tersimpan wanawisata yang tersembunyi. Yakni Air terjun Coban Cinde. Terletak di Desa Benjor, memiliki dua air terjun yaitu dengan ketinggian tebing sekitar 50 meter dan 30 meter.
Aliran Coban Cinde berasal dari sungai utama yang memiliki debit air lebih besar. Air terjun ini letaknya di ujung belokan sungai, tak jauh dari air terjun pertama. Coban ini berhadapan dan tertutup rindangnya pepohonan serta diapit oleh dinding sungai.

Nama Cinde diambil dari bentuk air terjun yang mirip cinde atau selendang yang berkibar. Derasnya aliran air sungai yang jatuh ke bawah lalu diterpa hempasan angin, seakan seperti selendang berkibar tertiup angin.
Letaknya yang tersembunyi di pelosok hutan membuat coban ini cocok bagi siapa saja yang mencari ketenangan. Sunyinya suasana di sekitar air terjun akan membuat pengunjung betah berlama-lama. Untuk menuju tempat ini, bisa dengan kendaraan pribadi ataupun angkutan umum.
“Kalau dari Desa Benjor, jarak tempuh dengan jalan kaki untuk menuju ke Coban Cinde sekitar 2 kilometer,” ucap Munir, Kepala Desa Benjor.
Ia mengatakan, Coban Cinde menjadi salah satu dari banyak potensi wisata di Kecamatan Tumpang. Sebenarnya Coban Cinde sudah lama dimanfaatkan untuk wisata, namun sempat vakum dan tidak terkelola dengan baik. “Pengelolaan coban ini sejak tahun 80-an. Namun sempat vakum dan belum ada pengembangan maksimal,” ujarnya.
Dikatakannya, air terjun tersebut terletak di lahan perhutani. Di sekitar lokasi terdapat lahan yang dimanfaatkan warga untuk bercocok tanam. Dulunya Coban Cinde dikelola Pokdarwis. Tetapi setelah ada kejadian orang hanyut beberapa waktu lalu, akhirnya ditutup dan pengelolaan tidak maksimal alias vakum.
Sementara Sucipto, Kepala Lembaga Kemitraan Desa Pengelola Sumberdaya Hutan (LKDPH) di Desa Benjor menilai Coban Cinde masih perlu perhatian pemerintah. Utamanya pengelolaan dan promosi. Di sekitar lokasi air terjun, sungai dan ladang 12 hektar itu juga hanya ada sedikit warung makanan yang dikelola warga namun jarang dibuka. Hal itu karena pengunjung yang tak ramai.
“Warung ada tapi jarang jualan karena sepi pengunjung. Biasanya pengunjung lebih banyak berkemah, utamanya sabtu dan minggu. Tarif masuk untuk tiket sebenarnya hanya Rp 5.000,” Jelasnya. (Dhw/robhin)






