CIREBON – Salah seorang penjual kerupuk di Cirebon, Karsan (50), mengeluhkan penjualan kerupuk sangrai alias kerupuk melarat, mengalami penjualan hingga setahun belakangan.
Biasanya, setiap dua bulan setiap menjelang ramadhan pemintaan kerupuk pasir ini meningkat, sampai-sampai Karsan dan tiga orang karyawannya kewalahan berproduksi.
Namun yang terjadi dimusim libur panjang seperti pekan ini, tidak datang adanya kenaikan permintaan.
Bila biasanya ia bisa menjual 25 sampai 50 bal kerupuk matang seminggu, kini menurun jadi 15 bal saja perminggu.
“Nyari uang susah, pengeluaran banyak. Buat makan sehari hari saja ngos ngosan,” kata Karsan kepada media, Minggu (26/1/2025).
Karsan mencoba untuk tidak menyerah pada keadaan, ia berharap mudah-mudahan usahanya ini dapat bertahan.
Kerupuk melarat ini berbahan dasar tepung tapioka yang diberikan garam, cytrun serta bumbu penyedap lainnya.
Adonannya sesudah diuleni dijemur di matahari langsung. Kemudian, kerupuk yang sudah kering di sangrai menggunakan pasir panas. Kerupuk ini dianggap lebih sehat karena tidak digoreng menggunakan minyak seperti kerupuk lainnya.
“Saya membeli kerupuk ini buat oleh-oleh karena rasanya enak. Saya membeli Rp 300 ribu, memang kelihatannya sedikit tapi nanti dapat semobil katanya,” ungkap Wati, pembeli kerupuk sangrai.
Sebelumnya, harga jual krupuk dibandrol dengan harga Rp5.000 ribu untuk kerupuk berbentuk di kemasan kecil dan Rp8.000 ribu untuk kemasan besar. Namun dirinya masih optimistis permintaan pembelian kerupuk bisa kembali seperti sebelumnya.
Untuk diketahui, kerupuk melarat ini berasal dari Cirebon, Jawa Barat. Kerupuk ini merupakan makanan tradisional Cirebon yang memiliki nilai historis. Kini menjadi Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) Indonesia pada tahun 2023. (red).
