
Plt Ketua APTR berharap maraknya Peredaran GKR di Kabupaten Lumajang segera Teratasi
Lumajang, Gempur News.
– Pelaksana Tugas (Plt) Ketua Asosiasi Petani Tebu Rakyat (APTR) Kabupaten Lumajang, menyuarakan keprihatinannya terkait maraknya peredaran Gula Kristal Rafinasi (GKR) di wilayah Lumajang dalam skala besar. Menurutnya, kondisi ini sangat merugikan petani tebu lokal dan mengancam keberlangsungan industri gula berbasis rakyat.
Menanggapi berita terkait beredarnya GKR berskala besar di wilayah Lumajang, yang diduga menjadi dampak pada petani tebu dan petani gula merah kelapa serta diduga limbahnya berdampak pada persawahan. Dalam keterangannya kepada awak media, Plt Ketua APTR kabupaten Lumajang, Edi Sudarsono ST, menyebut bahwa GKR yang seharusnya hanya digunakan untuk kebutuhan industri makanan dan minuman kini mengancam harga gula lokal dari petani tertekan dan sulit bersaing.
Dirinya menyayangkan peredaran gula rafinasi yang tidak sesuai peruntukannya, ini jelas merugikan petani tebu yang sudah bersusah payah menanam dan memanen, tapi hasil panennya tidak laku dengan harga layak. “Memang dampak dari gula Rafinasi ke petani tebu khususnya, itu sangat berdampak juga dengan lemahnya penyerapan gula petani ke konsumen. Karena kemungkinan besar harga gula Rafinasi atau yang sejenisnya itu di pasaran dijual dibawah harga gula kristal lokal, jadi penyerapan gula petani lokal sangat terhambat sekali. Sehingga gula petani sampai saat ini menumpuk hampir 1 bulan lebih, tidak ada pedagang besar maupun menengah membeli di HPP sebesar Rp 14.500”, ujar Edi Sudarsono.
“Kepada pemerintah kami berterimakasih sekali yang sudah mau menyerap gula petani sebesar Rp 14.500, yang dananya diambilkan dari dana Danantara. Memang kita harus bersabar, karena dana kalau dari pemerintah itu prosesnya agak lama. Dan perlu sabar, sedangkan dari pihak petani setiap harinya membutuhkan biaya operasional berupa tebang muat angkut. Jadi kami selaku Plt ketua APTR PG Jatiroto mengharapkan rembesan-rembesan gula Rafinasi itu agar segera hilang atau tidak ada dahulu, karena stok jumlah gula nasional kita itu untuk saat ini masih panen raya”, ungkapnya, Selasa (29/07/2025).
Dikatakan Edi Sudarsono, bahwa saat ini stok gula masih banyak, terutama di gudang-gudang PG milik petani. “Jadi intinya kami mengharapkan kerjasama yang baik, pada waktu panen raya tebu agar semua gula Rafinasi atau sejenisnya tidak beredar. Sehingga penyerapan gula lokal terserap di konsumen dengan baik. Kalau tidak diperhatikan itu nanti dampaknya gula natura yang 10% atau 5% itu juga tidak laku Rp 14.500 di pedagang. Ini yang menjadi problem kita saat ini adalah masih di problem penyerapan gula, sesuai HPP atau HAP sebesar Rp 14.500. Sedangkan perluasan tebu kita baik wilayah Lumajang atau lainnya sudah signifikan sekali, sudah semakin banyak petani memperluas lahan tebunya”, pungkasnya.
Harapannya dampak dari gula Rafinasi diperhatikan, dengan tidak terjualnya gula petani di harga HPP Rp 14.500. Di tahun 2025 lahan tebu petani semakin banyak, semakin luas, pihak terkait juga mengusulkan agar kapasitas giling di semua PG-PG yang ada khususnya di Jawa Timur dinaikkan sedikit demi sedikit agar tidak terjadi penumpukan antrian yang ada di PG masing-masing. ( Jo/BB).









