Menjelang proses dimulai masa giling tebu tahun 2026 di PT. Sinergi Gula Nusantara (SGN) Pabrik Gula (PG) Djatiroto di Kabupaten Lumajang Jawa Timur berbagai tahapan di lakukan tidak hanya prosesi petik tebu manten, namun ada sederetan tahapan yang dilakukan seperti perbaikan mesin dan pemanasan di bagian pengelolaan proses pemasakan air tebu yang merupakan bagian penting.
Dalam masa giling yang segera dimulai dengan adanya perbaikan dan perawatan pada mesin-mesin yang dilakukan dapat menunjang kelancaran. Selain alat penggiling dari proses awal sampai akhir, dan juga personil yang ada dapat melakukan tugas yang diemban dengan baik sehingga pendapatan gula peroleh lebih banyak dari tahun sebelumnya.
Selain itu pihak manajemen sebelumnya pada hari Senin 04 Mei 2026 mengundang perwakilan petani tebu dalam agenda Forum Temu Kemitraan (FTK), organisasi petani tebu mitra dari perbankan dan Dinas Perkebunan Kabupaten Lumajang bertempat di gedung GSW di PG Djatiroto yang bertujuan untuk memadukan persepsi masukan untuk langkah proses kemitraan dengan petani.
Kegiatan yang di hadiri Plt. General Manager PG. Djatiroto Agus Amanda, Dinas Perkebunan Kabupaten Lumajang yang di wakili oleh Mamik serta dari kelompok organisasi petani tebu dari Asosiasi Petani Tebu Rakyat Indonesia (APTRI) Lumajang Didik Purwanto selalu ketua dan Asosiasi Petani Tebu Rakyat (APTRI) Edi Darsono selaku Plt. Ketua.
Dalam momentum tersebut Plt. PG. Djatiroto Agus Amanda menyampaikan masa giling yang segera dilakukan pada tanggal 09 Meri 2026 diharapkan awal giling tebu yang dipasok untuk masak awal petani sudah menyiapkan, serta tugas perwakilan petani yang memantau redemen dapat memberikan informasi yang akurat dan juga pasokan diharapkan benar-benar memenuhi kriteria yaitu tebu bersih segar sehingga dapat meningkatkan pendapatan serta mendukung terwujudnya swasembada pangan nasional berupa gula.
“Diharapkan dengan dimulainya proses giling petani mitra PG Djatiroto memahami kreteria pasokan tebu yang dikirim berkualitas agar bisa menjadi nilai tambah ekonomi petani,” saran Agus Amanda kepada undangan.
Hal yang sama juga disampaikan Ketua APTRI Lumajang Haji Didik Purwanto agar PG Djatiroto lebih selektif menerima pasokan tebu dengan demikian untuk meningkatkan pendapatan petani. Maka dari itu perlunya petani mendapatkan pembinaan dalam meningkatkan hasil tanam yang diharapkan PG.
“Saya berharap tebu yang masuk ke PG yang baik agar perolehan redemen baik dan yang harus dilakukan pihak PG dengan kemitraan itu melakukan pembinaan cara budidaya taman tebu agar menghasilkan tebu yang baik dan berkualitas,” ucap pria yang akrab disapa bang haji Didik.
Sementara itu dari Dinas Perkebunan Kabupaten Lumajang menyampaikan di tahun 2026 ini ada program bongkar ratun dengan target 3.500 hektar dan pemohon akan mendapatkan bibit sebanyak 60.000 mata tunas per hektar dan uang kelola lahan Rp 4.000.000 dengan demikian agar kesempatan tersebut disambut baik oleh petani untuk meningkatkan hasil panennya.
“Tahun ini kita dapat jatah 3.500 hektar untuk program bongkar ratun dengan bantuan per hektar 60.000 mata tunas dan uang Rp 4.000.000 dengan progam tersebut diharapkan menjadi kabar baik bagi petani untuk meningkatkan hasil panennya,” kata Mamik kepada hadirin undangan. (Efendi)

