Home / Jawa Timur / Asap Mengepul, Doa Mengalir: Bekal untuk Leluhur di Hong San Ko Tee

Asap Mengepul, Doa Mengalir: Bekal untuk Leluhur di Hong San Ko Tee

SURABAYA – Asap mengepul, dupa menyala, dan sorak doa menggema. Kamis malam, 27 Agustus 2026, di halaman Tempat Ibadah Tri Dharma Hong San Ko Tee Surabaya, umat berkumpul. Mereka menyusun miniatur rumah, pakaian, hingga alat transportasi ke dalam perut sebuah kapal kayu berukuran besar. Lalu membakarnya.

Ritual Sembahyang Rebutan ini sederhana tapi syarat makna: mengantar bekal untuk leluhur, sekaligus menjaga tradisi agar tak lekang oleh waktu.

Sejak sore, halaman kelenteng sudah ramai. Umat Tri Dharma datang membawa kantong-kantong berisi persembahan. Ada replika rumah bertingkat dari kertas warna emas. Ada koper, sepeda motor, baju, uang kertas sembahyang, bahkan perabot rumah tangga mini.

Satu per satu benda itu dimasukkan ke dalam badan kapal. Kapal itu bukan untuk berlayar di laut. Ia akan “berlayar” lewat api, menuju alam arwah.

“Ini bekal. Biar di sana leluhur kita nggak kekurangan apa-apa,” ujar Tan Mei Ling, 52, warga yang sudah 3 generasi ikut ritual ini. Tangannya sibuk menata miniatur di sudut kapal.

Prosesi dimulai tepat setelah Magrib. Pemimpin ritual membacakan doa dalam bahasa Mandarin dan Hokkian. Dupa setinggi satu meter dinyalakan. Wanginya bercampur dengan bau kertas dan kayu.

Puncaknya saat obor disulutkan ke badan kapal. Api cepat menjalar. Dalam 10 menit, kapal dan seluruh isinya berubah jadi bara dan abu.

Bagi sebagian orang luar, ini terlihat seperti membakar barang. Tapi bagi umat, ini adalah cara mengirim. Api dipercaya sebagai perantara. Apa yang terbakar di dunia, akan diterima di dunia arwah.

“Kalau nggak dibakar, nggak nyampe. Ini keyakinan kami turun-temurun,” kata Hendra, pengurus TITD Hong San Ko Tee.

Anak-anak kecil berdiri di barisan paling depan. Mata mereka menatap kobaran api tanpa takut. Bagi mereka, ini sudah jadi bagian dari perayaan tahunan. Ada yang sambil memegang jajan, ada yang ikut melambaikan dupa.

Hong San Ko Tee adalah salah satu kelenteng tertua di Surabaya. Setiap tahun saat bulan tujuh penanggalan Imlek, ritual Sembahyang Rebutan selalu digelar di sini.

Tujuannya dua: menghormati arwah leluhur dan “saudara tak kasatmata”, serta memastikan tradisi tidak putus.

“Zaman sekarang serba cepat. Tapi malam ini kami berhenti sejenak. Ingat dari mana kami berasal,” kata Hendra lagi.

Warga sekitar yang bukan umat Tri Dharma juga banyak yang datang. Mereka berdiri di balik pagar, merekam, lalu pulang membawa cerita. Api itu jadi tontonan, tapi juga jadi pengingat.

Sekitar pukul 21.00, api padam. Yang tersisa hanya tumpukan abu putih dan sisa dupa. Doa dianggap sudah terkirim.

Malam itu, di tengah suara kota yang tak pernah tidur, Surabaya sempat hening. Hanya ada asap, doa, dan sebuah kapal yang terbakar untuk mengantar rindu. (red)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Berita Terbaru


Kategori Berita