LUMAJANG – Pagi belum terang, suara mesin pompa diesel sudah meraung di lereng Gunung Semeru, Desa Burno, Kecamatan Senduro. Bukan berisik. Bagi Sukardi, 47, itu suara harapan.
“Kalau pompa mati sehari, daun tomat langsung layu. Harga di pasar naik, tapi kebun kita bisa mati duluan,” katanya sambil menarik selang sepanjang 200 meter dari mata air yang debitnya kian kecil.
Musim kemarau 2026 memang beda. Bukan hama yang paling ditakuti petani hortikultura di Lumajang, tapi keran langit yang seret.
Ketua DPC HKTI Kabupaten Lumajang, Jamaluddin, menyebut kemarau kali ini memukul di satu titik: air.
“Masalah utama bukan ulat. Tapi air. Kalau telat air, tomat, cabai, kentang itu pertumbuhannya ngaret. Yang biasanya 9 bulan panen, ini bisa 10 bulan,” ujar Jamaluddin, Rabu (2/9/2026).
Akibatnya sederhana tapi pahit. Produksi bisa turun 10-20 persen. Sementara biaya naik. Solar untuk pompa, upah narik air, beli mulsa untuk menahan kelembaban.
“Bagi petani, nunggu 1 bulan lebih lama itu artinya nunggu 1 bulan lebih lama juga buat dapat uang. Sementara kebutuhan dapur jalan terus,” lanjutnya.
Agar tanaman tidak mati, petani di dataran tinggi dan pegunungan Lumajang mulai “berakrobat”.
Langkah paling umum: pompa. Ketika sumber utama di sungai kecil surut, mereka menyedot dari mata air sisa atau sumur dalam. Biayanya tidak murah, tapi tidak ada pilihan lain.
Ada juga yang berburu sumber air alternatif. Menampung embun dengan plastik, membuat tandon dari terpal, hingga bergiliran dengan tetangga untuk memakai satu sumber air.
“Yang punya lahan di bawah masih enak. Kami yang di atas, airnya harus dilawan pakai mesin,” ucap Sukardi.
Sebagian petani juga mulai geser varietas. Dari yang rakus air ke yang lebih tahan kering. Dari cabai keriting ke cabai rawit. Dari kentang ke wortel. Semua demi satu tujuan: tanaman tetap hidup sampai panen.
Dampaknya tidak berhenti di kebun. Kalau pasokan hortikultura dari Lumajang seret, harga di pasar Lumajang, Jember, bahkan Surabaya bisa ikut terdongkrak.
“Kalau kami gagal panen, yang repot bukan cuma kami. Ibu-ibu di pasar juga bingung cari barang. Rantai ekonominya panjang,” kata Jamaluddin.
Karena itu ia menekankan, adaptasi harus dimulai sebelum kemarau datang. Bukan saat sumur sudah tinggal lumpur.
“Pengaturan air harus jadi budaya. Bikin embung kecil, tandon, pilih varietas tepat. Petani harus siap duluan, jangan nunggu kering baru panik,” tegasnya.
Di tengah terik, Sukardi mematikan pompanya. Air yang keluar tinggal setetes demi setetes.
“Ya begini nasib kita. Bertaruh sama cuaca. Tapi mau bagaimana lagi, ini satu-satunya kerjaan,” katanya pelan.
Cerita seperti Sukardi ada di hampir setiap lereng Lumajang. Tidak glamor, tidak viral. Hanya suara pompa, selang yang ditarik, dan doa agar hujan cepat turun.
Karena bagi mereka, menjaga satu batang cabai tetap hidup di musim kemarau, sama artinya dengan menjaga satu keluarga tetap bisa makan. (tim)
















